
"Nanti aku akan menjemputmu" ucap Al sebelum Zifa masuk ke kantor Hendrawan grup.
Dikantor Al
"Bagaimana bos?" Tanya asisten sekaligus sahabat Al ambigu.
"Bagaimana apanya?"
"Ya hubunganmu dengan istrimu"
"Ya seperti itu" Al menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.
"Seperti itu bagaimana?" Asisten itu kepo.
"Rio, sudahlah jangan mencampuri urusanku" Al mengingatkan.
" Baiklah, aku akan diam"
Heninggg
"Tapi ngomong ngomong apa malam itu kau benar benar menyentuhnya?"
"Rioo" Al menekankan kata katanya.
"Ups, maaf aku salah bicara. Baiklah kalau begitu aku pergi dulu" asisten Rio segera melarikan diri sebelum mendapat amukan dari Al.
Sore harinya Al menjemput istrinya di kantor Hendrawan grup.
"Maaf aku sedikit terlambat" Al membukakan pintu untuk istrinya.
Sepanjang perjalanan hanya hening yang menemani perjalanan pulang mereka.
Al beberapa kali melirik sang istri yang fokus dengan ponselnya.
Sesampainya dirumah Zifa langsung masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya.
__ADS_1
Malam hari,,
Seperti biasanya Zifa sedang duduk di depan meja rias bersiap akan menggunakan krim malamnya.
"Sayang" Al memeluk gadis itu dari belakang.
"Lepaskan tangan kotormu itu" bentak Zifa.
"Tidak, aku ingin menagih yang kemarin"
"Tidak, aku sedang malas" cuek Zifa.
"Sayang, ayolah. Bagimana anak kita akan jadi kalau prosesnya ditunda tunda terus?"
"Terserah"
"Ayolah, ya ya. Sebentar saja" tawar Al.
Pria itu langsung membalik tubuh sang istri dan menciumnya dengan lembut.
Tangan Al semakin tak terkendali menyentuh bagian bagian lain ditubuh gadis itu yang membuat tubuh Zifa meremang.
Tak terasa mereka kini sama sama polos. Al sudah bersiap menyatukan dirinya dengan sang istri.
"Mungkin ini sedikit menyakitkan, berteriaklah tidak apa apa. Kamar ini kedap suara"
"Arghhh Sakit Al,, lepasss" gadis itu meronta ronta dibawah kungkungan Al.
Al sengaja mendiamkannya sejenak agar istri kecilnya itu bisa beradaptasi.
"Sudah mendingan?" Tanya Al menatap gadis yang berada dibawah kungkungannya.
Zifa mengangguk pelan
Al mulai melanjutkan aksinya hingga mereka berdua sama sama puas.
__ADS_1
"Menyingkirlah dari ranjang ini" usir Zifa setelah ia berhasil mengatur nafasnya.
"Tapi kenap..."
"Sudah kubilang pergi ya pergi" bentak Zifa.
Al beranjak dari ranjang itu dan segera memunguti pakaiannya.
Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Beberapa menit kemudian Al sudah kembali segar, ia langsung merebahkan tubuhnya disofa.
Untung saja sofa kamarnya lumayan panjang dan luas jadi badannya tak terlalu sakit.
Pagi hari,,
"Brensekk kau Al" teriak Zifa menggelegar membuat Al membuka matanya.
Ia melihat istrinya berjalan tertatih tatih sambil memegangi selimut yang membalut tubuhnya.
Al langsung menggendong istrinya dan membawanya ke kamar mandi.
"Turunkan aku dasar brensekk"
Al tak menggubris umpatan kasar istrinya dan segera membawa sang istri ke kamar mandi.
20 menit kemudian Zifa keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan menahan nyeri di area intinya.
Matanya mengobarkan amarah saat melihat bercak darah di sprei ranjangnya.
Matanya menatap tajam pintu kamar mandi yang tertutup yang didalamnya ada suaminya.
Zifa langsung membereskan sprai ranjang itu dan menggantinya dengan yang baru.
Al kaget saat baru keluar dari kamar mandi namun sudah disambut dengan bantal guling yang melayang ke tubuhnya.
__ADS_1
"Kau telah menipuku brensek" bentak Zifa.