
"oh astaga, kau itu sudah dewasa tapi masih saja seperti anak anak. masak iya makan harus diingetin" kesal Zifa.
ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
"sayang, kamu mau kemana?" tanya Al.
"sudah duduk diam disitu" kesal Zifa lalu melanjutkan langkahnya.
tujuannya kini dapur, ia mengambilkan sepiring nasi untuk suaminya lalu segera kembali kedalam kamar.
"ini makan dulu" Zifa menyerahkan piring itu.
"tapi aku sedang malas makan malam" keluh Al.
"oh astagaa,,," Zifa menahan emosinya.
ia menyendokan nasi itu dan menyodorkannya didepan mulut suminya.
"ayo buka mulutmu!" titah Zifa.
"sayang, tapi aku..." ucapan Al terhenti saat sesendok makanan berhasil memasuki mulutnya.
"diam dan makanlah!" titah Zifa.
Pagi harinya,
Diruang kerja Al
"Bos, nyonya Sarah me Reschedule pembukaan usaha barunya karna kemarin anda tidak datang. Malam nanti dia memintamu datang ke acara nya"
Al memijat pelipisnya yang terasa pening
"Baiklah, nanti malam aku kesana"
Sore hari,
Seperti biasa Al pulang bersama sang istri tercinta.
"Sayang, malam nanti ada acara pembukaan usaha Sarah yang baru dan aku diundang datang. Kau mau ikut?" Tawar Al.
__ADS_1
"Boleh"
Malam hari,,
Al memasuki sebuah ruangan yang sudah dihadiri beberapa orang penting sambil menggandeng tangan istrinya.
Namun tiba tiba Zifa melepaskan tangannya saat melihat seseorang yang begitu ia kenali.
"Bayu" gumam Zifa lirih.
Ia berjalan menjauh dari suaminya lalu menyapa teman laki lakinya itu.
"Bayu, kau disini juga?"
"Oh hai sayang, kau disini juga?"
"Iya, pemilik usaha ini sepupuku"
"Suamimu tidak ikut?"
"Ada, tapi entahlah dia tadi kemana" jawab Zifa santai padahal Al menatapnya dengan nanar dari kejauhan.
Ketika acara selesai, Zifa mencari suaminya.
"Al" Zifa menepuk punggung suaminya.
"Ah iya, kau ingin pulang?" Al mencoba bersikap biasa saja.
"Iya, aku sudah mengantuk"
Dimobil,
"Beberapa minggu lagi aku ada kerjaan diluar negeri selama hampir seminggu. Kau tidak apa apa kan aku tinggal?" Tanya Al.
"Tidak apa apa"
Beberapa hari beberapa minggu kemudian,,
Usia kandungan Zifa sudah memasuki minggu ke 20. Perutnya sudah membuncit sempurna.
__ADS_1
Wajah Zifa semakin cerah memancarkan pesonanya.
"Sayang, kemarilah" pinta Al menepuk bagian sofa yang kosong disampingnya.
"Kenapa?" Tanya Zifa sembari duduk disamping suaminya.
"Tidak apa, aku hanya ingin memeluk istriku sebelum aku tinggal keluar negeri"
"Kau hanya pergi satu minggu. Kenapa jadi lebay begini?"
"Bukan lebay yang, ini namanya cinta. Untuk berpisah darimu dan anak kita aja udah berat buat aku"
"Udah packing?"
"Udah"
"Oh"
"Kamu sehat sehat ya selama aku tinggal" Al mengacak rambut istrinya.
"Ish kau itu suka sekali merusak rambutku" kesal Zifa.
"Selama aku tinggal kamu nggak boleh keluar rumah dengan alasan apapun, okey"
"Hmm"
"Anak dady sehat sehat ya jangan rewel. Dady harus ke luar negeri sampai satu minggu kedepan. Jangan buat susah momy mu. Okey" Al mengusap lalu menciumi perut istrinya itu.
"Dia aktif sekali" ucap Al saat merasakan gerakan dari calon anaknya itu.
Al pun berdiri lalu segera mengambil kopernya.
"Ya udah aku berangkat dulu, kamu baik baik dirumah ya" Al mengusap pipi istrinya itu.
"Hmm iya"
"Beri aku ciuman dulu" pinta Al.
jangan lupa Like dan Komen sebanyak banyaknyaaa
__ADS_1