
Al membalikan badannya dan menatap wajah istrinya yang sudah berderaian air mata.
Zifa turun dari ranjang itu dan segera memeluk suaminya menumpahkan tangisnya.
Entah tangis haru atapun sedih, Zifa tak bisa membedakannya. Yang ia tau saat ini hatinya serasa membuncah. Hatinya terasa lebih lega setelah mengucapkan segalanya.
"Jangan menangis seperti ini. Kau pantas mendapatkan kebahagiaan yang besar. Jika memang melepasnya membuatmu dalam kesulitan, aku tidak apa apa. Jangan pikirkan aku. Pikirkan kebahagiaanmu, dengan kau bahagia aku pasti ikut berbahagia untukmu" Al mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Al..." Zifa tak mampu berkata kata. Air matanya seakan menggambarkan betapa bersyukurnya dia mendapat lelaki seperti Al.
"Sudah, jangan menangis seperti ini. Lebih baik kau beristirahat" Al melepaskan pelukan itu lalu mengusap air mata istrinya.
Air mata Zifa bertambah deras saat melihat perlakuan lembut Al padanya.
"Hei, kenapa malah tambah menangis?" Al heran dengan istrinya.
Zifa kembali menubrukan badannya ke tubuh suaminya itu.
"Sudah, sudah" Al mengusap punggung istrinya yang bergetar.
Beberapa menit kemudian Zifa sudah mulai tenang.
Al melepaskan pelukannya
"Sudah puas menangisnya?" Goda Al.
"Al, jangan seperti itu" Zifa malu namun matanya masih terlihat verkaca kaca.
__ADS_1
"Atau mau menangis lagi? Biar ku ambilkan wadah untuk menampung air matamu" ledek Al membuat Zifa kesal.
"Aduhh, sakit yang" keluh Al saat istrinya sengaja mencubit pinggangnya.
"Biarin" ketus Zifa.
"Ya gimana, ini loh kaus ku sampe basah semua gini. Tau gitu kan tadi dibawain baskom biar airnya bisa buat nyiram tanaman" goda Al.
"Al, ih.." Zifa mulai kesal lalu kembali keranjang dan membaringkan tubuhnya.
"Atutu,, ayangku marah" Al menyusul istrinya lalu memeluk tubuh itu.
"Tau ah"
"Sayang, jangan marah dong. Kan aku cuma bercanda" Al membujuk istrinya.
"Hmm"
"Udah ya marahnya kan cuma bercanda"
"Iya"
"Beneran udahan ya marahnya?" Al memastikan.
"Iyaaa"
"Ya udah buruan istirahat kamu pasti capek bawa anak kita" Al mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Pagi harinya,
Zifa lebih dulu terbangun dari suaminya.
Ia mengusap rahang kokoh suaminya yang masih terlelap itu.
"Makasih sudah memperjuangkanku sejauh ini"
Zifa segera bangun dari pembaringannya dan langsung mandi.
Beberapa saat kemudian Zifa keluar dari kamar mandi dalam keadaan yang sudah segar.
"Sayang, kamu kok nggak bangunin aku sih?" Tanya Al yang baru saja duduk bersandar diranjang.
"Kelihatannya kau sangat lelah tadi. Jadi aku tidak tega membangunkanmu"
"Oh, begitu" Al beranjak dari ranjang lalu segera membersihkan dirinya dikamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi Al dikagetkan dengan bajunya yang sudah disiapkan sang istri. Sedangkan Zifa sedang berdiri dibalkon kamar.
"Sayang, kau menyiapkan bajuku?" Tanya Al sambil memeluk istrinya dari belakang.
"Al lepas, kau belum pakai baju kan? Apa nggak malu kalo ada orang lain melihatmu telan**ng begini?" Kesal Zifa.
"Kenapa malu? Aku masih pake handuk. Lagi pula lihatlah dada dan perutku berbentuk bagus. Jadi harusnya bangga bukan malu" elak Al.
"Ish, tetap saja kau belum memakai baju, cepat pakai bajumu" Zifa mendorong suaminya agar masuk kedalam kamar.
__ADS_1
"Kau cemburu ya kalau badanku dilihat orang lain" goda Al.
jangan lupa Like dan Komen guyss