Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Kok Pucat?


__ADS_3

"Ya udah deh nggak papa" Zifa pasrah.


"Kamu pengen beli apa?"


"Aku pengen makan aja"


"Kamu nggak pengen tas?" Tawar Al.


"Enggak ah"


"Terus apa? Selain makanan"


"Baju aja deh. Udah banyak yang nggak muat"


"Ya udah kita beli baju"


Al membawa Zifa ke toko pakaian yang sudah dikenal banyak orang dengan harga yang mahal.


Setelah puas berkeliling, saatnya Zifa dan Al pulang.


Dikamar,


Al masih setia mengusap perut buncit istrinya itu.


"Anak dady udah gede banget sih"


"Iya dong dad" Zifa menirukan suara anak kecil.


"Apa selama aku tinggal dia nyusahin kamu?"


"Enggak, malah anteng. Jarang laper malem malem. Kalo nendang juga nggak keras banget"


"Anak dady pinter banget sih" Al mengecupi perut buncit istrinya.


"Besok aku mau langsung kerja. Jadi nanti pas aku pulang kerja aku jemput kamu kesini, kita pulang kerumah"


"Iyaa, oh ya aku belum check kandungan lagi"


"Oh ya?"

__ADS_1


"Iya, terakhir ya pas aku masuk rumah sakit kemarin" jawab Zifa jujur.


"Oh ya ampun sayang, berarti udah satu bulan kamu nggak check kandungan?"


"Iya, soalnya aku nggak mau kalau nggak ada kamu"


"Ya udah, kalau gitu besok kita check up kandungan kamu"


"Aku aja nanti pas jam makan siang nyamperin kamu ke kantor. Daripada kamu bolak balik kesini"


"Ya udah terserah kamu, asalkan diantar sopir" Al mengusap puncak kepala sang istri.


"Al, emang kamu nggak mau check anak kita?" Tanya Zifa malu malu.


"Check gimana? Ya mana bisa. Kan aku pemilik perusahaan bukan dokter" Al tersenyum penuh arti.


"Al, jangan sok nggak tau deh"


"Emang kamu nggak kangen sama aku?" Zifa mengusap pipi suaminya itu.


"Kan ini udah ketemu, jadi kangennya udah diobati"


"Ya udah deh nggak jadi"


"Siapa sih yang enggak kangen sama kamu. Kangen banget malahan"


Tangan Al mulai meraba sumber makanan untuk calon anaknya nanti.


"Gini kan maksudmu?" Al meremas benda itu.


"Iya, kayak gitu" Zifa mengangguk semangat.


"Baru aku tinggal sebulan kamu udah mulai nakal gini" Al mencubit pelan hidung istrinya.


"All, kok berhenti sihh" Zifa mulai kesal.


"Oke oke, sesuai permintaan kamu my queen" Al mengecup singkat bibir istrinya.


Merekapun mulai melakukannya

__ADS_1


Tengah malam,


Al terbangun saat merasakan kepalanya berdenyut nyeri.


Al segera memakai pakaiannya lalu berjalan menuju kamar mandi.


Ia membasuh wajahnya yang sudah nampak pucat.


Al mengerang kesakitan dengan suara tertahan. Ia segera mengambil obatnya yang ia sembunyikan disebuah tempat rahasia didalam kamar mandi itu.


Al duduk berselanjar lemas di lantai kamar mandi itu.


Ia meraba hidungnya


"Oh astaga aku mimisan lagi" gumam Al.


Beberapa saat kemudian pusing Al sudah mulai reda.


"Al.." suara sang istri yang sedang mencarinya.


"Iya sayang, sebentar" Al segera membasuh wajahnya dan memastikan sudah tidak ada darah di hidungnya.


Ceklekk


Al membuka pintu kamar mandi itu yang menampakan istrinya sedang bersandar.


"Sayang, kok malah bangun sih"


"Nyariin kamu"


"Kok wajah kamu pucet sih Al?" Tanya Zifa heran.


"Hah? Pucet gimana? Enggak kok" Al meraba wajahnya.


"Beneran?"


"Iya sayang, mungkin cuma efek bangun tidur" Al beralasan.


"Ya udah kalau gitu"

__ADS_1


"Ya udah lanjut tidur gih, sekalian pake baju" Al memunguti pakaian sang istri.


Zifa pun memakai pakaiannya lalu melanjutkan tidurnya.


__ADS_2