Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Semakin Kurus


__ADS_3

"Uluh uluh, anak dady ganteng banget sih" Al mencium gemas putranya itu.


Tanpa menunggu lama, Zifa langsung tertidur saat anaknya digendong suaminya.


"Momy mu pasti kelelahan" gumamnya pelan pada sang putra.


"My son, kamu tahu.. kamu adalah anugerah yang tuhan kirimkan untuk momy dan dady. Tanpa kehadiranmu mungkin momy dan dady tidak akan ada dititik ini. Dan setelah ini, tugasmu yaitu selalu memberi momy kebahagiaan" Al menghela napasnya dalam seakan merasa sesak menghimpit dadanya saat mengucapkan kalimat itu.


"Dady bersyukur diberi kesempatan untuk melihatmu lahir didunia yang kejam ini. Pesan dady, buat momy mu selalu tersenyum saat menatap bintang dilangit. Suatu hari jika dady tidak ada, katakan padanya bahwa dady ada diantara bintang untuk sekedar menatap kebahagiaan kalian"


Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya keluar juga bersamaan dengan darah yang mengucur dari hidung Al.


Al langsung meletakan sang putra diranjang khusus bayi.


Ia langsung ke kamar mandi untuk membasuh hidungnya.


Beberapa saat kemudian, Al kembali.


Putranya itu sedikit merengek karna merasa risih karna baju yang dikenakannya basah akibat ngompol dan juga air mata dan darah Al yang bercampur menjadi satu.


Dengan sigap Al mengganti baju putranya itu lalu membuang baju itu ke tong sampah.


Setelah selesai, Al menidurkan putranya itu.


Al berjalan menuju balkon kamarnya.


Ia menatap bulan dan bintang yang seolah melambai kearahnya.


"Terkadang tuhan memang tidak adil. Dengan mudahnya ia akan menarik kebahagiaanku yang baru secuil ini" Al tersenyum miris.


Drttt


Ponsel Al yang berada disaku berdering


Ternyata penelpon merupakan dokter yang menangani Al di indonesia.


"Tuan Al, anda sudah melewatkan jadwal kemoterapi anda" ucap dokter itu dari seberang.


"Maaf dok, kamarin istriku melahirkan. Dan mungkin untuk beberapa hari kedepan aku sibuk mempersiapkan syukuran untuk putraku" Al menjelaskan.


Dokter itu terdengar mendesahkan napasnya mendengar penjelasan Al.


"Tuan Al, bukankah anda sudah tau betapa pentingnya prosedur ini untuk kelanjutan pengobatan anda? Saya tidak menjamin kedepannya akan membaik jika anda terus seperti ini"


"Maafkan saya dok, tapi saya ingin menjadwalkan ulang untuk kemoterapinya karna saat ini saya benar benar tidak bisa" pinta Al memohon.


"Baiklah nanti saya kabari lagi"


"Baik dok, terimakasih bantuannya"


Tutt


Panggilan diakhiri


Pagi hari, hari ini semua keluarga terlihat sibuk mempersiapkan acara syukuran kelahiran putra pertama Al.


Al mengundang seorang desainer langganan keluarganya untuk membawakan beberapa baju couple untuknya dan istrinya.


Nampak Zifa masih sibuk memilih milih baju yang akan dikenakannya diacara esok hari.


malam hari,


"Al" Zifa membangunkan suaminya yang masih tertidur pulas itu.


"Hmm iya" Al mengerjapkan matanya.

__ADS_1


"Ada apa sayang?"


"Al aku lelah, Dev rewel terus dari tadi" keluh Zifa.


"Mungkin dia haus"


"Aku sudah memberinya asi, tapi dia tidak mau" mata Zifa sudah berkaca kaca.


"Sayang, jangan sedih" Al menangkup pipi istrinya itu.


"Al aku lelah, aku tidak sanggup lagi" keluh Zifa dengan air mata yang mengalir.


"Sayang, jangan begini. Sini biar Dev aku saja yang gendong, kamu istirahat" Al mengambil putranya dari gendongan Zifa.


"Kamu istirahat gih, biar Dev aku jaga. Pasti kamu kecapekan" satu tangan Al mengusap kepala istrinya itu.


Zifa hanya mengangguk lalu memejamkan matanya menuju alam mimpi.


Al membuka tempat penyimpanan asi milik Zifa.


"Anak dady, minum asi dulu ya nak. Abis itu tidur, dady sama momy juga mau istirahat" ucap Al lembut.


Perlahan, mata bayi itu tertutup seolah tau maksud ucapan sang dady.


Al menghela napasnya lega saat melihat putranya tidur.


Baru saja ia meletakan putranya keranjang, namun bayi itu kembali menangis.


Alhasil Al kembali menggendong putranya itu.


"Cup cup cup, ini dady ada disini"


Setelah beberapa menit, bayi itu kembali tidur pulas.


Al duduk disofa meyandarkan kepalanya.


Pagi hari,


Zifa terheran melihat suaminya tidur bersandar disofa sambil mendekap putranya.


"Astaga, Al.." Zifa membangunkan suaminya itu.


Al mengerjapkan matanya bangun


"Ya ampun, kenapa kamu malah tidur disini? Pasti badanmu capek semua"


"Anak kita tidak mau tidur diranjangnya" jawab Al.


"Oh ya ampun, kenapa tidak membangunkanku saja?"


"Kau baru saja beristirahat pasti kecapekan"


"Ya sudah sini biar aku gendong Dev"


Al menyerahkan putranya itu


Ia merenggangkan otot tangannya yang terasa kaku.


"Al, cepat mandi sana"


Al mengangguk, pria itu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai, ia keluar dari kamar mandi dengan handuk sepinggang.


"Al, kau harus banyak istirahat. Kurasa badanmu mulai kurus" tegur Zifa.

__ADS_1


"Benarkah? Mungkin cuma perasaanmu"


"Tidak, kurasa sejak kau pulang dari negara x kau semakin kurus"


"Iya, nanti aku cari waktu untuk istirahat"


Al mengambil alih putranya.


"Gantian kamu gih yang mandi" pinta Al membuat Zifa mengangguk.


Setelah selesai, Zifa mengeringkan rambutnya dan mulai merias dirinya didepan cermin.


"Sayang, kurasa kita butuh baby sitter"


"Untuk apa?"


"Aku tidak mau kau selalu kelelahan begini"


"Aku tidak mau Al, aku mau mengurus anak kita sendiri"


"Kau yakin?" tanya Al ragu. karna sejujurnya ia tak bisa jika setiap malam selalu kurang tidur karna harus menjaga putranya.


"Hmm aku yakin bisa melakukannya"


Setelah semuanya siap, mereka berdua kelantai bawah untuk menyambut para tamu yang sudah berdatangan.


"Selamat atas kelahiran putra anda tuan Al" ucap rekan bisnis Al.


"Iya, terimakasih"


beberapa bulan kemudian,,


Kehidupan Al dan Zifa sedikit berubah, hubungan mereka semakin renggang sja.


Tubuh Al terlihat semakin kurus saja. Wajah Al juga terlihat pucat. Pengobatan yang dilakukan Al selama ini ternyata tidak menunjukan perkembangan.


Justru penyakit Al semakin menjadi jadi saja. Donor pun belum ada untuk Al meski sudah berusaha mencari.


Hari ini, Al ingin memberi kejutan untuk istrinya tepat di aniversary pernikahan mereka.


"Happy aniv pernikaahan kita sayang" Al memeluk istrinya dari belakang yang baru saja meletakan bany Dev di ranjangnya.


"Terimakasih Al"


"Terimakasih juga sayang, aku tidak mengira ada diposisi sekarang. Kebahagiaanku sudah lengkap" Al menciumi puncak kepala istrinya itu.


"Al, lebih baik besok kalu melakukan check kesehatan. Wajahmu akhir akhir ini sering pucat" Zifa mengusap pipi suaminya itu.


"Ciee yang mulai perhatian" goda Al.


"Apa sih"


"Ini, aku ada kado untukmu"


"Apa?"


Al menunjukan 2 buah paperbag


"Wahhh terimakasih Al"


Zifa langsung membuka paperbag itu, nampak sebuah tas cantik yang sangat diketahuinya harganya mencapai ratusan juta


"Al, ini berlebihan"


"Tidak ada kata berlebihan untukmu sayang"

__ADS_1


Zifa membuka satu paperbag lagi


__ADS_2