Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Perubahan Sikap Al


__ADS_3

"Tidak bisakah dipercepat 1 bulan lagi? Atau mungkin diperlambat 3 bulan lagi karna 2 bulan lagi istriku akan melahirkan dan aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri"


"Kalau untuk dipercepat kemungkinan tidak bisa karna pendonor sendiri yang meminta waktu 2 bulan. Jika pun diperlambat maka akan berbahaya untuk tubuh anda karna bisa dipatikan penyakitnya menyebar"


"maaf, yapi kurasa aku tidak bisa mengambil tawaran ini karna beberapa alasan. mungkin aku akan berusaha mencoba mencari pendonor lain yang bisa dalam waktu dekat ini" putus Al.


"Baiklah tuan Al jika itu keputusanmu. saya sangat berharap banyak agar anda dapat sembuh dari penyakit ini"


"baik dok, terimakasih"


Setelah selesai berkonsultasi Al kembali ke hotel.


"Sayang" panggil Al saat tak menemukan kebaradaan sang istri.


"Sayang" panggil Al untuk kedua kalinya namun tidak ada sahutan.


Al menengok ke kamar mandi barangkali istrinya disana namun nyatanya Zifa tidak disana.


Al merogoh ponselnya, ia menelpon ke nomor istrinya.


Tutt


(Panggilan terhubung)


"Sayang, kamu dimana? Aku nyariin kamu di kamar kok nggak ada"


"Aku sedang di taman kota Al"

__ADS_1


"Oh astaga, kenapa kamu nggak bilang? Ini bukan negara kita, kalau terjadi apa apa gimana?" Al mulai panik.


"Enggak Al, kamu tenang aja. Lagian disini juga ada pengawal kok. Ada temenku juga" ucap Zifa diseberang menenangkan suaminya itu.


Al sedikit bernafas lega kala mendengar kata "pengawal"


'setidaknya istriku aman' batin Al lega.


"Ya udah, tunggu aku. 15 menit lagi aku kesana"


Al mematikan sambungan telepon itu. Ia segera membersihkan tubuhnya lalu menyusul istrinya ke taman kota.


Al mencari cari keberadaan istrinya


"Loh bukannya itu Bayu?" Batin Al melihat sosok pria yang sedang berbincang dengan istrinya.


Hati Al semakin terbakar kala melihat tangan Bayu menyentuh bahkan mengusap perut buncit istrinya itu.


"Sayang" panggil Al mendekat ke arah Zifa.


"Eh Al, kau sudah datang" wajah Zifa nampak sumringah melihat kedatangan suaminya.


Al hanya diam tak menjawab ucapan istrinya.


"Oh hai tuan Al, tepat sekali kita bertemu disini. Apa kabar?" Bayu berbasa basi.


"Hmm baik" jawab Al singkat dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Kebetulan tadi aku lewat ditaman terus melihat Zifa duduk sendirian jadi aku tadi langsung menyapa nya" terang Bayu tak mau Al salah paham dengannya.


"Hmm tidak apa" jawab Al lagi dengan nada dingin.


"Kudengar dari istrimu katanya kau punya proyek besar ya disini?"


"Iya"


"Wah wah, anda sangat hebat. Bisa memimpin perusahaan dengan baik bahkan bisa membawa perusahaan anda menjadi sehebat sekarang" puji Bayu mencari topik pembicaraan.


"Iya, terimakasih" jawab Al singkat.


"Kau satu satunya laki laki beruntung yang bisa mendapatkan bahkan memiliki Zifa sepenuhnya" ucap Bayu membuat Al semakin mengobarkan api amarah nya.


"Ya, aku memang laki laki beruntung yang berhasil mendapatkannya" Al merengkuh pinggang istrinya itu dengan posesif.


Bayu tersenyum


"Ya sudah kalau begitu aku pamit dulu" ucap Bayu lalu meninggalkan 2 manusia itu.


Setelah kepergian Bayu, Al melepaskan kaitan tangannya dari pinggang sang istri.


"Kau senang?" Tanya Al dengan nada dinginnya.


"Maksudnya?" tanya Zifa bingung dengan pertanyaan suaminya itu.


"Ya pasti aku senang bisa mengobrol akur dengan Bayu. Lagi pula dia menemaniku selama menunggumu datang" jawab Zifa enteng tak sadar dengan perubahan sikap suaminya.

__ADS_1


__ADS_2