Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Membenci (RioKay)


__ADS_3

"Ayo, kita antar anak kita ke tempat istirahatnya" ajak Rio.


Kay mengangguk lemah meski hatinya berat untuk melepaskan putrinya.


Setelah pemakaman selesai, Kay kembali kerumah sakit.


Malam hari,,


Yang tersisa diruangan itu hanya Kay dan Rio. Suasana nampak hening walaupun kedua insan itu belum menutup matanya.


"Rio, apa kau membenciku?" Suara Kay memecah keheningan.


"Untuk apa membencimu? Aku sangat menyayangimu"


"Aku sudah membuat anak kita tiada, bukankah aku pantas untuk dibenci"


"Sayang, jangan seperti ini"


"Apa kau akan menceraikan ku setelah ini?"


"Sayang, dengarkan aku. Kita akan melalui semuanya bersama sama. Tidak akan ada kata perpisahan selain maut yang memisahkan kita"


"Rio, aku ingin menyusul anak kita saja" tangis Kay kembali pecah.


Rio bingung harus berbuat apa selain berusaha meyakinkan istrinya itu.


Pagi harinya Kay merasakan pinggangnya sakit luar biasa. Kepalanya ikut berdenyut hebat hingga membuatnya merintih dengan suara tertahan.


Rio langsung memanggil dokter


"Bagaimana dok?" Tanya Rio.


"Nyonya Kayla harus cepat cepat melakukan operasi transplatasi ginjal"

__ADS_1


"Aku sudah ada pendonornya dok, apa bisa melakukan test hari ini juga?"


"Bisa tuan, semakin cepat semakin baik"


Dokter melakukan test pada pendonor.


Diruang rawat Kay


"Sayang, beberapa jam lagi kau akan transplatasi ginjal. Dan setelah itu kau akan sembuh" Rio mengusap puncak kepala istrinya.


"Rio, aku tidak mau operasi" tolak Kay.


"Kenapa memangnya? Dengan operasi kau akan segera sembuh"


"Aku ingin menyusul anak kita saja. Dia pasti kesepian di sana sendirian. Aku akan menemaninya"


"Sayang, kau tidak boleh begini. Kau harus kuat. Kita akan melalui semua masalah ini bersama ya?"


"Bagaimana aku bisa tenang Rio, baru kemarin rasanya aku hamil. Tapi sekarang anakku sudah tiada" tangis Kay kembali pecah.


"Kau janji tidak akan meninggalkanku?"


"Iya aku janji" jawab Rio yakin.


"Hug me please" pinta Kay.


Rio langsung memeluk istrinya itu.


"Jangan sedih lagi, aku tidak tega melihatmu menangis seperti ini. Kita mulai semuanya dari awal ya"


Kay mengangguk semangat


"Aku janji akan cepat sembuh agar kita bisa memiliki anak lagi"

__ADS_1


"Bagus, aku suka kamu yang semangat seperti ini"


Beberapa jam kemudian,


Nampak Rio masih menunggu di kursi tunggu ditemani Al.


"Bagaimana istrimu? Kudengar dia hamil ya?" Tanya Rio karna sangking sibuknya sampai tidak tahu kabar bahagia dari sahabatnya itu.


"Iya, baru 10 minggu" tampak Al mendesahhh kan napasnya.


"Kenapa? Sepertinya kau kurang suka" tanya Rio karna tak melihat binar bahagia diwajah Al.


"Aku sudah melarang Zifa untuk hamil dalam waktu dekat ini dengan berbagai alasan. Tapi entah kenapa dia malah melanggar semuanya. Jadi sekarang dia sendiri yang menyesal karna Dev sudah tidak mau berada didekatnya karna merasa cemburu"


"Benarkah?"


"Iya, bahkan Dev sering tidur di rumah papa. Dan sekarang pekerjaanku harus doble karna Dev tidak mau diurus momy nya"


"Mungkin istrimu memiliki pertimbangan tersendiri"


"Bukan masalah itu, sebentar lagi Dev akan mulai masuk sekolah. Bukankah dia sendiri yang kerepotan jika harus mengurus 2 anak sekaligus. Lagipula dia selalu menolak jika aku menawarkan jasa baby sitter"


"Ya aku paham maksudmu, tapi alangkah lebih baiknya kau lebih fokus bagaimana caranya Dev bisa kembali dekat dengan momy nya. Aku takut dewasa nanti akan tumbuh rasa iri padanya jika kau membiarkannya terus menerus"


"Aku sudah melakukan banyak cara, tapi anak itu selalu menolak jika berhubungan dengan momy nya"


"Coba kau beri hadiah kecil untuknya dan katakan bahwa itu pemberian adik bayi"


"Kau tau Dev tidak sebodoh itu"


"Cobalah dulu, aku rasa itu solusi yang baik"


Al mengangguk

__ADS_1


Beberapa saat kemudian pintu ruangan dibuka. Nampak dokter tersenyum menatap Rio.


"Bagaimana dok?"


__ADS_2