
Rio mengadzani tepat ditelinga putranya. Bayi itu nampak tenang mendengarkan suara adzan papanya.
"Udah sus, ini gimana terusan?" Tanya Rio bingung harus bagaimana.
"Diberikan ke ibunya agar diberi asi pak" suster itu mengangkat bayi itu dari dekapan Rio.
"Bajunya dibuka dulu nyonya Kayla"
Kay membuka 2 kancing teratas bajunya.
"Semuanya nyonya, biar bisa metode skin to skin"
Rio yang melihat tangan istrinya bergetar pun membantu wanita itu membuka kancingnya membuat jantung Kay berdebat hebat.
"Kenapa?" tanya Rio melihat wajah Kay yang memerah.
"tidak apa apa"
"Kita sudah sering melakukannya, kenapa tiba tiba grogi seperti ini?" ejek Rio.
plakk
Kay menepuk lengan pria itu
"disaring dikit bicaranya. malu sama suster" kesal Kay yang hanya ditanggapi senyum tipis oleh Rio.
Posisi Kay yang setengah duduk memudahkan bayi itu untuk mencari sumber kehidupannya.
"Kok sakit sih sus?" Keluh Kay.
"Memang seperti itu nyonya, nanti lama kelamaan akan biasa saya. Sering sering dipijat pelan untuk merangsang air asinya"
Kay mengangguk paham
"Siapa namanya?" Tanya Kay.
"Reandra Adhitama, panggilannya Rean"
Kay mengangguk setuju,
Setelah selesai, bayi itu kembali diletakan ke dalam inkubator.
"Kapan bisa keluar dari inkubator sus?"
"Mungkin besok sudah bisa pak, tergantung kondisi tubuh baby nya"
"Kalo istri saya bisa pulang kapan?"
"Belum tau pak, tergantung nanti pemeriksaan selanjutnya gimana"
__ADS_1
Setelah selesai suster itu keluar ruangan rawat itu.
Mama Tasya dan papa Roni sudah kembali pulang sejak tadi karna hari sudah sangat larut.
"Tidurlah, biar aku menjagamu" Rio mengusap rambut istrinya dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik wanita itu.
"Terimakasih sudah nau berjuang nelahirkan anak untukku" ucao Rio tulus.
"Iya, sama sama"
Pagi hari, setelat dilakukan pemeriksaan menyeluruh, Kay diperbolehkan untuk makan.
Nampak Rio menyuapi istrinya dengan telaten.
"Udah ah, aku udah kenyang"
"Dikit lagi, 3 jam lagi kan harus belajar jalan sama duduk. Perlu banyak tenaga"
Kay mengalah
"Rio, Rean menangis" ucap Kay kala putranya tiba tiba menangis.
"Lalu aku harus bagaimana? Aku belum berani menggendongnya"
"Kenapa tidak berani? Cepat gendong, masak cuma gitu harus panggil suster"
"Tapi Kau..."
Rio pun mendekat ke arah putranya.
Pria itu menggendong baby mungil itu dengan pelan seperti yang diajarkan perawat tadi.
"I ini.." Rio gemetaran menyerahkan bayi itu ke dekapan Kayla.
Sedangkan Kayla sendiri sudah terlihat lebih luwes karna ia sering menggendong anak Zifa saat ia berkunjung dirumah sahabatnya itu.
Kay tahu apa yanv diminta anaknya, baby itu pasti kehausan karna ini memang sudah waktunya bayi itu minum.
"Oh dia haus" kelakar Rio tersenyum tipis.
"Emangnya kau kira mau apa? Tidak mungkin bayi sekecil ini minta mainan"
"Iya juga sih, oh ya kan masih ada beberapa barang bayi yang belum kita beli"
"Iya juga sih, terus gimana dong"
"Pesen aja, biar nanti diantar"
"Kamu gimana sih, kamu kan papanya. Ya kamu lah yang cari. Masak malah nyuruh orang. Emangnya ini anak siapa?" Kesal Kay.
__ADS_1
"Tapi aku nggak tau beli apa aja, barangnya bentuknya kayak apa aja aku nggak tau"
"Nanti aku kasih catetan kamu yang beli"
"Ya udah deh" Rio mengalah, karna memang beberapa peralatan bayi belum mereka beli karan keterbatasan waktu dan juga tenaga Kay.
Hening
Kay memandang intens wajah putranya yang baru ia lahirkan.
"Ah aku bersyukur ternyata hidung putraku tidak kalah dengan anak Al dan Zifa" ucap Kau tersenyum dan mengusap wajah putranya lembut.
"Tentu saja, dia itu bibit unggulku" sombong Rio.
"Cih, bibit unggul apanya. Kau aja nggak tau kalau aku udah copot kb" sindir Kay.
"Ya walaupun tanpa persiapan nyatanya hasilnya sangat memuaskan kan?" Rio menaik turunkan alisnya menggoda sang istri.
"Ya ya, kuakui kau memang hebat" sahut Kay malas.
"Ahh putraku memang sangat tampan" puji Rio menatap wajah putranya.
"Bilang saja kalau kau mau memuji dirimu sendiri" decih Kay merasa kesal karna memang wajah anaknya sangat mirip dengan Rio.
"Ya tapi kau harus mengakuinya. Memang dia tampan kan?"
"Dia pasti akan lebih tampan kalau mirip denganku" sombong Kay.
"Kata siapa? Jika dia mirip dengamu, anak kita tidak akan memiliki hidung semancung itu dan bulu mata lentik. Ya kan?" Rio meremehkan.
"Huhh lihat saja. Tidak apa apa kli ini wajahnya mirip denganmu. Tapi aku akan mendidiknya agar tidak menjadi laki laki sepertimu"
"Kenapa memangnya? Apa aku laki laki yang buruk?" Tanya Rio serius.
"Kau itu laki laki dingin, cuek, tidak berperasaan, kaku, arogan, semaunya sendiri, egois, ingin menang sendiri, suka mengatur ngatur, tidak perhatian, lupa dengan keluarga, tidak romantis, ahhh pokoknya banyak sekali keburukanmu sampai aku tidak bisa menyebutkannya satu persatu" kesal Kay meluapkan emosinya.
"Ya, aku mengakuinya. Aku akan belajar menjadi lebih baik lagi" Rio mengusap lembit kepala istrinya.
Kay hanya diam tak menanggapi ucapan Rio yang menurutnya hanya omong kosong belaka.
Beberapa saat kemudian seorang dokter datang untuk mengajari Kayla berjalan.
"Dok, sakit dok" keluh Kay ketika belajar berjalan.
"Nanti akan terbiasa nyonya, justru nanti semakin lama kakinya akan jadi kaku"
Rio menatap iba istrinya yang belajar berjalan itu.
"Kapan boleh pulangnya dok?"
__ADS_1
"Karna kondisi nyonya Kay maka harus 5 hari inap untuk memastikan semuanya aman"
"Kok lama sih dok, temen saya aja 2 hari bisa pulang" protes Kay.