
"Kau mau bertemu Rio kan?"
"Mau, memangnya dia sudah pulang?"
"Sudah, dia sudah pulang. Kau mau melihatnya?" Tawar Zifa membuat Kay mengangguk.
"Tentu saja, aku mau membicarakan ini semua"
"Kay, menurutmu bagaimana jika kau kehilangan Rio? Maksudku jika kau berpisah dengannya, apa kau bahagia?"
"Aku juga masih bimbang. Maka dari itu aku mau mendiskusikan masalah ini lagi dengannya"
"Ya sudah, kalau begitu ayo temui Rio bersamaku saja"
"Sekarang?"
"Iya, sekarang. Sepertinya besok Rio sibuk"
"Ya sudah, ayo" Kay berdiri dari duduknya.
Kay menitipkan putranya pada pembantu rumah.
Wanita itu mengikuti Zifa dan Al.
Sepanjang perjalanan Kay bingung jarna jalan yang dilaluinya bukan jalan menuju rumah mama Tasya maupun apartemen Rio.
"Loh kok kerumah sakit?" Kay bingung karna mobil memasuki parkiran rumah sakit.
"Ayo ikut masuk, aku ada sedikit keperluan"
Tanpa curiga Kay ikut begitu saja. Kay semakin bingung melihat keberadaan mama Tasya dan papa Roni.
"Mama papa disini? Siapa yang sakit?" Pertanyaan Kay membuat semuanya terdiam.
"Ayo masuk dulu" Zifa membuka perlahan pintu itu.
"Zif, dia..." Kay menutup mulutnya kaget melihat pria berbaring pucat dengan alat medis menempel ditubuhnya.
__ADS_1
"Iya, dia Rio"
Kaki Kay bergetar mendekati brankar itu.
"Ri Rio.." panggil Kay lirih membuat pria itu mengerjapkan matanya pelan.
Mata yang biasanya penuh candaan kini sudah berubah menjadi tatapan sayu.
"Kay.." suara Rio lirih nyaris tak terdengar.
"Kau datang?" Tangan pria itu berusaha menyentuh pipi wanita didepannya.
"Kau sakit apa? Kenapa tak mengatakannya padaku?" Kay menangkup telapak tangan pria didepannya.
"Tidak ada, ini hanya masuk angin biasa saja. Jangan khawatir" Rio menenangkan.
Air mata Kay meluncur begitu saja
"Kau harus cepat sehat ya? Biar aku yang merawatmu"
"Sebentar lagi aku sehat. Jangan khawatir" lirih Rio lagi.
"Tidak, aku tetap disini"
Tangan pria itu bergerak mengambil sebuah plastik.
Huekk
"Rio, kau kenapa?" Kay mulai panik.
Jelas jelas Kay melihat Rio memuntahkan darah.
Kay membantu membersihkam bekas darah dibibir pria itu.
"Sudah" suara Rio berbisik.
"Rio kau kenapa? kenapa bisa begini?" Kayla menangis sambil mengusap surai hitam suaminya.
__ADS_1
"Rio, ini..." Kay kaget melihat segenggam rambut pria itu dijemarinya.
"tidak apa apa, mungkin karna aku sedang banyak pikiran. jadinya seperti ini" Rio menenangkan.
Kay terus saja mengusap pipi pria didepannya itu.
"Kau sangat kurus. apa kau terlalu stres memikirkan hubungan kita?"
"tidak, ada masalah kantor juga yang mendominasi" Rio menenangkan.
hening
"Maaf.." cicit Rio pelan.
"Untuk apa?" Tanya Kayla heran.
"Aku banyak melakukan kesalahan padamu"
"Tidak apa apa, maafkan aku juga" Kayla mengusap kepala suaminya lembut.
Pria itu tersenyum tipis
Lama kelamaan pria itu memejamkan matanya seolah tertidur damai begitu saja.
"Rio, Rio kau kenapa? Rio bangun" Kay menepuk pelan pipi tirus pria itu.
Semua keluarga juga turut memasuki ruangan itu.
Dokter datang langsung mengecek keadaan Rio.
Dokter itu memghembuskam napasnya berat.
"Bagaimana dok?" Mama Tasya tak sabar.
"Harus segera transplatasi secepatnya. Tuan Rio dalam keadaan kritis" ungkap dokter itu.
"ma, apa yang terjadi dengan Rio ma?" tanya Kay namun tak mendapat jawaban dari semua orang.
__ADS_1
"tenang saja, Rio akan segera sembuh" papa Roni menenangkan menantunya itu.