Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Tanggung Jawab


__ADS_3

"Al, aku ingin cepet hamil lagi" pinta Zifa.


"Sayang, bukannya melarang. Bukankah sebaiknya ditunda dulu biar kasih sayang kita tidak terbagi. Kasian Dev, lagipula aku belum pulih sempurna. Pasti belum bisa bantuin kamu jaga anak" ucap Al lembut.


"Enggak Al, janji deh kasih sayang Dev nggak bakal kebagi. Aku pengen punya anak yang jaraknya nggak jauh biar saling menyayangi. Justru aku pengen jaraknya deket biar aku bisa sama sama ngurus mereka berdua biar nggak ada yang saling iri" Zifa meyakinkan.


"Sayang, ngurus 2 anak kecil sekaligus nggak gampang loh. Apalagi nanti kamu hamil masih ngurus Dev yang masih kecil" Al kembali menasehati sang istri.


"Tapi aku pengen hamil lagi, biar kamu bisa manjain aku lagi kayak dulu"


Al tersenyum


"Aku tetep bakal manjain kamu walaupun nggak hamil sekalipun. Aku bakal berusaha buat bagi waktu yang adil buat kamu, Dev dan juga kerjaan" Al mengusap lembut pipi istrinya itu.


"Beneran?"


"Iya sayang, beneran"


Zifa memeluk tubuh suaminya yang sudah mulai kembali berisi itu.


"Al jangan terlalu forsir buat olah raga. Kamu belum sembuh total" Zifa mengingatkan suaminya yang sudah mulai aktif gym.


"Iya sayang, tapi kata dokter nggak papa kok asal masih dalam batas wajar"


Zifa semakin mengeratkan pelukannya.


Batinnya terus saja bergumam memikirkan apa yang tadi Al katakan.


"Pokoknya aku nggak bakal minum pil penunda kehamilan lagi. Kalo dikasih cepet ya syukur kalau enggak ya nggak papa" batin Zifa.


...


Kandungan Kay semakin buncit saja. Banyak karyawan mencibirnya karna ia dituduh hamil diluar nikah tapi Kay tak menghiraukannya.


(pernikahan Kay dan Rio tertutup)


Tujuannya hanya mengumpulkan pundi pundi uang untuk memastikan kehidupan anaknya kelak dengan ataupun tanoa dirinya nanti.


"Kay kau belum pulang?" Tegur Rio melihat istrinya masih berkutat didepan komputer padahal jam sudah menunjukan pukul 6.


"Iya, aku lembur" jawab Kay jujur.


"Kenapa lembur? Apa ada masalah?"


"Tidak ada, hanya pengen saja" jawab Kay asal.


"Cepat pulang, kasian bayi yang ada dikandunganmu. Pasti dia juga lelah" tegur Rio lagi.


"Baiklah" Kay mematikan monitornya.


Kay berdiri dari duduknya membuat pandangannya sedikit kabur hingga tubuhnya sedikit oleng.


"Eh, kau kenapa?" Tanya Rio masih menyangga tubuh Kay.


"Oh tidak apa apa, memang biasa seperti ini jika kelamaan duduk"


"Kau benar benar tidak apa apa?" Tanya Rio memastikan lagi.

__ADS_1


"Iya tidak apa apa"


"Sebaiknya motormu ditinggal disini saja. Kamu pulang bareng aku" usul Rio.


"Tidak, aku mau naik motor saja. Lagipula aku nanti pengen mampir beli makanan"


"Enggak, bareng aku aja" titah Rio sedikit memaksa.


Akhirnya mau tidak mau Kay menuruti ucapan suaminya itu.


Didalam mobil,


"2 hari lagi aku resign dari kantor" ucap Rio memecah keheningan.


"Kenapa resign?" Tanya Kay heran.


"Al sudah mulai aktif bekerja. Lagipula aku memiliki perusahaan juga. Jadi aku sudah mulai susah membagi waktuku"


"Ja jadi kau pengusaha?" Tanya Kay kaget.


Rio hanya mengangguk


"Oh my god, kau ini pengusaha tapi bodoh" ejek Kay.


"Kenapa begitu?" Rio menaikan seblah alisnya.


"Buktinya kau tak mau menceraikanku. Bukankah itu disebut bodoh?"


"Bukankah sudah kubilang, pernikahan itu bukan mainan" bela Rio.


"Terserah kau lah. Mau kau pengusha, dokter, atau apapun itu aku juga tidak peduli"


"Aku bisa mencari uang sendiri, bukankah itu lebih membanggakan" jawab Kay santai.


"Kau ini memang wanita aneh"


Kay tak mendengarkan ejekan itu. Ia menurunkan kursinya saat melihat kemacetan jalan didepannya.


Ia bersandar dikursi mobil itu sambil mengusap usap perut buncitnya.


Rio memandangi wanita hamil disampingnya itu.


"Boleh aku mengusapnya?" Tanya Rio.


"Boleh saja"


Tangan Rio terulur mengusap perut buncit itu. Banyak tendangan yang didapatkan dari bayi yang dikandung istrinya.


"Apa kau pernah menyesal karna kehadirannya?"


"Tidak pernah, kenapa harus menyesal? Dia penyemangatku. Mungkin tuhan menghadirkannya agar aku tak lagi merasa kesepian"


"Rio, menurutmu bagaimana jika suatu hari aku menitipkan anakku pada orang lain. Lalu aku memberi orang itu uang yang cukup untuk kehidupan anakku hingga dewasa nanti?"


"Maksudmu? Kau mau membuangnya?"


"Anak saja kau kalau bicara" kesal Kay.

__ADS_1


"Lalu bagaimana, jelaskan yang benar"


"Aku berniat setelah melahirkan akan keluar negeri untuk mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi. Untuk itu aku harus menitipkan anakku dalam beberapa waktu. Lalu bagaimana caranya aku menjamin orang yang kutitipi menjalankan amanah dengan merawat anakku dengan baik"


"Apa kau tidak berniat merawat anakmu sendiri?" Tanya Rio heran.


"Aku hanya pergi beberapa waktu saja untuk menjamin masa depan ankku kelak"


"Kau kan tetap bisa bekerja disini. Jika memang perusahaan Al tak bisa memberimu gaji lebih, maka perusahaanku bisa memberimu lebih. Lagipula apa uang yang kuberi kurang?"


"Ini tentang anakku, bukan aku"


"Kau istriku, ototmatis dia juga anakku. Tanggung jawabku" ucapan Rio membuat Kay menoleh.


"Tetap saja dia bukan darah dagingmu. Aku tidak mau. Jadi bagaimana menurutmu?"


"Buatkan saja tabungan yang hanya bisa diambilnya saat ia dewasa kelak"


"Bisa kau membantuku?"


"Kau ini sebenarnya menyembunyikan apa? Tidak mungkin jika hanya karna uang?" Tanya Rio mengintimidasi karna ia sangat tau Kay merupakan anak angkat dari Bryan Hendrawan yang jelas saja dipastikan ia memiliki banyak uang hanya untuk sekedar 'masa depan'.


"Tidak ada" Kay mengalihkan pandangannya ke jendela.


"Tidak akan ada masalah asuh mengasuh, jika kau memang ingin keluar negeri, biar dia aku yang merawatnya" putus Rio.


"Tapi.."


"Bukankah sudah ku katakan dia anakku juga" kesal Rio.


"Emm bisakah kau membantuku?"


"Apa? Katakan saja aku akan membantu sebisaku"


"Aku ingin mencari ayah kandung anak ini. Aku berfikir bagaimana jika suatu hari nanti ia menanyakan ayah kandungnya"


Degg


Jantung Rio terpompa cepat, ia bingung harus menjawab apa.


"Kau tidak bisa ya? Tidak apa apa" ucap Kay lagi saat tak melihat respon suaminya.


Sepanjang jalan kedua insan itu terus saja diam.


Sesampainya dirumah, Kay langsung membersihkan diri.


Beson ia berencana tidak masuk kerja untuk membuat tabungan masa depan untuk anaknya.


Keesokan harinya,


"Kau tidak masuk kerja?" Tanya Rio melihat Kay sudah tapi namun dengan pakaian kasualnya membuat perut buncitnya semakin terlihat.


"Iya, aku ada urusan" jawab Kay.


Malam hari,,


Kay menunggu Rio yang masih berganti pakaian di walk in closet.

__ADS_1


"Kenapa banyak sekali kertas?" Tanya Rio heran.


"Ini, aku ingin menunjukan oadamu. Bagaimana pendapatmu apa ini semua sudah terpercaya?" Kay menunjukan beberapa lembar surat perjanjian diatas materai dan juga beberapa berkas dari bank.


__ADS_2