
Sesampainya dinegara X, mereka langsung menuju rumah sakit tempat Al dirawat.
Asisten Rio nampak emosi melihat kedatangan istri bosnya itu.
"Tuan, anda membawa putri anda yang egois ini?!" sinis Rio menatap jijik pada istri tuannya.
"Rio, dia..."
Ucapan papa Bryan terpotong
"Apa kau tau! Penyebab ini semua adalah kau! Karna keegoisanmu bosku sampai harus meregang nyawa" tunjuk asisten itu tepat diwajah Zifa.
Zifa menangis, ia tak menyangka akan berakhir seperti ini. ia mengira sikapnya selama ini sudah benar. ia hanya tak ingin memberi harapan cinta pada Al.
kenapa ia bisa lalai? bagaimana dia bisa tidak tahu bahwa suaminya mengidap penyakit. rutuk Zifa pada dirinya sendiri.
Baby Dev menangis melihat momynya berantakan seperti ini.
"Cup cup cup, sini sapa grandpa" papa Bryan menggendong cucunya itu.
Beberapa saat kemudian, orang tua Al juga sudah datang setelah papa Bryan menjelaskan segalanya.
"Rio, bagaimana keadaan Al"
Rio seolah bisu. Mulutnya tak mampu mengucapkan kata menyakitkan itu.
"Ta tadi dokter mengatakan jantung Al sudah berhenti berdetak. Namun dokter masih mengupayakannya. Dan sampai sekarang belum ada tanda dokter keluar"
Mama Sofi langsung pingsan mendengar keadaan putranya itu.
Badan Zifa sudah lunglai kelantai tak mampu menahan tubuhnya lagi.
"Kenapa kau terlihat menyedihkan? Bukankah ini maumu?" Ejek asisten itu pada istri bosnya saat kedua papa Farhan menemani mama Sofi yang dibawa ke ugd.
Zifa menggelang
"Lihatlah, putramu akan menjadi yatim karna keegoisanmu" sinis asisten itu lagi.
tangis Zifa semakin pecah.
Ceklek
Beberapa suster keluar dari ruang rawat Al sambil berlarian kesana kemari mengambil alat.
"Sus bagaimana keadaan pasien?" Tanya asisten Rio memastikan.
"Bantu kamu dengan doa, detak jantungnya kembali namun tidak stabil. Dia diantara hidup dan mati" jawab suster itu lalu masuk lagi keruangan Al.
Asisten Rio terduduk lemas melihat sahabtnya yang begitu menyedihkan.
1 jam kemudian dokter keluar dari ruangan Al dengan wajah lesu. Entah karna kelelahan atau karna hal buruk.
"Dok bagaimana keadaan suami saya?"
"Syukurlah, pasien masih selamat. Semuanya mulai stabil"
"Apa sudah sadar dok?" Tanya Rio.
"Belum tuan, mungkin esok hari"
Dokter itupun pamit pergi
"Istirahatlah ke apartemen Al, biar aku yang disini" ucap Rio.
"Tidak, aku tidak mau meninggalkannya" Zifa menggeleng.
__ADS_1
"Kau mau egois lagi?! Tak bisakah kau bersikap dewasa sedikit saja? Kau memmiliki bayi" asisten itu kesal.
"Berikan ruangan yang layak untuk aku dan Dev disini menemani Al"
"Kau ingin melihatnya sekarat?" Pancing asisten itu.
Ia hanya ingin mendengar perasaan dari istri bosnya itu.
"Tidak, kenapa kau selalu memojokanku?" marah Zifa.
"Karna memang kaulah penyebab semuanya" tunjuk asisten Rio pada istri bosnya itu lagi.
Rio menghela napasnya berat melihat wanita didepannya menangis tersedu sedu.
"Baiklah karna aku baik, maka aku akan membantumu. Tapi jangan harap aku melupakan kesalahanmu begitu saja"
Rio benar benar memesankan ruangan besar dengan tambahan ranjang untuk Zifa dan bayinya itu.
Kaki Zifa bergetar memasuki ruang rawat suaminya.
Tubuh bagian atas Al terbuka. Dadanya banyak sekali ditempeli alat penunjang kehidupannya.
Bahkan hidung dan mulutnya ditutup dengan alat bantu pernapasan.
Zifa menutup mulut menahan isakannya melihat kondisi Al yang tak berdaya seperti ini.
Tubuh yang dulu kekar berotot yang biasa memeluknya kini mulai mendingin dengan alat bantu untuk memperpanjang hidupnya.
"Al, maafkan aku" sesal Zifa.
semalaman Zifa menangis menyesali segalanya dan berharap semua bisa kembali seperti semula.
Keesokan harinya,
Baby Dev nampak sudah segar setelah mandi.
Zifa hanya diam tak menjawab pertanyaan putranya.
"momy, Dady masih tidul?" tanya bocah itu lagi berusaha menyentuh tangan sang Dady.
Zifa menangis, bahkan putranya masih mengingat panggilan itu meski sudah 2 bulan tak bertemu dadynya.
"Iya sayang, dady sedang istirahat"
"Dady?" Tunjuk bocah itu pada Al yang sedang berbaring lemah diranjang.
"Iya sayang, itu dady Dev"
Zifa mendekat kearah Al
Tangannya mengusap jemari Al yang dijepit dengan alat deteksi jantung.
"Al, ini aku. Aku membawa Dev juga" Zifa mengusap tangan itu.
30 menit berlalu, Dev bermain sendiri berjalan kesana kemari bahkan sudah mulai berlari karna usianya sudah 1,5 tahun. bicaranya sudah mulai lancar.
Dev memang tergolong cerdas dari anak seusianya.
Netra Al mengerjap menyesuaikan cahaya ruangan itu.
"Arghh" ringis Al merasakan kepalanya berdenyut hebat.
"momy, momy Dady bangun" teriak bocah itu senang.
"Dady ayo main" pinta bocah itu yang mengira dadynya benar benar hanya tidur.
__ADS_1
"Dev, ayo Dev main dulu. kasian dady"
"momy, Dev mau dady" bocah itu menangis membuat Zifa kebingungan.
"cup cup cup, sini ayo cium dady" Zifa mengangkat putranya dan membiarkan bocah itu mencium dady nya.
"momy, dady sudah tidak kerlja?" tanya bocah itu lagi. karna setaunya dadynya lama tidak tinggal dirumah karna sedang bekerja.
"iya sayang, dady sedang tidak bekerja" bohong Zifa.
"ayo Dev turun, biarkan momy berbicara pada dady dulu"
"momy mau malahin dady?"
"enggak sayang, ayo cepet Dev turun" Zifa mendudukan putranya diatas karpet tepat dimana mainan bocah itu berserakan.
"Al, kau sudah sadar" suara Zifa membuat Al terdiam.
"Ka kau.."
"Aku datang Al, bersama anak kita" ucap Zifa berderai air mata.
Ia segera memanggilkan dokter
"Keadaannya mulai stabil, syukurlah kita hanya tinggal menunggu operasinya saja karna sudah ada pendonor" ucap dokter itu membuat Zifa lega.
"Zif aku.."
"Jangan banyak bicara. Cepatlah sembuh, aku dan Dev menunggumu"
Al tersenyum getir
Ia tahu segalanya mesti tak tinggal di tanah air. Ia tahu istrinya dan Bayu, mantan kekasih Zifa mulai dekat lagi.
"Apa kekasihmu tak akan marah?"
"Dia bukan kekasihku, kita hanya teman" bantah Zifa paham dengan maksud suaminya.
"Jangan terlalu berlebihan, kita sudah.."
"Tidak, sampai kapanpun aku istrimu"
"Jangan seperti ini, aku tidak suka melihatmu menangis" Al menghapus air mata wanita itu.
"Kenapa? Kenapa kau tak mengatakannya padaku? Kenapa kau menyembunyikan semuanya?"
"Apakah semua itu penting?"
"Kau pikir ini tidak penting?! Ini tentang nyawa!"
Al tersenyum
"Tidak ada yang lebih penting dari kebahagiaanmu"
"Kau mau mengatakan bahwa kebahagiaanku adalah melihatmu seperti ini?" Tebak Zifa.
Tangan Al bergetar menyentuh pipi ustrinya itu.
Zifa memegang punggung tangan peia itu agar tetap berada dipipinya.
"Kau cantik, kau baik, kau pintar, kau sempurna. Kenapa harus menangisi pengecut sepertiku? Harusnya kau bahagia dan segera menentukan mana pilihanmu untuk menjadi penggantiku"
"Al.. aku.."
Al menggeleng
__ADS_1
jangan Lupa Like dan Komennya guyss