Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Kelanjutan Hubungan Rio dan Kay


__ADS_3

Rio membuka kotak makanan itu.


bibirnya menyunggingkan senyum melihat makanan sehat yang terhidang disana.


istrinya itu tak pernah absen untuk memasak. setiap hari Kay memasakan makanan sehat sesuai anjuran dokter untuk suaminya itu.


beberapa bulan berlalu, Rio sudah sehat seperti sebelumnya walaupun terkadang masih memerlukan kontrol kesehatan.


pria itu sudah semakin dekat dengan sekertaris barunya yang bernama Nesya itu.


Kay hanya mampu menahan rasa cemburunya.


kenyataannya hubungannya dengan Rio belum sebaik itu. sudah 1,5 tahun sejak operasi, suaminya belum juga menyentuhnya lagi layaknya suami istri pada umumnya.


seperti biasanya, Kay ke kantor auaminya mengantar makan siang.


"Alex, Rio mana?" tanya Kay tak melihat keberadaan suaminya di ruang kerja.


"tuan Rio sedang makan siang di kantin kantor"


"loh? sendiri?"


Alex sedikit terdiam


"kenapa diem?"


"dengan nona Nesya" jawab Alex sedikit takut.


Kay tertegun


ia hanya mampu tersenyum getir, sudah beberapa kali ini ia mendapati suaminya makan bersama sekertarisnya.


walau hanya sekedar makan siang biasa namun hatinya tetaplah sakit sebagai seorang istri.


"ya sudah, tidak jadi"


"apa ada yang perlu saya sampaikan nyonya?" tanya Alex menawarkan bantuan.


"tidak ada, lebih baik aku pulang saja"


"Anda membawa makan siang untuk tuan Rio kan? sebaiknya langsung menyusul ke kantin saja nyonya. saya rasa mereka juga belum makan karna pasti banyak antrian"


"tidak usah, aku tidak mau mengganggu mereka. kau mau?" tawar Kay menunjukan kotak makan itu.


"untuk saya nyonya?" tanya Alex bingung.


"iya, tapi rasanya pasti tak se enak makanan di kantin kantor"

__ADS_1


"kenapa begitu nyonya?"


"nyatanya suamiku lebih memilih makan dikantor" Kay tersenyum getir tak sadar setitik air mata siap meluncur dari sudut matanya.


"ah, mungkin karna dia sedang ingin makan disana" lanjutnya tersenyum seolah ia berfikir positif.


"ini untukmu saja, aku pulang dulu" buru buru Kay menyerahkan kotak makan itu lalu pergi meninggalkan kantor.


...


"tumben kau bawa bekal?" tanya Rio yang melihat asistennya makan dari kotak makan.


"maaf tuan, ini bukan saya bawa"


"lalu?"


"ini pemberian nyonya Kayla"


"Kayla?" Rio mengernyit heran.


"tadi nyonya kemari mengantarkan makanan lalu tau bahwa anda makan bersama nona Nesya jadi dia memberikan makanannya untukku" jelas pria muda itu.


"kenapa tak memberitahuku?!" kesal Rio.


"bukankah tadi anda bilang tidak mau diganggu" balik Alex pada sang bos membuat Rio menghela napasnya.


malam harinya,


Kay belum melihat suaminya pulang kerumah padahal Rio sudah berjanji untuk makan malam diluar.


"mama, Rean laper" rengek bocah itu karna sudah waktunya jam makan malam.


"iya, tunggu papa bentar dulu ya" pinta Kuy membuat Rean cemberut karna dari tadi mamanya mengatakan hal yang sama.


setelah 15 menit Rio tak kunjung pulang, akhirnya Kay pergi ke sebuah restoran menggunakan mobil karna tadi ia sudah terlanjur mengatakan pada chef rumah agar tidak usah masak.


"mama, itu papa" tunjuk Rean pada papanya yang sedang duduk bertiga bersama asisten dan sekertarisnya di restoran itu.


"mereka lagi?" gumam Kay miris.


"udah nggak papa, papa lagi kerja. kita makan aja ya nak" Kay berusaha memberi pengertian.


wanita itu enggan membuat keributan disana. ia sangat tau seperti apa hubungannya dengan Rio yang tak wajar.


"Rean mau es krim?" tawar Kay membuat putranya tersenyum senang.


anak dan ibu itu saling mengobrol menunjukan keakraban mereka.

__ADS_1


"tuan, bukankah itu nyonya Kay?" tunjuk Alex pada istri bos nya.


Rio menatap ke arah yang Rio tunjuk.


deg


"astaga aku lupa ada janji dengan Kay untuk makan diluar" batinnya merutuki kebodohannya


pria itu melangkahkan kakinya mendekati Kay.


ia menarik kursi lalu duduk disamping istrinya.


"papa" Rean berbinar membuat Rio tersenyum.


Kay hanya diam bingung harus merespon apa.


apa ia harus marah apa harus bahagaia.


"tuan,," ternyata Nesya menyusul.


"duduk dulu disini" Kay mempersilahkan. ramah seolah tak terjadi apapun.


padahal hatinya sudah panas membara.


"kalian kelihatannya sangat akrab ya?" pertanyaan ramah bermuatan sindiran itu keluar dari mulut Kay.


"nyonya, bukan seperti itu. saya dan pak Rio hany.."


"ah maaf, malah jadi menyinggungmu. maksudku kalian sangat dekat sebagai rekan kerja. begitu kan?" wajah Kay menunjukan senyum mengerikan.


Rio sedikit gelagapan


Kay hanya tersenyum dalam hatinya melihat 2 manusia itu yang sama sama gugup.


"udah yuk nak, kita pulang" ajak Kay pada putranya.


Rean hanya mengangguk setuju


"ayo biar papa antar" Rio ikut berdiri


"tidak usah, lebih baik kau pulang bersama mereka berdua. lagipula jika tidak kau antar bagaimana nona ini bisa pulang" sindir Kay membuat Nesya terdiam.


"biarkan dia diantar Alex atau naik taksi saja" putus Rio.


"ya sudah terserah kamu" jawab Kay cuek.


Kay merogoh tas nya dan mengeluarkan 2 lembar uang berwarna merah.

__ADS_1


"ini untukmu, siapa tau kau memang terlalu miskin sampai setiap hari menumpang dimobil suamiku" Kay langsung memasukan uang itu disaku blazer milik Nesya.


__ADS_2