
"Tidak apa, aku yakin suatu hari nanti kau akan bisa menerima pernikahan kita dengan lapang dada. Aku akan menghujanimu dengan cinta setiap harinya"
"Tidak perlu"
"Baiklah, emm mulai sekarang aku akan memanggilmu sayang, terserah kau mau memanggilku apa" Al mengalihkan pembicaraan yang sedikit menyakitkan untuknya.
"Hmm"
"Sayang, apa kau menginginkan seorang anak?" Tanya Al hati hati.
"Ya, aku juga menginginkan anak. Tapi bukan darimu, lagipula wanita mana yang mau memiliki anak dari pria brensek sepertimu" ucapan Zifa sedikit menggores relung hati pria itu.
"Ada satu permintaanku" Al memegang telapak gadis itu.
"Lepas!" Zifa menghempaskan tangannya.
"Aku ingin memiliki seorang anak denganmu" pinta Al.
"Cih, aku tidak sudi" decih Zifa.
"Kumohon, aku akan memberikan apapun yang kau minta asal kau mau memberikan seorang anak padaku"
"Apapun itu?"
Al mengangguk
"Ya, apapun itu"
"Bagimana jika aku minta cerai" Zifa memojokan suaminya.
"Tidak tidak, selain itu. Mungkin kau bisa mendapat kebebasan dariku, tapi bukan berarti kita bercerai. Aku tidak ingin kita berpisah"
"Kau memberiku kebebasan?"
"Ya, aku akan memberikannya kalau kau bersedia mengandung anakku" Al Memberi penawaran.
__ADS_1
"Termasuk kebebasan berhubungan dengan lelaki lain?"
Al menghela napasnya
"Sayang, aku tau kau memang tidak mencintaiku, namun bukan berarti kau bebas berhubungan dengan laki laki lain"
"Terserah, itu pilihanmu. Jika kau tidak mau tidak apa" ketusnya lagi.
Al berfikir sejenak
"Apa kau bisa berjanji untuk tetap merawat anak kita dengan baik walau kau berhubungan dengan pria lain?"
"Ya, aku bisa"
"Kau yakin?"
"Kau meremehkanku?"
"Apa ada jaminan bahwa kau akan tetap merawat anak kita dengan baik nantinya?"
"Tidak perlu, aku percaya penuh padamu"
Setelah selesai menata barang barangnya, Zifa segera merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Kenapa kau ikut kemari!" Bentak Zifa kala melihat suaminya ikut berbaring disampingnya.
"Aku mau tidur lah"
"No no,! Kau tidak boleh tidur diranjangku. Tidurlah disofa saja" tunjuk Zifa pada sofa panjang dikamarnya.
"Tapi. Itu terlalu pendek untuk tubuhku" kilah Al.
"Apa aku peduli?, Pergilah"
Akhirnya mau tidak mau Al pindah ke sofa kecil itu yang jelas saja hanya mampu menampung setengah dari tinggi tubuhnya.
__ADS_1
Pagi hari,,
Al lebih dulu bangun dari tidurnya.
Ia merapikan kembali bantal dan juga selimut yang digunakannya semalam ke atas ranjang.
Ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
20 menit kemudian,,
Nampak penampilan Al sudah lebih segar dari sebelumnya.
Ia membangunkan sang istri yang masih terlelap.
"Sayang.. bangunlah, sudah pukul setengah 7"
"Hmm ya, pergilah kau menggangguku saja" gumam Zifa lalu membalikan tubuhnya membelakangi tempat Al berdiri.
"Sayang,,"
Mau tidak mau Zifa membuka matanya setelah mendengar panggilan kedua dari suaminya.
"Kenapa kau menggangguku pagi pagi seperti ini!" Bentaknya kesal karna tidurnya terganggu.
"Ini sudah pukul setengah 7, sebentar lagi jam makan malam"
"Pergilah, aku muak melihatmu" usir Zifa.
Al menghela napasnya, ia harus punya banyak stok kesabaran untuk menghadapi istrinya ini.
"Baiklah, aku keluar dulu" Al meninggalkan kamar dan berjalan ke ruang tengah tempat papa Bryan yang sedang membaca koran.
"Dimana Zifa?" Tanya papa Bryan kala tak melihat putrinya.
"Zifa sedang mandi pa"
__ADS_1
"Ohh, bagaimana perkembangan perusahaanmu?" Tanya papa Bryan membuka obrolan.