Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Kehamilan (RioKay)


__ADS_3

"Kau ke amerika memangnya kau bisa bahasa sana?" Rio meremehkan.


"Kau meremhkanku? Aku bahkan bisa mengusai beberapa bahasa negara lain"


"Oh ya?"


"Sudahlah, aku malas berbicara dengamu" Kay melepaskan tangan Rio yang masih memegang pergelangannya.


"Lepas nggak!!" Kesal Kay.


"Tidak!" Rio tetap pada pendiriannya.


"Ohh jangan jangan kau menyukaiku ya? Makannya kau tidak mau melepas tanganku" tuduh Kay berhasil membuat Rio melepaskan cengkraman itu.


Belum sempat Rio menjawab, Kay lebih dulu melangkahkan kakinya keluar Restoran.


"Ck" Rio yang kesal pun menarik Kay dan memasukannya kedalam mobilnya dan melajukannya ke sebuah apartemen.


"hentikan mobilnya, atau aku akan lompat" ancam Kay.


"coba saja kalau bisa" seringai muncul dibibir pria itu.


"ck, siallan pintunya dikunci" decak Kay kesal.


Rio hanya diam tak menjawab umpatan istrinya itu.


"Kau bisa kulaporkan dengan tuduhan menculik seorang ibu hamil!" Ancam Kay.


"Laporkan saja. Yang ada kau ditertawakan oleh mereka karna aku suamimu" tantang Rio balik.


Kay hanya diam didalam mobil itu merasa kesal dengan Rio yang bertindak sesukanya.


"Ini apartemen siapa?" tanya Kay setelah sampai didepan pintu apartemen itu.


"Ini milikku, sebelah unit ini milik Al" jelas Rio.


"Tuh kan, aku sudah ketinggalan pesawat. Kau harus menggantinya!" Kesal Kay setelah melihat jam tangannya.


"Aku akan menggantinya"


Rio mengirimkan sejumlah uang ke rekening Kay.


"Hei, siapa yang mau meminta uangmu. Harusnya kau membelikanku tiket penerbangan" kesal Kay merasa terhina karna suaminya malah mengirmkan uang dalam jumlah besar.


"Penerbangan apa lagi?"


"Bukankah aku sudah bilang aku akan ke amerika"


"Dengan siapa memangnya?"


"Sendiri lah, memangnya kau melihat aku membawa orang lain" sewot Kay.


"Tetap disini!" Tegas Rio.


" Hei, apa otakmu tidak kau pakai hah? Apa kau tidak malu karna istrimu hamil anak pria lain. Aku tak habis pikir dengan otakmu. Apa jangan jangan kau memang sudah bodoh dan gila?" Tuduh Kay.


"Tidak usah banyak bicara, orang tuaku menginginkan cucu. Jadi ini kesempatan untukku tanpa harus membuatnya"


Plakk


Kay memukul lengan Rio


"Kau pikir anakku apa?! Lagipula kau membohongi orang tuamu!! Aku tidak mau!" Tolak Kay mentah mentah.


"Terserah, mau tidak mau kau harus disini"


Arghhh


Kay setasa ingin mencakar cakar pria didepannya ini. Kalau tahu kejadiannya begini, lebih baik ia langsung ke amerika saja tidak usah repot repot datang kemari.

__ADS_1


"Aku akan bertanggung jawab atas anak itu" tegas Rio.


"Sudah kukatakan aku tidak mau! Lagipula ini bukan anakmu" ketus Kay.


Rio hanya diam tak menanggapi ucapan Kay. Ia beranjak masuk menuju kamar. Kay yang melihat itupun berjalan ke arah pintu hendak keluar.


"Hei, kenapa ini tak bisa dibuka!!" Teriak Kay.


"Katakan apa paswordnya, aku mau keluar" tetiak Kay lagi tak mendapat sahutan dari pemilik apartemen itu.


Setelah dirasa lelah, Kay mendudukan diirnya disofa. Ia berbaring disofa itu merasakan badannya pegal semua.


"Maafkan mama, mama akan mencoba mencari jalan keluar"


Sedangkan dikamar, Rio menelpon orang tuanya yang merupakan pemilik perusahaan di indonesia.


"Halo, ada apa? Tumben menelpon papa?" Tanya papa Rio diseberang.


"Aku ingin papa dan mama datang ke apartemenku di negara X. Ada yang perlu kusampaikan"


"Baiklah, nanti papa dan mama akan kesana sekalian menjenguk bosmu"


Panggilan pun diakhiri


Malam hari,


Rio keluar dari kamarnya. Ia melihat istrinya tidur disofa diruang tengah.


"Ck, para wanita memang selalu menyusahkan" decak Rio kesal.


Mau tidak mau ia menggendong Kay dan membawanya ke kamarnya karna apartemen itu hanya ada satu kamar.


Setelah sampai, Rio menyelimuti tubuh istrinya itu.


Matanya menatap tepat diperut buncit Kay.


"Apa dia..." Gumam Rio bertanya tanya.


Ting tong


Suara bel apartemen Rio berbunyi.


Ceklek


Rio membukakan pintu


"Mama, papa" Rio memyalami kedua orang tuanya itu.


"Bagaimana kabar kalian?" Tanya Rio basa basi.


"Ya seperti yang kau lihat. Apa kau tak ada niatan untuk mempersilahkan kami masuk?" Sindir papa Roni pada putranya.


"Ah iya, masuklah"


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya papa Roni saat sudah duduk disofa.


"Aku akan memiliki anak"


"Maksudmu?" Dua orang paruh baya itu bingung.


"Istriku hamil"


"Istri? Sejak kapan kau menikah? Jangan bercanda"


"Aku tidak bercanda, aku memang sudah menikah"


"Kapan?"


" 6 bulan yang lalu"

__ADS_1


"Kau keterlaluan!! Apa kau menghamili anak orang! Anak macam apa kau ini" mama Tasya (ibu Rio) marah.


"Tidak ma, kami menikah karna ada suatu tragedi"


"Tragedi apa? Kau memperkosanya?!" Tuduh mama Tasya.


"Tidak,"


Rio pun mulai menceritakan awal mula kejadiannya.


"Kalau memang kalian menikah karna terpaksa kenapa dia bisa hamil"


"Ya kami nelakukan hubungan suami istri lah" kesal Rio.


"Ck, sekarang mana menantuku aku mau lihat"


"Dia sedang tidur"


Papa Roni dan mama Tsya menghela napasnya.


Sebenarnya mereka sudah mengetahui semuanya. Hanya saja mereka diam ingin melihat sejauh mana putranya itu bertindak.


Malam hari,


Kay keluar dari kamarnya. Ia mengernyit heran melihat seorang wanita yang memasak diapartemen Rio.


"Anda siapa?" Tanya Kay membuat wanita paruh baya itu menoleh.


"Oh, jadi kau istrinya Rio. Kemarilah"


Kay semakin mengernyit bingung


"Bagaimana anda bisa tau?" Tanya nya heran.


"Kemari dulu"


Kay pun mendekat ke arah wanita itu.


"Aku tasya, ibunya Rio"


Mata Kay melebar sempurna


"Hah?"


"Kenapa kaget?"


"A aku.."


"Jangan terlalu syok, kasian bayimu" wanita itu mengusap perut buncit Kay.


"Ta tante, bisa aku meminta bantuanmu?" Tanya Kay ragu ragu karna merasa inilah kesempatannya untuk melarikan diri.


"Minta tolong apa?"


"Kumohon bantu aku kekuar dari apartemen ini. Aku berjanji tidak akan mengganggu hidup kalian. Aku akan pergi sejauh yang aku bisa. Aku juga tidak akan meminta sepeserpun harta kalian. Kumohon bantu aku" pinta Kay memegang lengan ibu mertuanya itu.


"Maksudmu?"


"Aku ingin pergi sebelum merusak segalanya" Kay memohon.


Kay pun akhirnya menceritakan semuanya yang terjadi padanya.


"Apa kalian tidak malu memiliki menantu sepertiku? Aku hamil anak orang lain. Dan itu akan membuat harga diri kalian tercoreng. Tolong bantu aku keluar dari sini" pinta Kay.


Mama Tasya tersenyum. Ia sebenarnya tau semua yang terjadi tanpa diberi tahu sekalipun.


"Nak, percayalah semua yang ditakdirkan untukmu hari ini adalah yang terbaik. Mungkin bisa saja itu adalah anak Rio tanpa kamu sadari"


"Tidak tan, ini bukan anak Rio. Lagipula saat itu Rio diluar kota"

__ADS_1


"Sttt jangan memanggiku seperti itu lagi. Panggil aku mama. Dan ini adalah calon cucuku" mama Tasya mengusap perut buncit menantunya itu.


"Tapi tan aku..."


__ADS_2