
Setelah keluar dari ruangan dokter, papa Roni pun memutuskan untuk menelpon putranya karna memang keadaan lumayan gawat dan ia tak dapat memutuskannya sendiri.
"Halo pa, ada apa?" Tanya Rio diseberang.
"Rio, istrimu masuk rumah sakit. Dokter mengatakan keadaannya sedikit buruk. Papa tidak bisa mengambil keputusan" ucap papa Roni jujur.
"Bagaimana bisa? Apa istriku melanggar sesuatu?" Tanya Rio.
"Iya, istrimu terlalu bersemangat di mall. Saat mama mengajaknya pulang ia menolaknya. Lalu tiba tiba istrimu sakit pinggang lalu pingsan" jelas papa Roni tanpa ada yang ditutupi.
Degg
Rio jadi ingat dengan perkataan dokter tentang kesehatan Kay.
"Ya udah pa, Rio pulang sekarang" putus Rio.
"Iya nak, hati hati"
Dirumah sakit,
Setelah 2 jam tak sadarkan diri, kini Kay sudah membuka matanya.
"Mana yang sakit nak? Mama panggilin dokter ya?" Mama Tasya panik.
"Tidak usah ma" jawab Kay lemas.
"Papa sudah menelpon Rio. Dia sedang perjalanan pulang" ucapan mama Tasya membuat Kay terbelalak.
Kay berusaha untuk bangun dari pembaringannya
__ADS_1
"Eh nak, jangan bangun dulu. Kamu masih lemas" mama Tasya memperingatkan.
"Mama, Kay mau dirawat dirumah aja. Kay nggak mau disini"
"Berbaring lagi yang tenang. Kasian anak kamu pasti kaget" mama Tasya menenangkan menantunya itu.
Akhirnya Kay menurut. Ia kembali merebahkan tubuhnya.
"Kenapa nggak mau ada Rio? Bukankah justru baik kalau Rio ada disini"
Kay menggeleng, air matanya sudah membasahi wajah cantiknya itu.
"Nggak mau ma, pasti nanti Rio maksa buat lahiran prematur. Aku nggak mau" jelas Kay menangis.
"Enggak, tenang aja. Lagian kita semua kan belum mengambil keputusan"
Mama Tasya menatap suaminya seolah meminta pendapat.
"Biar papa tanyain dulu sama dokter. Kalau aman baru kita pulang" ucap papa Roni lalu keluar dari ruang rawat itu.
Setelah kepergian papa Roni mama Tasya masih berusaha menenangkan Kay yang menangis.
"Nak, udah ya jangan nangis. Kasian anak kamu ikut sedih"
"Pokoknya Kay nggak mau disini ma" kekeh Kay.
Setelah 30 menit berlalu, papa Roni kembali masuk keruangan Kay.
"Sebenarnya dokter melarang pulang. Tapi karna Kay nggak mau dirawat disini jadi papa minta Kay dirawat dirumah dengan pengawasan dokter"
__ADS_1
"Maksud papa" mama Tasya masih bingung.
"Kay masih memerlukan infus untuk tubuhnya. Jadi Kayla bisa tetap diinfus dirumah. Nanti akan ada perawat yang merawat Kay"
Mama Tasya mengangguk mengerti. Sejenak ia lupa bahwa lusa adalah hari penting untuk menantunya itu.
Setelah beberapa jam melewati berbagai pemeriksaan akhirnya Kay bisa melanjutkan perawatan dirumah.
Kay diantar pulang dengan menggunakan mobil pribadi beserta perawat didalamnya karna lagi lagi Kay enggan menggunakan ambulan karna takut.
Sebenarnya papa Roni sedikit kesal dengan menantunya yang banyak permintaan itu.
Sebelum pulang tadi lagi lagi Kay meminta agar tidak memberitahukan kondisi sebenarnya ke Rio. Padahal jelas jelas tanpa diberitahupun Rio pasti sudah tau.
Sesampainya dirumah papa Roni mengangkat tubuh menantunya dan mendudukannya dikursi roda yang sudah disiapkan.
Beliau mendorong kursi itu menuju pintu lift yang mengantarkan ke lantai 3 tepat dimana kamar Rio dan Kayla berada.
Setelah Kay sudah dibaringkan, perawat langsung mengecek infus yang terpasang di punggung tangan Kay.
Ia juga langsung memeriksa beberapa bagian tubuh Kayla sesuai perintah dokter.
"2 jam lagi Rio sampai" papa Roni memberi tahu.
Kay hanya mengangguk pasrah. Ia harus siap jika nanti Rio marah kepadanya atas kecerobohan yang sudah ia buat.
Kay juga harus menyiapkan kata kata sanggahan agar Rio tak memaksanya untuk lahiran prematur.
"Makan dulu ya nak? Mama ambilin cemilan" tawar mama Tasya.
__ADS_1