
"Al, kau itu sebenarnya kenapa? Dari kemarin kau hanya diam saja"
Lagi lagi Al tak menjawab pertanyaan istrinya itu.
"Al, jangan mendiamkanku seperti ini" Zifa memeluk lengan suaminya itu.
Al hanya diam tak merespon istrinya.
"Al.." namun lagi lagi Al tak merespon istrinya.
Zifa melepaskan pelukan tangannya.
Ia menatap ke arah luar jendela pesawat yang menampakan awan awan yang indah dipandang.
Tatapannya kosong namun pikirannya melayang memikirkan apa yang membuat suaminya seperti itu.
"Apa dia seperti itu karna pertemuanku dengan Bayu kemarin?" Batinnya bertanya tanya.
"Sepertinya iya, sejak dari taman dia langsung berubah" batin Zifa yakin.
Ia menatap suaminya yang sudah kembali memejamkan matanya tanpa memperdulikannya.
Ia mengusap perut buncitnya yang masih memerah itu.
Pandangannya kembali tertuju pada pemandangan luar jendela pesawat.
Tess
Setitik air mata menetes dari sudut mata wanita itu.
"Ternyata seperti ini rasanya menahan kekecewaan" batinnya.
Ia baru sadar, mungkin ini salah satu hal yang sudah dipendam lama oleh Al.
"Al pasti sudah terlanjur kecewa padaku" batinnya lagi saat mengingat hari dimana Al menemani bahkan mengantarkannya untuk bertemu dengan kekasihnya dikafe.
__ADS_1
Zifa berusaha menahan agar suara tangisnya tak terdengar oleh telinga suaminya.
Tangannya terus saja mengusap air mata yang seolah tak mau berhenti.
Namun Al tak bodoh, ia sadar istrinya sedang menangis saat ini.
Tanpa Zifa sadari Al sedikit membuka matanya dan melihat bahu istrinya yang bergetar.
"Kau kenapa?" Tanya Al lembut namun belum sepenuhnya melunak.
Karna jika Al sudah melunak pasti ia memanggil istrinya dengan sebutan 'sayang'.
Zifa langsung mengusap air matanya.
"Aku tidak apa apa, memangnya kenapa?" Zifa tetap menatap kearah luar tak berani menunjukan wajah sembamnya dihadapan suaminya itu.
"Kalau tidak apa apa kenapa menangis?"
"Tidak, siapa yang nangis" elak Zifa masih menatap ke arah luar jendela.
"Tidak usah memperdulikanku, lebih baik kau istirahat. Kau pasti kelelahan" jawab Zifa terlihat tenang.
Al menghela nafasnya, tangannya terulus untuk mengusap perut istrinya yang masih terbuka karna Zifa belum kembali menurunkan dress nya.
Tess
Setetes air mata Zifa membasahi punggung tangan pria itu.
"Kemarilah" Al kembali menarik lembut lengan istrinya dan membawa wanita itu kedalam dekapan hangatnya.
Tangis Zifa pecah tepat saat wajahnya menempel pada dada bidang pria itu.
"Sudah sudah, jangan menangis lagi" Al mengusap punggung ibu hamil itu.
"Al maaf,,,"
__ADS_1
Degg
Al tertegun mendengar kata maaf dari mulut istrinya.
"Kenapa minta maaf?"
"Maaf membuatmu terluka karna aku kembali bertemu dengan Bayu. Sumpah demi apapun aku tidak sengaja ketemu dengannya ditaman itu"
"Hmm, sudah sudah" Al mengusap usap punggung istrinya itu.
"Kau memaafkanku kan?" Tanya Zifa untuk meyakinkan.
"Iya"
Zifa mendongakan wajahnya menatap wajah tampan suaminya itu.
"Kau janji?"
"Iya sayangg" Al mencium gemas puncak kepala istrinya itu.
"Jangan marah lagi ya kayak kemarin, mending langsung tegur aku aja tapi jangan diemin aku kayak gini"
"Iyaa"
"Udah ah, nanti salepnya nempel kemana mana" ucap Zifa sembari melepaskan pelukannya.
Tangan Al bergerak mengusap perut buncit itu.
"Ehh Al, itu nanti salepnya nempel kemana mana"
"Enggak, ini salepnya langsung meresap kok"
"Ohh" Zifa manggut manggut mengerti.
"Masih perih?"
__ADS_1
"Udah enggak, cuma nunggu merahnya ilang aja"