Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Melanggar


__ADS_3

"Makan dulu ya nak? Mama ambilin cemilan" tawar mama Tasya.


"Enggak ma, Kay lagi nggak pengen makan" jawab Kay karna memang ia masih merasa kenyang.


Mama Tasya hanya mengangguk pasrah. Menantunya adalah sosok keras kepala. Jadi ia tak mau dibuat pusing hanya untuk memaksa Kayla. Biarlah itu menjadi urusan Rio, pikirnya.


Karna merasa tubuhnya lemah, akhirnya Kay kembali memejamkan matanya.


Entah sudah berapa jam Kay masih setia memejamkan matanya.


Bahkan bulan dimalam hari pun sudah memancarkan cahayanya.


Tanpa disadari seorang laki laki bertubuh jakung memasuki kamar.


Nampak laki laki itu menghela napasnya kasar pada Kay yang sedang berbaring dengan infus di punggung tangannya.


Laki laki itu tak lain adalah Rio yang baru saja sampai di mansion setelah melakukan perjalanan panjang nya.


"Huhh dia memang selalu keras kepala" gumamnya merasa kesal setelah mendengar kabar dari papanya bahwa istrinya itu ngotot pulang kerumah.


"Kay bangun" Rio mengusap usap dahi istrinya lembut.


"Eumm" Kay hanya menggeliat tanpa mengerjapkan matanya.


"Kay, makan dulu. Kamu belum makan malem kan" suara lembut Rio membuat Kay mengerjapkan matanya bangun.


"Kau sudah sampai?" Kay berusaha bangun.

__ADS_1


Dengan sigap Rio membantu istrinya untuk duduk bersandad diranjang.


"Ya seperti yang kanu lihat. Makan ya? Aku ambilin?"


Kay menggeleng


"Lidahku pahit"


"Kalau kamu enggak makan anak kita bisa tumbuh darimana? Lagipula lusa acara tujuh bulanan buat kamu. Minimal kamu harus mendingan"


"Tapi lidahku pahit. Enggak enak" keluh istri Rio itu.


"Aku masakin ya? Kamu mau apa?" Tanya Rio lembut membuat hati Kay sedikit berdesir.


"Sup ayam mau?" Tawar Rio melihat raut kebingungan Kay.


"Ya udah bentar aku buatin dulu" Rio mengecup sekilas puncak kepala istrinya lalu beranjak menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya dengan piyama terlebih dahulu.


Setelah puluhan menit berlalu, akhirnya Rio kembali kedalam kamar dengan semangkuk sup ayam.


"Aku suapi ya?" Tawar Rio penuh perhatian yang jelas mendapat anggukan antusias dari istrinya.


"Kenapa rasanya berbeda?" Tanya Kay merasa sedikit aneh.


"Aku mengurangi jumlah garamnya karna dokter bilang kau tidak boleh makan banyak garam"


Kay menghela napasnya pasrah. Memang benar apa yang diucapkan suaminya itu.

__ADS_1


Ia yakin Rio sudah mengetahui semuanya. Hanya saja mungkin laki laki itu masih mencoba menahan diri untuk tidak membahasnya yang pasti berujung pertengkaran.


Setelah menyelesaikan makannya, Rio meletakan mangkuk itu dinakas.


"Kenapa nekat melanggar pantangan dokter?" Pertanyaan Rio mulai mengintimidasi.


"A aku. .."


"Apa karna aku masih kurang tegas sampai kamu nekat seperti ini?"


Kay menggeleng


Rio membuang nafasnya kasar


Ia memegang pundak istrinya.


"Kay, aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Aku bukan orang yang bisa mengatakan semua yang aku rasakan. Tidakkah kau bisa melihat kepedulianku padamu. Aku mencoba untuk peduli padamu. Setiap malam aku berfikir bagaimana caranya agar kalian berdua sama sama selamat. Tapi kau malah melakukan hal bodoh seperti ini" Rio mulai marah.


"Maaf" Kay menangis membuat Rio mengatur nafasnya agar emosinya mereda.


"Sudah jangan menangis, maafkan aku. Aku hanya sedang berusaha mencoba memperbaiki semuanya. Terutama rumah tangga kita. Aku harap kau bisa mengerti aku, begitupun sebaliknya"


Kay mengangguk lemah


Rio memeluk raga rapuh itu


"Aku menyayangimu dan anak kita. Aku berjanji akan memberikan yang terbaik untuk kalian berdua" Rio menciumi puncak kepala istrinya.

__ADS_1


__ADS_2