
"Nanti kita bahas lagi berdua ya" Al mengusap bahu istrinya itu.
Zifa mengangguk
Malam hari,,
"Kau mau apa?" Tanya Zifa melihat suaminya akan berbaring disofa.
"Mau tidur" jawab Al jujur.
"Disini saja"
"Tidak usah memaksakan dirimu. Aku takut kau tidak nyaman" Al memberi pengertian.
"Tidak apa, tidur disini saja agar kau lebih nyaman"
Al tersenyum lembut
"Sayang, tidak usah memikirkanku. Yang penting kau dan anak kita nyaman itu sudah lebih dari cukup untukku" jawab Al.
"Tapi Al..."
"Sekarang tidurlah, ini sudah larut malam"
Akhirnya Zifa pun berbaring dan segera memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian Zifa kembali membuka matanya kala merasakan matanya tak bisa terpejam.
"Al" panggilnya lirih namun sepertinya Al tak mendengarnya karna sudah terlanjur nyenyak.
Zifa bangkit dari ranjang,
Ia ikut menyusul suaminya tidur disofa yang lumayan lebar itu. ia memiringkan tubuhnya lalu memeluk tubuh kekar suaminya.
Pagi hari,,
Al mengerjapkan matanya bangun saat merasakan sesuatu sedang memeluknya.
__ADS_1
"Loh, sayang" Al membangunkan istrinya.
"Hmm" Zifa menggeliat bangun.
"Hati hati nanti jatuh" Al memeluk pinggang istrinya itu.
"Sayang, kenapa kamu tidur disini? Nanti badanmu sakit semua"
"Hmm?? Entahlah, mungkin aku mengigau semalam" jawab Zifa sekenanya karna malu jika harus mengakui semalam ia ingin tidur sambil memeluk suaminya.
"Oh, bisa saja. Maafkan aku sampai bisa lalai menjagamu" Al mengusap pipi istrinya.
"Tidak apa apa, aku juga tidak tau kalau semalam aku ngelindur"
"Ya udah kalau gitu kamu bersih bersih gih"
"Al, aku tetep kerja ya?" Pinta Zifa.
"Sayang, ini kehamilanmu yang pertama. Jangan terlalu capek. Sebaiknya kamu dirumah saja"
"Tolong dengarkan aku sekali saja. Ini juga demi kebaikanmu dan anak kita" Al berucap dengan nada lembut.
"Tapi jika aku tidak bekerja aku harus melakukan apa? Aku pasti akan bosan" keluh Zifa.
"Ya sudah, kalau begitu kau pindah saja ke kantorku. Kau bisa tetap bekerja tapi dibawah pengawasanku. Gimana?"
"Tapi, bagaimana aku mengatakannya dengan papa dan kaka Zio?"
"Nanti aku akan menjelaskannya pada papa dan kakakmu"
"Beneran? Tapi aku nanti tidak punya teman" keluh Zifa lagi.
"Hei, kau dibawah pengawasanku bukan berarti kau tidak boleh berbaur dengan temanmu lainnya. Hanya saja pekerjaanmu aku batasi agar kau tidak terlalu lelah"
"Kau janji?"
Al mengangguk,
__ADS_1
"Aku janji"
"Baiklah, kalau begitu aku mau"
"Ayo sekarang bersiaplah"
Zifapun bersiap siap menuju kantor suaminya.
..
"Ini ruanganmu?" Tanya Zifa memandangi ruangan luas itu dengan desain modern itu.
"Iya ini ruanganku"
Mata Zifa mengelilingi detail ruangan itu. Matanya menangkap sebuah foto yang dibingkai cantik dan diletakan dimeja kerja suaminya.
"Kau yang memajangnya?" Tanya Zifa mengangkat foto pernikahannya dengan Al.
"Iya, apa kau tidak suka? Jika iya maka aku akan menyimpan foto itu saja"
"Tidak usah, biar disini" tolak Zifa.
"Aku akan menempatkanmu didevisi keuangan agar bebanmu lebih ringan. Kau keberatan? Jika iya aku akan menggantinya lagi"
"Tidak usah, aku suka didevisi keuangan"
"Ya sudah, ayo aku antar keruanganmu" Al menarik lembut tangan istrinya.
Sesampainya diruangannya Zifa kembali dibuat kaget saat tau sahabatnya sudah duduk disalah satu kursi disana.
"Kay, kamu disini?" Tanya Zifa bingung.
"Iya, suamimu yang minta aku pindah kesini"
Zifa menatap Al penuh tanya
Jangan lupa Like, Komen and Vote
__ADS_1