
"Sudi ataupun tidak kau tetaplah istriku" jawab Al.
Zifa hanya diam tak membalas ucapan suaminya itu.
Mobil melaju dengan keheningan sekaligus aura dingin yang mencekam.
Sesampainya dirumah Zifa langsung masuk kekamarnya tanpa sepatah kata pun.
Ia langsung membersihkan sisa makeup nya dan langsung merebahkan dirinya diranjang.
Pagi hari,
Al terbangun dari tidurnya namun tak menemukan istrinya diatas ranjang.
"Dimana dia?" Gumam Al.
Ia segera membersihkan dirinya di kamar mandi.
Beberapa saat kemudian ia telah selesai mandi dan memasuki Walk in closet untuk mengambil baju kerjanya.
Gerakan tangannya terhenti saat akan mengambil jas nya,
"Dulu aku ber ekspektasi bisa dicintai, disayang bahkan bisa dilayani istriku dengan baik. Tapi justru sekarang malah sebaliknya" gumam Al tersenyum getir.
"Tapi tidak apa, suatu hari istriku pasti akan mencintaiku" gumamnya lagi lalu segera memakai jasnya.
Ceklek
Pintu kamar terbuka menampakan Zifa yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Sayang, kemarilah" panggil Al.
Zifa tetaplah Zifa yang angkuh dan ketus dihadapan suaminya itu.
__ADS_1
Ia cuek tak menghiraukan panggilan Al dan segera masuk ke walk in closet.
Al menunggu beberapa menit agar istrinya keluar dari ruangan itu.
Setelah 15 menit berlalu Zifa keluar dari ruangan itu.
"Sayang" Al merangkul pundak sang istri.
"Lepas!" Bentak Zifa.
"Maafkan aku, jangan begini. Aku semalam hanya tak mau kalau kau berkunjung di bar. Bagimana jika terjadi sesuatu denganmu?"
"Tidak akan terjadi apapun denganku kecuali kau yang melakukannya!" Sinis Zifa.
"Ayolah, jangan seperti ini. Bukankah aku sudah mengatakan bahwa kita akan membangun semuanya dari awal? Bahkan kau sudah menyetujui untuk kehadiran anak diantara kita, bukan seharusnya kau bersikap seperti ini" Al berucap dengan lembut.
"Kau hanya meminta seorang anak bukan? Bukankah itu sudah sesuai dengan perjanjian kita. Harusnya kau harus membayar banyak kerugian padaku karna kau sudah menyentuhku, kau juga sudah menipuku!" Ketus Zifa.
"Maafkan aku, tapi harus dengan apa aku menebusnya?"
Al menggeleng
"Aku tidak akan pergi, sampai kapanpun"
"Terserah, lepaskan aku" Zifa memberontak agar Al melepaskan pelukannya.
"Aku akan melepasmu setelah ini.."
"Cup"
Al memberikan satu kecupan dibibir istrinya.
"Lancang sekali kau" bentak Zifa sambil menyingkirkan tangan Al yang masih melingkar diperutnya.
__ADS_1
"Cepat tumbuh disini" gumam Al yang masih didengar jelas oleh Zifa.
Al pun melepaskan pelukannya dengan senyum mengembang dibibirnya.
Al pun langsung kelantai bawah bersiap untuk sarapan bersama.
"Loh, istrimu mana Al?" Tanya mama Sofi.
"Zifa masih dandan ma" jawab Al.
Sementara dikamar,
Zifa yang sudah selesai berdandan namun ia masih memandangi wajahnya dicermin.
Jari jarinya menyentuh bibirnya yang tadi sempat dicium sekilas oleh suaminya.
Bibirnya melengkungkan senyum, namun sepersekian detik kemudian senyumnya memudar berubah menjadi tatapan dingin dan angkuh khas seorang Kenzifa Hendrawan.
Ia segera melangkahkan kakinya ke lantai bawah untuk sarapan bersama.
Ketika sarapan telah selesai, Al dan Zifa berangkat ke kantor bersama.
"Tidak perlu menjemputku" ucap Zifa saat akan turun dari mobil.
"Kenapa memangnya?"
"Aku akan ke acara pesta temanku"
"Tidak apa apa, aku akan mengantarmu"
"Tidak perlu!" Ketus Zifa.
"Pergi denganku atau tidak sama sekali" tegas Al.
__ADS_1
Mau tidak mau Zifa memperbolehkan suaminya ikut bersamanya.
Sebenarnya boleh boleh saja karna dipesta itu teman teman Zifa mengajak pasangannya masing masing. Hanya saja Zifa terlalu gengsi jika mengajak Al kesana berdua.