Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Ingin Hamil Lagi


__ADS_3

"Memangnya apa yang akan terjadi. Dokter saja bilang aman aman saja" bantah Kay.


"Tetap tidak, tunggu satu minggu lagi aku akan mengantarmu ke indo"


"Baiklah" Kay mendesahkan napasnya malas berdebat dengan suaminya yang super menyebalkan itu.


2 minggu kemudian,


Al yang sudah membaik pun diizinkan untuk pulang dengan syarat kontrol rutin ke rumah sakit yang sudah ditetapkan oleh dokter.


,,


Janji Rio nyatanya palsu. Yang katanya hanya satu minggu nyatanya kini sampai 2 minggu Rio tak kunjung kembali ke apartemen.


Kay memang sudah diizinkan keluar apartemen namun didampingi orang kepercayaan Rio karna ditakutkan istrinya itu nekat kabur lagi.


Saat ini Kay berada di mall negara itu berniat merefresh pikirannya yang mulai stress.


"Hei, coba kau telpon tuan mu. Tanyakan padanya kapan kembali. Aku sudah sangat bosan" pinta kay.


"Kenapa tidak menelpon dengan handphone anda sendiri nyonya?" Tanya pengawal perempuan itu.


"Ck, sepertinya dia ganti nomor. Aku tidak bisa menghubunginya" decak Kay.


"Ganti nomor? Baru saja tuan Rio menanyakan keberadaan kita nyonya" jawab pengawal itu.


"Sialan, nomorku berarti diblokir" kesal Kay.


Wajar saja, karna dari beberapa hari lalu Kay terus mengirimkan spam pesan, stiker hingga berjumlah ribuan. Bahkan panggilan puluhan kali karna ia merasa bosan harus melakukan apa hingga muncul ide jail itu.


"Ya sudah, kita kembali ke apartemen saja. Aku lelah" ucap Kay diangguki pengawal itu.


Sesampainya di apartemen, Kay dibuat kaget dengan keberadaan Rio yang sudah berbaring lelap dikamar.


"Oh astaga, manusia ini" geram Kay.


Ia melempar bantal yang ada disofa kamar itu.


"Hey bangun..!!" Teriak Kay membuat Rio mengerjap.


"Berisikk"


"Hei, dasar ingkar janji. Kau berjanji satu minggu. Tapi nyatanya ini sudah 2 minggu. Bahkan Zifa dan Al saja sudah kembali ke indo" kesal Kay.


"Ck iya iya maaf" ucap Rio sekenanya.


"Aku mau pulang sekarang" kekeh Kay.


"Ck, besok saja. Aku capek baru sampai dari amerika" kesal Rio.


"Pokoknya aku mau sekarang. Titik!!" Tekan Kay.


"Ck iya iya cerewet, cepat siapkan barang barangmu sana" kesal Rio.


"Sudah aku siapkan" tunjuk Kay pada 1 koper besar disamping ranjang.

__ADS_1


"Sejak kapan kau menyiapkannya?" tabya Rio heran.


"1 minggu yang lalu" jawab Kay enteng.


"Huhh memang seharusnya aku tak berhubungan dengan wanita" decak Rio bangun dari pembaringannya.


"Apa katamu!!" Kay langsung menghidupkan kode singa nya.


"Tidak ada" elak Rio segera memasuki kamar mandi.


"Dasar laki laki egois. Dia yang salah tapi tak mau disalahkan" kesal Kay.


Entah kenapa setiap melihat wajah Rio membuatnya selalu ingin marah marah. Bahkan jika oerlu Kay ingin mencakar cakar wajah pria itu. Mingkin bawaan bayi pikirnya.


Rio pun segera memesan tiket pesawat yang kebetulan akan berangkat 1 jam lagi.


"Cepatlah bersiap. 30 menit lagi kita harus berada dibandara"


Kay pun membuka kopernya lalu mengambil sebuah dress selutut dan ia pun berjalan ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


"Aku sudah siap" ucap Kay setelah 15 menit berada dikamar mandi.


Rio pun menarik koper mereka dan membawanya keluar aoartemen diikuti Kay dibelakangnya.


Beberapa jam kemudian,


Kay dan Rio sudah dalam perjalanan menuju kediaman.


"Antar aku ke kosku saja" pinta Kay.


"Kenapa lagi?!" Kesal Kay.


"Kalau kau masih mau bekerja kau harus tetap tinggal dirumahku"


"Sebenarnya kau ini kenapa? Aneh sekali. Dulu saja kita biasa berpisah. bahkan aku saja merasa menjadi orang asing di apartemen suamiku sendiri. dan ya, kau kan jarang pulang" kesal Kay.


"Ya intinya mau tidak mau kau harus tinggal di rumah ku" kekeh Rio membuat Kay kembali menghela napasnya.


"rumah? kita kan di apartemen"


"kita pindah lagi" jawab Rio enteng.


"Huh terserah kau lah" Kay pasrah.


Mobil memasuki sebuah mansion megah milik Rio.


"Ini rumah siapa?" Tanya Kay heran.


"Rumahku"


"Bagaiama bisa punya rumah sebesar ini?" Tanya Kay heran karna di berfikir bukankah Rio hanya seoang asisten.


Ya memang Kay akui Rio memiliki gaji besar. Tapi sangat tidak masuk akal jika ia memiliki rumah sebesar ini 'pikirnya.


"Aku punya usaha kecil kecilan. Makannya aku bisa memiliki rumah ini" jawab Rio asal.

__ADS_1


Rio mengajak Kay memasuki kamar utama.


"Kita satu kamar lagi?" Tanya Kay heran.


"Iya, lagipula aku jarang dirumah. Jadi kau bisa bebas"


"Terserah kau saja" jawab Kay masa bodoh karna sudah dipastikan Rio tak mungkin berani berbuat macam macam padanya. Apalagi ia sedang hamil.


"Kau sudah periksa kandungan?" Tanya Rio.


"Sebelum ke negara X aku sudah periksa kandungan" jawab Kay jujur.


"Hmm bagus kalau begitu" Rio mengusap pelan kepala Kay membuat wanita itu seketika membeku.


Entah perasaan apa yang menggelitik dihatinya. Yang pasti Kay merasakan gelanyar aneh dihatinya itu.


"Besok akan mulai bekerja" ucap Kay.


"Iya, terserah padamu"


Tak terasa 1 bulan sudah berlalu,


Dirumah Al,


Al sudah mulai bekerja ke kantor sejak 3 hari yang lalu namun masih tetap harus rajin kontrol kesehatannya.


Malam hari,


Nampak Zifa baru saja masuk ke kamarnya setelah menidurkan putranya dikamar sang putra.


"Dev udah tidur?" Tanya Al yang masih bersandar diheadboard sambil emmangku laptopnya.


"Sudah"


"Kemarilah" pinta Al.


Bukannya naik ke tempat tidur, Zifa malah menyingkirkan laptop Al lalu duduk di samping suaminya sambil menyandarkan kepalanya dibahu Al.


"Tumben, kenapa?" Al mengusap kepala sang istri dengan lembut.


"Nggak papa, cuma kangen aja sama suasana kayak gini. Kita kan udah jarang kayak gini" ungkap Zifa.


Karna memang setelah Zifa melahirkan bukannya semakin harmonis namun hubungan keduanya semakin renggang karna disiang hari Al bekerja sedangkan malam harinya Zifa tidur sedangkan Al masih menjaga putranya yang selalu mengajak begadang.


"Maaf, kita perbaiki ya hubungan kita"


"Kamu nggak salah Al, cuma aku aja yang egois. Terlalu memikirkan diriku sendiri" sesal Zifa.


"Enggak ada yang salah sayang. Mungkin karna kita belum terlalu siap aja" Al menenangkan istrinya.


"Al, aku ingin cepet hamil lagi" pinta Zifa.


"Sayang, bukannya melarang. Bukankah sebaiknya ditunda dulu biar kasih sayang kita tidak terbagi. Kasian Dev, lagipula aku belum pulih sempurna. Pasti belum busa bantuin kamu jaga anak" ucap Al lembut.


"Enggak Al, janji deh kasih sayang Dev nggak bakal kebagi. Aku pengen punya anak yang jaraknya nggak jauh biar saling menyayangi. Justru aku pengen jaraknya deket biar aku bisa sama sama ngurus mereka berdua biar nggak ada yang saling iri" Zifa meyakinkan.

__ADS_1


"Sayang, ngurus 2 anak kecil sekaligus nggak gampang loh. Apalagi nanti kamu hamil masih ngurus Dev yang masih kecil" Al kembali menasehati sang istri.


__ADS_2