
"Ya sudah, bawa istrimu je kamarmu"
Al menarik lembut tangan Zifa.
"Sayang, ayo" mau tidak mau Zifa membiarkan tangannya digandeng pria yang kini sudah berstatus suaminya.
Meski hatinya dongkol namun ia berusaha menahannya karna ada mama mertuanya.
ketika sampai dikamar
"Lepas!" Zifa menghempaskan kasar tangan Al.
"Sudah kuperingatkan jangan sentuh sentuh aku, aku jijik" Zifa memelototkan tangannya.
"Oke oke, maafkan aku" Al tersenyum tipis melihat ekspresi Zifa yang menggemaskan saat sedang marah.
Malam hari
Nampak Zifa sedang duduk sambil menggunakan krim malamnya didepan neja rias.
"Sayang" Al memeluk istrinya dari belakang dan memandangi wajah istrinya dari pantulan cermin.
"Lepaskan aku!" Bentak Zifa.
"Sayang, apa kau lupa janjimu? Kau bilang kau menyetujui jika ada anak diantara kita"
"Ya, lalu?"
"Ya aku ingin mulai membuatnya malam ini" Al mencium telinga istrinya.
"Jauhkan wajahmu dariku! Aku tidak suka disentuh!" Ketus gadis itu.
"Lalu bagaimana bisa menghasilkan anak kalau kau tak mau disentuh"
"Terserah"
"Sayang, aku menagih hak ku ya malam ini" pinta Al dengan tatapan mata yang sudah berkabut ga_irah.
"Kau berjanji memberiku kebebasan nantinya?"
__ADS_1
"Ya, aku berjanji"
"Baiklah, hanya 2 kali dalam sebulan" tegas Zifa.
"Hah? Bagaimana bisa jadi kalau hanya 2 kali dalam sebulan?"
"Aku tidak peduli"
"Ayolah, 2 kali dalam seminggu ya" tawar Al.
"Tidak! 3 kali dalam sebulan"
"Sayang, kalau begitu bagaimana jika sekali dalam seminggu"
Zifa berfikir sejenak
"Baiklah, hanya sekali dalam seminggu"
Al segera mencium bibir istrinya dengan lembut.
Zifa hanya diam tak tahu harus bagaimana hanya diam tak membalas ciuman dari suaminya itu.
Setelah dirasa istrinya kesulitan bernafas Al melepaskan ciuman itu.
"Kau benar benar sudah siap?" Tanya Al sekali lagi.
"A aku,," kini Zifa sedikit gugup.
"Tidak apa jika kau tak siap malam ini, aku bisa memintanya dilain waktu lagi. Istirahatlah"
Cup
Al mencium sekilas kening sang istri dengan lembut.
Zifa langsung berjalan menuju ranjangnya dan segera merebahkan tubuhnya sedangkan Al langsung berbaring disofa.
Pagi hari,
Zifa terlebih dulu bangun, ia berinisiatif untuk membantu mama Sofi di dapur.
__ADS_1
"Kau sudah bangun nak? Kenapa kemari?"
"Zifa pengen bantu mama masak"
"Kau sudah menyiapkan keperluan Al?" Tanya mertuanya.
"Sudah ma" bohong Zifa.
"Mana sudi aku menyiapkan keperluannya" batin Zifa mengumpat.
Setelah masakan selesai, Zifa kembali ke kamarnya.
Ia melihat suaminya baru saja keluar dari kamar mandi.
"Apa kau sudah menyiapkan pakaian kerjaku?" Tanya Al.
"Cih, aku tidak sudi menyiapkan keperluanmu" decih Zifa lalu segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Al mengusap dadanya pelan
"Semua butuh proses Al" gumamnya.
Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah duduk di ruang makan dan sudah siap dengan pakaian kerjanya.
"Kalian benar benar tidak ada rencana honeymoon?" Tanya papa Farhan.
"Belum ada waktu pa" Al beralasan.
"Ya sudah, lain kali atur waktu kalian agar bisa menikmati masa awal pernikahan" nasehat papa Farhan.
"Iya pa"
Setelah sarapan selesai Al dan Zifa bersiap akan ke kantor.
"Ayo aku antar"
"Tidak perlu!" Ketus Zifa.
"Ayolah, biar aku yang mengantarmu"
__ADS_1
Setelah berdebat lama dengan suaminya akhirnya Zifa mau diantar ke kantor.
"Nanti aku akan menjemputmu" ucap Al sebelum Zifa masuk ke kantor Hendrawan grup.