Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Kritis


__ADS_3

"Sttt jangan memanggiku seperti itu lagi. Panggil aku mama. Dan ini adalah calon cucuku" mama Tasya mengusap perut buncit menantunya itu.


"Tapi tan aku..."


"Stt panggi aku ma, mama.. okey" tegas mama Tasya.


"I iya ma"


"Kamu orang mana?"


"Sebenarnya saya dari desa, tapi sejak umur 5 tahun orang tua saya meninggal. Lalu saya dibawa paman kejakarta. Tapi setelah saya masuk kelas 3 sd saya dirawat oleh nyonya Bryan dan Mia hendrawan. Setelah lulus sma saya memutuskan untuk tinggal sendiri" jelas Kay.


"Oh begitu ya. Apa Bryan dan Mia tau kamu menikah dengan Rio?"


Kay mengangguk lemah


"Tau, bahkan papa Bryan yang menjadi saksi pernikahanku"


"Ya sudah tidak apa apa"


"Apa tante tidak malu sedikitpun memiliki menantu yatim piatu sepertiku? Aku bukan orang berada. Lagipula aku melakukan hal yang memalukan. Apa itu tidak cukup sebagai alasan tante membenciku?" tanya Kay heran.


"Stt sudah kubilang panggil aku mama. Aku tidak punya alasan untuk itu. Menurutku dengan kau jujur itu jauh lebih baik"


"Baiklah, mama tolong bantu aku keluar dari apartemen ini. Katakan apa paswordnya"


"Kau yakin?"


"Iya saya yakin"


"Baiklah aku akan mengatakannya. Pin apartemen ini tahun lahir Rio"


"Ah itu sangat mudah" Kay mulai beranjak.


"Tidakkah kau berfikir bagaimana jika suatu hari nanti anakmu menanyakan siapa papanya? Dan bagaimana dengan dokumennya selama hidup?" Ucapan mama Tasya membuat Kay menghentikan langkahnya.


"Mama, aku akan pergi jauh dari negara ini. Jadi akan semakin mudah mengurus dokumen lainnya" Kay tersenyum.


Ia mengambil tasnya di sofa dan langsung menuju pintu. Ia menekan tahun lahir Rio dan benar saja pintu itu langsung terbuka.


Kay langsung ke lantai bawah dengan menggunakan lift. Ia segera menyetop taksi dan meminta sopir itu ke bandara internasional.


Sesampainya dibandara Kay memesan tiket menuju amerika.


Kay menghela napasnya melihat jam penerbangannya masih 1 jam lagi. Ia bersandar disofa yang ada dibandara itu.


Di apartemen


"Dimana Kayla ma?" Tanya Rio yang baru saja kembali dari rumah sakit.


"Istrimu maksudmu?"


"Iyalah, memangnya siapa lagi?" Sewot Rio.


"Dia pergi, katanya sih mau kebandara"


"Apa?! Kenapa mama biarkan?" Kesal Rio.


"Ya aku mana tega melihatnya terus memohon. Lagipula dia juga mengatakan kalau bayi yang dikandungannya bukan anakmu" mama Tasya mengetes kejujuran putranya itu.

__ADS_1


"Astaga ma, apa aku harus mempraktekannya didepan mama agar mama percaya kalau itu anakku?"


"Entahlah, sepertinya mama lebih oercaya pada Kayla" pancing mama Tasya lagi.


"Ini semua salah paham. Bayi yang diperut Kay itu anakku" akhirnya Rio mengaku.


"Ya sudah kenapa kamu malah marah sama mama"


"Ya harusnya mama jangan biarin dia pergi"


"Daripada kamu ngomel mending nyusul dia"


Rio pun bergegas ke bandara ia mencari penerbangan atas nama Kayla.


Dan benar saja, Kayla akan terbang ke amerika.


Rio mencari cari istrinya itu diruang tunggu.


Ia menghembuskan napasnya lega melihat wanita yang dicarinya sedang tertidur pulas disofa bandara itu.


"Ck, wanita memang selalu menyusahkan"


Mau tidak mau Rio pun membopong istrinya yang tertidur pulas itu dan membawanya kemobil.


"Dasar kebo" umpat Rio karna istrinya tak juga bangun walaupun mobil sudah sampai diapartemen.


Ceklek


"Loh, Kayla kenapa? Pingsan kamu pukul ya?!" Tuduh mama Tasya.


"Stttt" Rio memberi kode agar mamanya diam.


Rio pun membaringkan Kay yang tertidur kedalam kamar.


"Sayang, pulanglah. Ini sudah malam, lebih baik kamu tidur di apartemen saja"


"Tidak, aku mau disini saja" tolak Zifa.


"Sayang, Dev pasti mencarimu. Aku disini saja tidak apa apa"


"Enggak, Dev udah sama mama. Pasti dia udah anteng"


"Sayang.."


"Tapi aku nggak mau ninggalin kamu Al"


"Sayang, jangan begini. Kasian Dev, aku tidak apa apa disini. Kau bisa datang kesini lagi besok"


"Al, aku.."


"Sayang, sekali saja kau mengikuti kata kataku" pinta Al.


"Baiklah, aku ke apartemen saja" putus Zifa.


Ia segera beranjak dari duduknya


"Aku ke apartemen dulu, kalau ada apa apa kabari aku. Besok pagi aku kesini lagi"


"Iya sayang"

__ADS_1


Zifa pun keluar dari ruang rawat Al dan kembali ke apartemen.


Tepat pukul 2 dini hari,


Al merasakan sakit luar biasa tepat dibagian bekas operasinya. Bahkan Al sampai kejang hingga tak sadarkan diri.


Untung saja malam itu mama Sofi dan papa Farhan berjaga di ruang rawat Al hingga mengetahui keadaan putranya itu.


Bahkan dokter menyuntikan obat pereda nyeri sekaligus bius agar Al tertidur.


"Tuan, nyonya. Keadaan tuan Al merupakan tanda tubuhnya belum mampu beradaptasi dengan anggota tubuh baru. Dan jika hanya dibiarkan maka akan semakin parah. Sebaiknya tuan Al dirujuk ke negara A secepatnya karna disana memiliki teknologi baru yang lebih canggih"


"Apa malam ini juga bisa dirujuk dok?" Tanya papa Farhan.


"Bisa tuan, justru akan lebih baik agar besok bisa langsung mendapat perawatan"


"Baiklah, sekarang saja. Saya minta bantu kelengkapan dokumen rujukannya" pinta papa Farhan.


Dokter itupun membantu dokumen rujukan Al sedangkan papa Farhan menelpon anak buahnya untuk menyiapkan jet pribadi.


Ia juga mengirimkan pesan pada besannya, Papa Bryan untuk mengabarkan kondisi Al dan meminta besannya agar kembali ke tanah air saja bersama Zifa dan Dev karna papa Farhan dan mama Sofi sendiri lah yang akan menemani pengobatan Al ke negara A.


Pagi hari,


Zifa sudah rapi dan juga anaknya juga sudah rapi berniat datang kerumah sakit.


"Nak, mau kemana?" Tanya mama Mia.


"Mau kerumah sakit ma, ketemu Al"


"Sebaiknya kita kembali ke indo saja" papa Bryan menyela.


"Loh memangnya kenapa? Aku tidak mau. Lagipula suamiku disini"


"Dengarkan papa, semalam suamimu dirujuk ke rumah sakit negara A agar mendapatkan perawatan yang lebih baik"


"Apa?! Kenapa aku tidak diberi tahu?!" Zifa geram merasa dibohongi.


"Semua terjadi mendadak, papa juga semalam baru dikabari"


"Kenapa bisa mendadak? Bukankah kondisi Al sudah membaik?"


"Semalam Al kejang kejang. Jadi dokter memutuskan untuk merujuknya ke negara A"


"Apa?! Aku mau menyusul Al ke negara A saja"


"Zif, kau harus ingat kau punya seorang anak kecil. Kau tidak bisa seenaknya mengambil keputusan. Lagipula mertuamu bilang lebih baik kita kembali ke indo karna mereka yang akan menjaga Al"


"Tapi pa.."


"Ziff"


Zifa menghela napasnya, hatinya tidak tenang setelah mendengar kabar itu.


"Bersiaplah, 2 jam lagi pesawat sudah siap"


Zifa kembali kedalam kamarnya


Ia menangis sambil memeluk putranya yang nampak kebingungan.

__ADS_1


"Momy momy kenapa" bayi itu berceloteh.


"Dev, doain dady biar bisa sehat kayak dulu biar kita bisa kumpul sama sama lagi"


__ADS_2