Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Kehamilan Zifa


__ADS_3

"Lalu kalau mau ambil tindakan kelahiran prematur harus berapa bulan dok? Istriku tidak setuju jika melahirkan di usia 30 minggu"


"Tapi memang sebaiknya dilakukan diusia itu yang artinya minggu depan"


"Dok aku tidak mau mengambil resiko sebesar itu untuk anakku. Apa tidak boleh sampai 36 minggu?"


"Nyonya, 36 minggu berarti anda harus menunggunya selama 7 minggu kedepan. Saya tidak yakin dengan itu" dokter mencoba meyakinkan.


"Aku yakin bisa melewatinya dok"


"Baiklah jika itu yang nyonya inginkan. Namun saya tidak bisa menjamin semuanya. Anda hanya disarankan untuk melakukan pemeriksaan seminggu sekali untuk melihat kondisi tubuh anda"


Kay mengangguk antusias, sedangkan Rio nampak masih ragu dengan keputusan sepihak yang dibuat Kay.


"Rio, kau harus percaya padaku kalau aku bisa melewati semuanya. Kau tau kan aku bukan wanita lemah yang menyerah begitu saja" Kayla meyakinkan suaminya.


"Kay, ini masalah nyawa. Bukan bahan oercobaan"


"Tidak, aku tetap pada pendirianku" ucapan Kay membuat Rio menghela napasnya.


Konsultasi berlanjut hingga dokter mengizinkan Kay melakukan acara syukuran besok dengan syarat tertentu.


Ke esokan harinya, Kay memandangi wajahnya didepan cermin.


"Kenapa hmm?" Tanya Rio sambil memeluk istri mungilnya itu.


"Aku cantik kan pakai dress ini?" Tanya Kay.


Rio menyandarkan dagunya dibahu istrinya sedangkan tangannya masih melingkar diperut buncit itu.


"Hmm kamu selalu cantik. Tapi mungkin akan tambah cantik lagi kalau kau rajin makan dan menaikan berat badanmu"


"Apa aku terlihat jelek jika kurus seperti ini?" Tanya Kay sendu.


Rio membalik posisi istrinya hingga menghadapnya.


"Siapa bilang kamu jelek? Hanya saja aku lebih suka melihatmu berisi agar orang orang tau bahwa kau bahagia bersamaku"


Kay hanya diam membuat Rio bertanya.


"Apa kau tidak bahagia bersamaku?"


"Aku bahagia bersamamu, hanya saja aku takut dengan kenyataan didepanku"

__ADS_1


"Jangan takut, ada aku. Apapun yang terjadi nanti, itu adalah takdir terbaik untuk kita berdua. Jangan habiskan waktumu untuk menangisi hal hal yang belum tentu terjadi"


Kay mengangguk


Rio berjongkok lalu menciumi perut buncit istrinya itu. Anak papa sehat sehat ya didalam sana. Papa tunggu kamu lahir dengan sehat dan sempurna" ucapnya pada bayi yang dikandungan Kay.


"Apa dia sering menendang seperti ini?" Tanya nya pada sang istri.


"Ya, dia memang sering menendang"


Rio berdiri,


"Mulai besok aku tidak akan ke Dubai lagi"


"Kenapa memangnya?"


"Aku sudah menyuruh orang kepercayaanku untuk menangani masalah disana. Lagipula aku tidak bisa konsentrasi karna selalu mekikirkanmu disini"


"Maaf,"


"Kenapa minta maaf?"


"Gara gara aku fokus kamu harus terbagi"


"Makasih"


Rio mengangguk


Setelah siap mereka berdua turun kelantai bawah,


Hanya ada beberapa saudara saja yang hadir karna Rio melarang mamanya mengundnag banyak orang karna dikhawatirkan Kayla akan kelelahan.


"Hanya perayaaan tradisi saja, lalu foto foto ditutup makan siang" jelas Rio pada istrinya.


Kay mengangguk antusias, ini adalah yang pertama baginya.


Beberapa rangkaian adat sudah dilalui.


"Sayang, kita foto foto dulu"


Setelah beberapa kali jepretan akhirnya mereka semua menutup acara dengan makan siang.


Malam hari, dirumah Al

__ADS_1


"Al, ayo cepet ke kamar" ajak Zifa pada suaminya yang masih berkutat diruang kerjanya.


"Iya sayang, ini aku natiin laptop dulu"


Zifa pun bergelanyut dilengan kekar itu.


"Sayang, kenapa?" Tanya Al.


Sebenarnya hal seperti ini bukan hal aneh lagi saat istrinya bergelanyut manja padanya. Terkadang Al merasa memiliki 2 anak sekaligus.


"Peluk dulu" pinta Zifa membuat pria tampan itu segera memeluk sang istri.


"Udah kan"


Cup


Satu kecupan mendarat dibibir manis istrinya.


"Kamu duduk dulu diranjang" pinta Zifa membuat Al mau tidak mau menuruti ucapan istrinya itu.


Al menyernyit melihat Zifa membuka nakas dan mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang.


"Ini, untukmu"


"Ini apa?" Tanya Al bingung.


"Buka aja dulu"


Al membuka kotak itu,


Al sempat kaget dengan isi kotak yang sama seperti yang diterimanya 3 tahun yang lalu saat istrinya mengatakan bahwa ia hamil.


"Sayang, ini..."


"Iya Al, aku hamil" ucap Zifa antusias.


"Sayang, bukankah aku sudah bilang untuk menundanya dulu?" Tanya Al lembut namun langsung membuat wajah Zifa berubah sendu.


"Kau tidak menerima kehadiran calon anakmu ini Al?" Tanya Zifa dengan suara bergetar.


"Sayang, bukan seperti itu yang aku maksud. Bukankah sudah aku sampaikan alasanku menundanya dulu?" Tanya Al intens namun masih dengan tatapan teduhnya.


Tetap saja Zifa sakit hati melihat respon suaminya itu.

__ADS_1


"Kemarilah" Al menarik lembut pergelangan tangan istrinya namun sayang Zifa langsung menepisnya kasar.


__ADS_2