
"Apasih?" Papa Bryan yang kepo pun langsung membuka ruang rawat Zifa dan menampakan Al yang berdiri disamping ranjang sang istri dengan handuk sepinggangnya sambil memegang ponselnya.
"Oh astaga Al, kenapa tidak memakai baju?" Papa Bryan heran.
"Maaf pa, Al lupa tidak bawa baju ganti. Dan tadi pakaianku sudah terlanjur basah" jawab Al jujur.
'udah terlanjur malu kan' pikir Al.
"Sebentar papa ada baju ganti dimobil" papa Bryan kembali keluar lalu mengambilkan baju untuk menantunya itu.
Beberapa saat kemudian papa Bryan kembali dengan satu stell pakaian yang dibawanya.
Beberapa saat kemudian Al keluar dari kamar mandi dengan celana pendek dan kaos polos yang melekat pas di tubuhnya.
Papa Bryan dan mama Mia memasuki ruang rawat Zifa.
Sekilas mama Mia menatap menantunya yang memang memiliki tubuh yang sangat menggiurkan.
"Oh may god tadi itu roti sobek" gumam mama Mia yang masih didengar jelas oleh Al, Zifa maupun papa Bryan.
Wajah Al nampak memerah karna malu sedangkan Zifa senyum senyum membayangkan betapa 'perkasanyaa suaminya itu.
"Ma.." papa Bryan menegur istrinya.
"Ehh" mama Mia baru sadar kalau ia tadi keceplosan.
"Gimana kondisi kamu? Masih sakit perutmu?" Tanya mama Mia mengalihkan perhatian.
"Udah mendingan ma"
"Dulu mama juga gini pas hamil kakakmu, nggak papa. Asal dokter bilang aman, insyaallah lancar"
__ADS_1
"Iya ma"
Papa Bryan dan Al keluar dari ruangan itu agar Zifa bebas berbicara dengan sang mama.
"Kak Zio nggak dateng ya ma?" Tanya Zifa kecewa.
"Dateng, paling lagi diperjalanan"
"Ohh gitu"
"Eh ngomong ngomong, itu beneran badan Al sebagus itu?" Tanya mama Mia kepo.
"Apaan sih ma" wajah Zifa memerah karna malu.
"Pantesan aja kamu lengket sama dia"
"Enggak ah,"
"Enggak gimana? Baru juga nikah udah isi aja. Kalo nggak nglembur apa?"
"Yakin enggak nglembur?"
Zifa mengangguk mengiyakan
"Kok bisa?"
"Ya gitu"
"Gitu gimana?" Tanya mama Mia makin kepo dengan menantunya yang hampir sama seperti suaminya saat muda dulu.
"Cuma dua kali ma" Zifa memberi sedikit bocoran.
__ADS_1
"Kalo dua kalinya 10 ronde ya nggak salah lagi" cibir mama Mia membuat wajah Zifa makin memerah.
"Apasih ma, bahas yang lain aja"
"Intinya apapun itu, jangan pernah berfikir untuk berpisan dari Al apapun alasannya. Mama tau Al itu orang baik, dia mencintaimu dengan tulus. Jangan sampai kamu kehilangan Al karna keegoisanmu"
"Maksud mama?"
"Kau kira mama tidak tahu kalau kau masih punya hubungan dengan Bayu?"
"Aku sudah berpisah dengan Bayu ma" bantah Zifa.
"Yakin?"
"Aku sudah mulai menata hatiku untuk kembali menerima Al"
"Baguslah, apalagi sudah ada calon anak kalian diperutmu. Kau tidak boleh hanya memikirkan dirimu namun juga anakmu"
"Iya ma, Zifa paham"
Ceklekk
Pintu ruangan Zifa dibuka menampakan Zio yang memasuki ruang rawat sang adik.
"Kak Zio" mata Zifa berbinar melihat kakaknya datang.
"Kak, pelukk" pinta Zifa manja.
Zio melengkungkan bibirnya. Dengan senang hati ia memeluk adik kesayangannya itu.
"Baru juga ketemu kemarin, udah manja aja" Zio mengusap lembut kepala sang adik.
__ADS_1
"Kaka Zio kok nggak ngomong sih sama aku kalau kak Zio mau nikah" kesal Zifa baru bisa ia ungkapkan karna kemarin adalah acara pentingnya.
"Kakak nggak sempet ngasih tau kamu. Kan kamu sibuk honeymoon" goda Zio pada sang adik.