Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
'Aku Lelah


__ADS_3

"Kau cantik, kau baik, kau pintar, kau sempurna. Kenapa harus menangisi pengecut sepertiku? Harusnya kau bahagia dan segera menentukan mana pilihanmu untuk menjadi penggantiku"


"Al.. aku.."


Al menggeleng


"Kumohon, jangan harapkan aku untuk kembali. Aku sudah cukup bahagia dengan segalanya. Pulang dan istirahatlah, nanti aku akan menyusul ke tempatku yang seharusnya"


"Al jangan seperti ini"


"Zifa.."


"Jangan, jangan panggil aku dengan nama itu. Aku tidak menyukainya"


"Lalu kau ingin dipanggil apa?" Al terkekeh.


"Panggil aku 'sayang'"


"Baiklah, sayang" Al tersenyum tipis.


"Al, berjanjilah kau akan sembuh"


"Sayang, aku pasti sembuh. Aku pasti tidak akan lagi merasakan sakit ini lagi. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Aku tidak suka seperti ini. Aku akan menyembuhkannya dengan caraku sendiri"


Zifa menggeleng, ia tahu maksud Al.


"Kalau begitu berjanjilah untuk tidak meninggalkanku"


"Sayang, setiap manusia ada masanya. Percayalah, cintaku akan menyertai langkahmu"


"Al, aku tidak suka seperti ini. Aku suka Al yang cerewet dan memanjakanku. Bukan yang seperti ini. Sembuhlah, demi aku"


Al kembali terkekeh kecil


"Aku tidak pantas untuk tuan putri yang cantik ini. Apa kau tidak malu dengan suamimu yang sekarat ini? "


"Tidak Al, kau akan sembuh"


"Jangan memperberat langkahku. Aku sudah cukup lelah"


"Kau menyerah? Apa kau selemah itu Al" lirih Zifa.


Hening


"Kau dulu berjanji tidak akan meninggalkanku. Kau sendiri yang mengatakan kau mencintaiku tapi kenapa malah sekarang kau yang menyerah Al? Mana janjimu yang mengatakan akan slalu mencintaiku dan anak kita" Zifa menelungkupkan wajahnya dengan air mata yang terus mengalir.


"Sayang, masih banyak pria baik dan lebih sempurna dari aku. Jangan pilih aku, aku sidah tidak mau lagi dipilih"


"Al.." suara Zifa tercekat.


"Berjanjilah untuk bahagia tanpaku. Suatu hari nanti aku hanya ingin melihatmu tersenyum sambil menatap bintang bintang. Aku ada diantara mereka. Jangan khawatir"


"Al apa kau tidak kasian dengan Dev, umurnya baru satu setengah tahun. lalu kau tega membiarkannya hidup tanpa seorang ayah? apa kau tega jika suatu hari temannya membulinya dan mengatakan bahwa dia anak yatim"


"sayang, aku sangat tau putraku. kelak dia akan tumbuh menjadi lelaki hebat yabg tentu saja tidak akan terpengaruh dengan hal seperti itu. kelak dia adalah laki laki yang melindungimu dengan tulus. lagipula aku percaya kau pasti mendidiknta dengan baik"


"tidak bisa seperti itu"


"kenapa tidak? kau momy nya. tugas barumu yaitu mencari dady pengganti yang bisa melindungimu dan anak kita. satu hal yang perku kau ingat, jangan pernah membandingkan ketulusannya dengan ketulusanku. jangan pernah berharap dicintai dengan hebat karna aku telah memenuhi 'hebat' itu sendiri"


"Al, kau.."


"sayang, entah aku bahagia atau sedih. aku hanya ingin mengatakan, aku pemenangnya walaupun aku tak bisa mendapatkan hadiahnya. tapi kau jelas tau bahwa aku pemenangnya" tekan Al.

__ADS_1


"Al, aku mencintaimu"


Al tersenyum getir


"Jangan membohongi dirimu sendiri. Jangan juga mengatakan hal itu karna merasa kasian denganku ataupun rasa bersalah"


"sungguh, aku mencintaimu. aku tidak berbohong"


"jika hatimu tertuju padaku, kenapa logikamu malah condong pada laki laki itu. aku mengizinkanmu bersama laki laki manapun asalkan bukan Bayu. entah kau percaya atau tidak, bayu sudah menikah" ungkap Al.


"Al, aku hanya berteman"


"hanya berteman? berarti selama ini cemburuku saja yang terlalu berlebihan" Al tersenyum getir.


"Dady dady" oceh bocah berjalan mendekati brankar Al sambil membawa mobil mobilannya.


"Dev" gumam Al lirih.


Zifa mengangkat putranya untuk mendekat ke arah Al.


"Dev, lihatlah dadymu. Suruh dia untuk sembuh"


"Dady atit?" bocah itu memegang wajah dady nya seolah paham.


"tidak Dev, dady hanya kurang istirahat saja" jelas Al.


""dady, ayo main" Dev menunjukan mobil mobilannya.


"jika sudah dewasa nanti, Dev harus menjaga momy dan menyayangi momy. okey?"


bocah itu mengangguk, entah paham atau tidak.


"sampai kapanpun pelindung terbaik hanya Kau Al. anak kita adalah tempat kita mencurahkan kasih sayang, bukan tempat kita mendapatkan kasih sayang. kelak dia akan punya kehidupannya sendiri"


"Dev," panggil Al merentangkan tangannya ingin memeluk putranya.


"Al, dibadanmu banyak alat medis" Zifa mengingatkan.


Gerakan Al terhenti


Ia hanya mampu mengusap pipi chuby putranya.


Dev memang sangat dekat dengannya. Namun 2 bulan ini Al bahkan tak berkomunikasi dengan putranya itu.


"Dokter bilang besok kau sudah bisa melakukan operasi"


"Tidak, aku tidak mau" tolak Al.


"Kenapa tidak mau? Semua demi kesembuhanmu"


Al tersenyum kecut


"Aku tidak ingin, bukankah tadi aku sudah mengatakan akan sembuh dengan caraku sendiri"


"Al, jangan seperti ini. Berjuanglah setidaknya demi Dev. Dia masih butuh dady nya"


"Maka dari itu, berjuanglah untuk memberikan Dev kasih sayang seorang ayah dengan kau hidup bersama dengan lelaki pilihanmu"


"Tidak, sampai kapanpun aku tidak mau" Zifa menggelengkan kepalanya.


Drttt


Handphone Zifa bergetar

__ADS_1


'Bayu' itulah nama yang tertera dilayar ponsel mahal itu.


Al juga melihatnya, ia melengkungkan bibirnya.


Tangan Al meraih pipi istrinya itu


"Berbahagialah demi aku" ucap Al mengusap pipi istrinya.


Tak lama kemudian,


Ceklekk


Suara pintu terbuka


"Al.." panggil seseorang yang tak lain adalah mama Sofi dan papa Farhan.


"Mama, papa, kenapa kalian repot repot kesini?"


"Repot bagaimana? Kami sama sekali tidak repot"


"Al, mama hanya ingin kesembuhanmu. Hanya itu. Berjanjilah untuk mengbulkan permintaan mama"


"Mama, jangan seperti ini. Mama tau kan Al kuat" Al menenangkan mamanya.


"I iya mama tau" tangis mama Sofi pecah.


"Al, besok kamu mau ya operasi" pinta mama Sofi.


"Ma, jangan begini" Al menggeleng.


"Kenapa tidak mau?"


"Mama hanya pengen kamu sehat. Mama pengen kamu bahagia"


"Al sudah bahagia ma, lihatlah, Al sudah memiliki istri cantik dan anak yang lucu" Al mengusap pipi istrinya.


"Pokoknya besok kamu harus mau operasi papa nggak mau tau" tegas papa Farhan yang baru saja buka suara.


Al menghela napasnya pasrah


Ke esokan harinya,


Dokter mlakukan check kondisi Al sebelum melakukan operasi besar itu.


Beberapa saat kemudian dokter membacakan hasil pemeriksaan Al.


"Tuan Al, tekanan darah anda sedikit tinggi. Jangan terlalu stress, saya akan menyuntikan cairan agar darah anda kembali normal dan bisa melanjutkan operasi"


Dokter pun menyuntikan cairan kedalam infus Al.


Beberapa jam kemudian dokter kembali datang memeriksa Al.


"Syukurlah, tekanan darah anda sudah normal. Tuan Al, kita sudah siap untuk melakukan prosedur tindakan operasi. Apa anda juga sudah benar benar siap?"


"Sudah dok, lakukan saja"


"Baiklah, saya akan mempersiapkan segalanya. Masih ada beberapa menit untuk berkomunikasi dengan keluarga anda. Apa ada yang ingin ada temui?"


"Tidak ada dok"


"Anda yakin?"


"Yakin dok"

__ADS_1


__ADS_2