Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Perlu Tindakan


__ADS_3

Kedua manusia itu terdiam seolah saling asing.


Rio meremas perut bagian atasnya yang tiba tiba terasa nyeri. Ia menampilkan wajah datarnya seolah tak merasakan apa apa.


"Jaga Rean terlebih dahulu" Rio pergi begitu saja sambil sedikit berlari.


Kay yang melihat itupun menitipkan putranya ke salah seorang tamu yang ia kenal.


Wanita itu menyusul Rio.


"Kamar mandi?" Batin Kay melihat langkah Rio menuju kamar mandi.


"Huekk" suara muntah seorang laki laki terdengar.


Dan Kay tahu jelas itu adalah Rio. Kay menerobos masuk begitu saja.


"Astaga Rio!!" Kay panik melihat Rio sudah muntah darah di washtafel itu.


"Pergi, keluarlah" Rio mengusir dengan suara lirih.


"Tidak, Rio kamu sebenarnya kenapa?"


"Aku mohon keluar dulu" pinta Rio memohon membuat Kay keluar begitu saja dari kamar mandi itu.


Rio mulai membasuh wajah dan mulutnya. Pria itu terduduk dilantai kamar mandi yang kering.


"Ya tuhan, muntahku sudah tidak bisa ditoleransi lagi" badan Rio melemas.


"Rio, are you okay?" teriak Kay dari luar.


"Hmm i'm okay" sahut Rio.


Setelah 20 menit Rio terdiam akhirnya pria itu kembali bangkit keluar dari kamar mandi.


"Kau masih disini?" Rio heran melihat Kay masih didepan pintu.


"Iya, sebenarnya kau kenapa?"


"Maagku kambuh mungkin" bohong Rio.

__ADS_1


Pria itu pergi begitu saja meninggalkan Kay yang masih mematung didepan pintu.


"ada apa dengannya?" batin Kay bertanya tanya.


Rio meminta sopir Al untuk mengantarkannya ke apartemen.


"Sepertinya aku harus segera pergi" gumam pria itu.


Rio menelpon asistennya agar menyiapkan keberangkatannya ke negara A malam ini juga.


Rio hanya membawa koper kecil berisi beberapa helai pakaiannya dan juga dokumen penting.


Pria itu dijemput asistennya menuju bandara.


Pagi harinya, nampak Rio sedang mendengarkan ocehan dari sahabatnya.


"Kau dimana saja? Aku masuk ke apartemenmu tidak ada orang sama sekali?"


"Aku jalan jalan sebentar"


"Kemana?"


"Ke negara A"


"Aku sehat kok, ini nyatanya sudah sampai disini"


"Lakukan pengobatanmu dengan benar disana!" Perintah Al.


"Iya bawel"


"Awas kalau kau tidak melakukan pengobatan aku akan memberitahukannya papa tante Tasya" ancam Al dari seberang.


"Ya ya, terserah" Rio mengakhiri panggilan itu.


Senyumnya terbit mengingat sahabatnya yang masih peduli disaat seperti ini.


Rio mengirimkan pesan pada mamanya bahwa ia ada pekerjaan mendadak dinegara A.


Tak terasa 2 bulan berlalu,

__ADS_1


Rio tinggal di negara A bersama asistennya.


"Gimana dok?" Tanya Rio pada seorang dokter.


"Belum menunjukan perubahan. Harus melakukan transplatasi secepatnya karna organ anda sudah rusak"


Rio menghembuskan napasnya kasar. pria itu bahkan sudah tak mampu lagi untuk sekedar berjalan jauh karna tubuhnya yang melemah.


"Belum ada donor dok?"


"Saat ini belum ada"


Rio menatap sendu kearah dokter itu


"Ya sudah tidak apa apa"


Sepulang dari rumah sakit, Rio menelpon mamanya bermaksud untuk jujur.


"Rio, gimana kabarmu nak?"


"Baik ma, mama lagi apa?"


"Mama lagi nonton tv. Kamu?"


"Ini Rio lagi telpon mama" candaan pria itu tak pernah pudar.


"Seminggu kedepan mama sibuk nggak?"


"Enggak, kenapa memangnya?"


"Dateng ya ma ke negara A. Rio kangen mama" ujar pria itu membuat mama Tasya heran. Tak biasanya Rio seperti ini.


"Apa ada masalah?"


"Tidak ada ma, Rio hanya rindu saja. Sebenarnya Rio mau pulang tapi tidak memungkinkan?"


"Memangnya ada apa?"


"Tidak ada apa apa ma, pekerjaan Rio menumpuk"

__ADS_1


"Iya, besok mama dan papa akan terbang kesana" putus mama Tasya membuat Rio tersenyum lebar.


Setelah lama berbincang akhirnya dua manusia itu mematikan sambungan teleponnya.


__ADS_2