
Tetap saja Zifa sakit hati melihat respon suaminya itu.
"Kemarilah" Al menarik lembut pergelangan tangan istrinya namun sayang Zifa langsung menepisnya kasar.
"Kau jahat Al! Kau tidak mau menerima anakmu sendiri!" Teriak Zifa dengan air mata yang mengalir dipipinya.
"Sayang, bukan seperti itu. Kemarilah dulu, kita bicara baik baik"
"Tidak mau! Kau jahat Al" tangis Zifa semakin deras.
Zifa berbalik hendak keluar dari kamar namun langsung dicekal oleh Al.
"Sayang, jangan menangis. Aku sangat bahagia akan memiliki seorang anak lagi"
"Lepas!"
Al hanya diam tak melepas cekalan tangannya.
Zifa pun menarik tangan suaminya hingga cekalan itu terlepas.
Ia langsung berbaring diranjang dan memunggungi bagian tempat tidur Al.
Al ikut menyusul lalu memeluk istrinya dari belakang.
"Sayang, sungguh aku tidak bermaksud menolaknya. Aku hanya kaget tadi" jelas Al.
"Jangan dekat dekat!" Kesal Zifa lalu melepas tangan Al yang melingkar diperutnya.
__ADS_1
"Sayang, jangan marah dong. Maaf kalau ucapanku menyakitimu. Aku hanya tidak menyangka akan secepat ini"
"Lalu kau mau apa hah?! Mau menggugurkan anak ini?! Hah?!" Teriak Zifa frustasi.
"Sayang, aku tidak bilang seperti itu. Kenapa kamu kepikiran sampai kesana. Dia juga anakku"
"Sejak kapan dia anakmu, dia hanya anakku!"
Zifa langsung beranjak dari ranjang dan langsung membuka nakas yang berisi obat obatan.
Ia meraih segenggam pil itu dan hendak meminumnya.
"Sayang, buang gak!" Teriak Al kesal.
Zifa tetaplah zifa yang nekat dan keras kepala.
Ia langsung memasukan segenggam pil itu kemulutnya.
Plakk
Sebuah tamparan keras mendarat dipipi mulus Zifa membuat wanita itu seketika terbengong dengan tatapan kosong.
Ini adalah pertama kalinya Al menamparnya selama berapa tahun menikah.
Al bernafas lega saat pil yang tadi diminum istrinya bisa keluar semua.
"Kau gila Zif!! Kau mau bunuh diri dengan pil itu! Kau kira dengan ini kanu bisa terlepas dari masalah hah!! Kau bahkan sudah memiliki anak kenapa kau masih berfikir pendek dan kekanakan seperti ini. Aku tak habis fikir dengan sikapmu ini!" Bentak Al dengan suara tegasnya.
__ADS_1
Ini adalah pertama kalinya Al memarahi sang istri karna menurutnya Zifa sudah keterlaluan.
Jika saja tangan Al tak menerobos masuk ke mulut Zifa lalu apa yang akan terjadi. Bukankah istrinya itu akan mati konyol bersama janin yang dikandungnya.
"Sayang, maaf aku tidak bermaksud.." Al tersadar,, tangan Al ditepis kasar dari pipi istrinya.
"Kau kau jahat Al!" Zuara Zifa bergetar membuat Al menatap pilu wanita didepannya.
Tanpa kata Zifa kembali berbaring diranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut.
"Sayang, jangan seperti ini. Maafkan aku, aku tadi sangat mengkhawatirkanmu"
"Aku yang pergi dari kamar ini atau kau yang keluar!" Tanya Zifa dingin.
Melihat suaminya tak merespon Zifa langsung kembali bangun.
"Aku saja yang keluar, kamu istirahat disini saja" tangan Al mencekal lengan wanita itu.
Al lebih pilih mengalah daripada semuanya semakin rumit nantinya. Ia membiarkan istrinya tenang terlebih dahulu. Lagipula pasti istrinya bersikap seperti itu karna hormon kehamilannya 'pikir Al.
Setelah melihat Al pergi Zifa menangis terisak. Tadi ia sudah membayangkan suaminya akan memeluknya dan menciumnya saat tau kabar gembira ini. Namun reaksi Al justru sangat berbeda dengan angan angannya.
Tengah malam Al memasuki kamar dan melihat istrinya telah terlelap dengan jejak air mata di wajah sang istri.
"Maaf" lirih Al mengusap rambut wanita itu.
Al langsung ikut berbaring diranjang itu, tak peduli jika nanti istrinya akan marah.
__ADS_1
Tangannya bergerak mengusap perut istrinya yang masih rata.
"Maafkan dady" bisiknya.