Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Perpisahan?


__ADS_3

"Hus jangan berbicara seperti itu. Jika itu memang pilihan kalian berdua mama akan mendukung keputusan kalian. Yang penting kalian sama sama bahagia"


"mama, tolong telpon Kay dong. Rio ingin melihat Rean"


"kenapa tidak menelpon sendiri? apa nomormu masih diblokir?"


Rio mengangguk


mama Tasya menghela napasnya


ia menelpon wanita yang masih berstatus menantunya itu.


"halo ma"


"mama ingin melihat Rean, coba alihkan ke panggilan video"


Kay mengiyakan


wanita itu mengalihkan panggilan video.


tak lama kemudian wajah Rio muncul dilayar itu.


"papa.." bocah itu heboh melihat wajah papanya.


degg


Kay tersentak kaget


"jangan dimatikan" pinta Rio karna tau Kay pasti akan segera mematikan panggilan itu.


"papa ana.." bocah itu seolah menanyakan keberadaan papanya.


"papa masih kerja, sebentar lagi papa pulang"


tak dirasa 1 jam ayah dan anak itu mengobrol


batin Kay dipenuhi pertanyaan melihat wajah tirus Rio diseberang.


"mungkin efek kamera" batinnya.

__ADS_1


"Kay.." panggil Rio membuat Kay mengalihkan panggilan itu kewajah nya.


"iya, bagaimana?"


"ada yang perlu ku bicarakan serius. hanya sebentar saja aku mohon"


Kay hanya diam


"pengacaraku akan mengurus berkas perpisahan kita. maaf aku tidak bisa hadir langsung dipersidangan itu"


"jangan dulu, aku ingin kita berbicara langsung"


"maaf Kay, aku tidak bisa. ada suatu masalah yang tidak bisa kuceritakan. aku menetap beberapa bulan dinegara a" jawaban Rio membuat Kay terdiam.


"aku akan mempertimbangkannya lagi"


"jangan memberatkan dirimu. kau bahagia, maka aku juga akan bahagia. lanjutkan saja, aku tidak akan lepas tanggung jawabku sebagai papa"


Kay terdiam


"ya, nanti kupikirkan" jawab Kay.


setelah satu minggu berlalu, Kay memutuskan untuk menemui Rio ke negara A.


"Rio, beberapa jam lagi Kay akan sampai. biar papa yang jemput dia ke bandara" ucapan papa Roni yang diangguki pria itu.


beberapa saat kemudian papa Roni ke bandara untuk menjemput Kay.


mama Tasya mengusap pundak putranya lembut.


"kau harus sehat untuk beberapa hari kedepan. kau tidak mau kan melihat Kay sedih karna keadaanmu?" mama Tasya berusaha menyemangati putranya.


Rio tersenyum lembut


"mama tenang saja, Rio akan segera sembuh setelah ini" pria itu menerangkan hal yang mustahil.


beberapa menit kemudian


ceklek

__ADS_1


"ohh Kay kau sudah sampai ternyata" mama Tasya langsung mendekat dan menyalami menantunya itu.


Rio juga ikut berdiri dan mengambil alih putranya dari gendongan Kay.


"duduk dulu,." Rio mempersilahkan.


"mau minum apa biar mama buatkan?" tawar mama Tasya.


"nggak usah repot repot ma, nanti Kay buat sendiri" jawab Kay sopan.


mereka mengobrol biasa seperti tidak ada masalah diantara Rio dan Kay.


malam harinya Rio dan Kay duduk berdua dikamar milik Rio.


mata Rio tak henti hentinya menatap putranya yang sudah tertidur lelap diranjang itu.


"Rio, kau kurus sekali" Kay memegang pergelangan tangan pria itu.


"hehehe, aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Beberapa hari yang lalu mama juga sempet marah marah karna aku kurus" Rio terkekeh pelan.


"kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan?" Kay mulai curiga.


"sesuatu apa? tidak ada, lagipula untuk apa aku menyembunyikan sesuatu"


"tidak apa apa"


hening


keduanya sama sama terdiam


"jadi bagaimana?"


"apanya?" tanya Rio bingung.


"kelanjutan rumah tangga kita"


"aku menyerahkan sepenuhnya padamu. tapi saranku ikuti saja kata hatimu. jangan ragu hanya karna melihat hal hal yang tidak penting. jika kau memang yakin, aku akan mendukung semua keputusanmu"


"kau tidak mau mempertahankanku Rio?"

__ADS_1


"bukan seperti itu, aku ada beberapa pertimbangan matang untuk kebaikanmu dan aku juga. dan kurasa keputusan ini adalah yang paling tepat terutama untukmu. aku tidak mau kau susah, kecewa ataupun sedih nantinya hanya karna mengharapkan aku berubah. aku sudah berusaha, tapi ternyata aku gagal"


"apa kau benar benar mencintaiku Rio?"


__ADS_2