
Kay menghela napasnya
"Kenapa memangnya?" Tanya Rio heran.
"Aku bosan disini sendirian"
Rio terdiam, ia sadar setiap istrinya dirawat ia tak pernah menemani perempuan itu karna terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
"Aku akan menemanimu"
"Pekerjaanmu?"
"Nanti aku kerjakan disini saja"
Kay mengangguk semangat
"Minggu depan kita berangkat ke Bali. Aku sudah mempersiapkan semuanya termasuk fotografer selama kita disana nanti"
"Benarkah? Kau menyiapkan fotografer untuk kita?" Tanya Kay antusias.
"Iya, usianya sudah tujuh bulan. Aku berharap dia terlahir sehat dan sempurna" Rio mengusap perut istrinya.
"Iya, aku juga berharap seperti itu"
"Aku ingin mengabadikan momen ini karna mungkin ini momen terakhir" ucap Rio tiba tiba.
"Kenapa memangnya? Kau mau menceraikanku setelah anak kita lahir?" Tebak Kay.
"Bukan itu, aku sama sekali tidak berfikir untuk itu. aku hanya tidak mau kau hamil lagi. Apalagi jika kondisi seperti ini terulang lagi. Aku tidak tega" jujur Rio.
"Kenapa begitu? Aku saja senang senang saja bisa hamil. Kenapa jadi kau yang trauma?"
"Aku hanya tidak tega dengamu"
"Ya, terserah kamu lah"
1 minggu kemudian,
Hari ini Kay dan Rio akan berangkat menuju pulau bali.
"Rio, nanti kita dihotel apa di vila?"
"Aku memesan Vila agar lebih nyaman"
"Baguslah, aku memang lebih suka vila"
Setelah satu minggu berada disana, besok pagi Kay dan Rio memutuskan akan kembali ke kota.
Malam hari,,
__ADS_1
Nampak Kay sedang menatap langit malam bertumpu pada pagar balkon.
"Kau kenapa?" Tanya Rio memeluk istrinya dari belakang.
"Tidak apa apa"
"Katakan saja, apa ada yang membuatmu tidak nyaman?"
"Rio, maukah kau jujur padaku?"
"Tentang apa?"
"Berjanjilah dulu kalau kau akan jujur"
"Iya aku akan berjanji. Cepat katakan"
Kay terdiam sejenak
"Apa tidak ada setitikpun cinta untukku Rio?"
Rio terdiam
Melihat suaminya hanya diam membuat Kay menjadi sedih.
"Tidak perlu dijawab, aku sudah tau jawabannya" Kay kembali berucap.
"Aku sedang berusaha"
"Bukan seperti itu. Hanya saja aku.."
"Tidak apa apa, tidak perlu dijelaskan. Aku tadi hanya penasaran saja"
Rio terdiam,
"Ayo tidur saja. Aku sudah sangat mengantuk" Kay berjalan menuju ranjang.
Tak dirasa, beberapa minggu telah berlalu. Hubungan Kay dan Rio memang semakin dekat dan menunjukan kemajuan.
Rio banyak mengalami perubahan. ia menjadi lebih perhatian dan pengertian. memang itu semua berasal dari lubuk hatinya.
namun Kay tak berfikir demikian, wanita itu tetap mengira bahwa semua ini adalah bagian dari sebuah sandiwara yang akan berakhir sedikit lagi.
Tak terasa, usia kandungan Kay sudah menginjak minggu ke 38.
Dokter pun sudah menjadwalkan operasi untuk Kay yaitu minggu depan. Wanita itu diwanti wanti agar menjaga moodnya agar tekanan darahnya selalu normal.
Hari ini Rio baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya selama 2 hari di negara tetangga.
"Kamu kenapa? Kayak lemes gitu?" Tanya Rio melihat istrinya sedikit lesu.
__ADS_1
"Badanku sakit semua. Rasanya pegal sekali"
"Mau aku pijat?" Tawar Rio membuat Kay menggeleng.
"Kata dokter tidak boleh sembarangan memijat"
"Terus gimana? Istirahat aja ya?"
"Tapi aku males, siang siang gini masak mau tidur lagi. Tadi aja udah bangun siang"
"Ya udah, kalo olah raga aja gimana?" Tawar Rio menaik turunkan alisnya.
"Enggak ah, capek aku"
"Ayolah, bentar aja. Katanya bisa memperlancar persalinan"
"Halah modus, kan aku caesar"
"Iya juga ya?" Pikir Rio.
"Ya udah deh" Rio pasrah.
Kay tidak tega melihat wajah suaminya itu.
"Ya udah, satu aja tapi ya"
"Beneran?" Tanya Rio berbinar.
Kay mengangguk,
Merekapun melakukannya,
Tak dirasa jam sudah menunjukan pukul 1 siang.
Bangun tidur Kay meraba sampingnya dan tidak ada kehadiran Rio disana.
"Uhh" Kay berusaha duduk bersandar.
Ia mengusap perutnya yang terasa mengencang seperti kram.
"Kamu kenapa? Apa karna papamu terlalu bersemangat?" Gumam Kay mengusap perutnya.
"Kay" panggil Rio yang baru saja masuk kamar.
"Ehh" Kay yang kaget reflek menutup tubuhnya dengan selimut.
"Kenapa?" Tanya Kay.
"Tidak apa apa, aku kira tadi kau belum bangun"
__ADS_1
"Ohh, ku kira ada apa"