Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Rindu


__ADS_3

Zifa langsung mematikan ponselnya. Entah kenapa hati Zifa sedikit tenang setelah mendengar suara suaminya tadi. Ia langsung merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya.


Pagi hari,,


Zifa terbangun saat mendengar dering ponselnya.


Dengan mata yang belum terbuka sempurna Zifa mengambil ponselnya yang ternyata panggilan video dari suaminya.


"Morning sayang" sapa Al diseberang.


Bibirnya melengkungkan senyum saat melihat wajah bantal istrinya.


Zifa tau betul suaminya sedang dikantor terlihat dari kursi yang diduduki Al.


"Kau dikantor?" Tanya Zifa basa basi.


"Iya, aku sudah dikantor. Ya sudah kau mandi saja dulu, aku sudah meminta supir untuk mengantarmu"


Tiba tiba Zifa mengerutkan dahinya seperti menahan sesuatu.


"Kau kenapa? Sakit?" Tanya Al melihat istrinya mengernyitkan dahinya.


Zifa menggeleng


"Kenapa? Jujur saja" desak Al.


"Sepertinya maagku kambuh lagi, aku ingin muntah" ucap Zifa lalu meninggalkan handphone begitu saja dan berlari menuju kamar mandi.


"Sayang, kau kenapa? Sayang?" Al panik saat mendengar suara istrinya muntah muntah.


Beberapa saat kemudian


"Sayang, kau tidak apa apa?" Tanya Al panik.


"Tidak apa apa, hanya muntah biasa"


"Kau yakin tidak apa apa? Sudah beberapa minggu terakhir kau muntah muntah terus"

__ADS_1


"Tidak apa apa, akhir akhir ini aku sering tidak nafsu makan" curhat Zifa.


"Oh astaga, maafkan aku karna kurang memperhatikanmu"sesal Al.


"Tidak apa apa, aku sendiri juga kurang memperhatikan pola makanku"


"Ya sudah kalau begitu cepat mandi lalu sarapan. Besok aku akan pulang"


"Kenapa cepat sekali?" Tanya Zifa.


"Tidak apa apa, lagi pula aku tidak akan tenang meninggalkanmu dalam keadaan sakit"


"Aku tidak apa apa, selesaikan pekerjaanmu dulu"


"Iya, nanti aku lihat kondisinya saja"


"Hmm" Zifa mengangguk.


"Ya sudah aku tutup dulu, assalamu'alaikum"


Klikk panggilan diakhiri.


Zifa memijat pelipisnya yang terasa pusing.


"Kenapa akhir akhir ini aku selalu seperti ini?" Gumam Zifa.


Zifa pun bersiap menuju kantor.


Saat mengantarkan berkas ke ruangan sang papa,


"Kenapa wajahmu pucat seperti itu? Kau sakit?" Tanya papa Bryan memegang dahi putrinya.


"Tidak pa, Zifa hanya kurang tidur saja" jawab Zifa.


"Bagaimana bisa kurang tidur? Apa suamimu menyakitimu?" Selidik papa Bryan.


Zifa menggeleng

__ADS_1


"Dari kemarin Al ke singapura untuk meninjau perusahaan cabang"


"Oh, jadi ceritanya putriku ini merindukan suaminya" goda papa Bryan sambik tertawa.


"Bukan pa,," rengek Zifa.


"Lalu apa kalau bukan rindu? Baru ditinggal 2 hari saja kau sampai sakit seperti ini"


"Zifa tidak sakit pa" elak Zifa.


"Lalu ini apa? Jelas jelas wajahmu pucat"


"Ada apa ini?" Tanya mama Mia yang baru saja memasuki ruangan suaminya untuk membawakan makan siang.


"Lihatlah, putrimu ini sakit gara gara merindukan suaminya"


"Paa, Zifa tidak sakit pa" elak Zifa.


Mama Mia langsung memegang dahi putrinya.


"Tidak demam kok, tapi kenapa wajahmu pucat?"


"Tidak apa apa ma, hanya sedikit pusing saja"


"Kau merindukan suamimu? Memangnya Al kemana?"


"Al ke singapura sudah 2 hari ini"


"Oh, jadi benar yang dikatakan papamu?"


"Bukan maa, Zifa tidak merindukannya" elak Zifa kesekian kalinya.


"Rindu juga tidak apa apa kok, lagipula wajar dia kan suamimu" mama Mia mengusap kepala putrinya.


"ciee yang rindu sama suaminya" goda papa Bryan membuat Zifa memberenggut kesal.


Ia segera keluar dari ruangan papanya dan segera melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2