Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Kerinduan (RioKay)


__ADS_3

"Bagaimana dok?"


"Operasinya berjalan lancar. Nyonya Kayla akan segera dipindahkan keruang rawat" ucapan dokter membuat Rio tersenyum.


Akhirnya ada pelangi setelah badai. Pernikahannya yang berjalan dramatis kini sudah mulai menemukan titik terangnya.


Diruang rawat Kay,


"Rio, kapan aku bisa pulang?"


"Satu minggu lagi kata dokter, setelah itu kau bisa pulang"


Kay mengangguk lemas


"Bagian mana yang sakit?" Tanya Rio.


"Tidak ada, aku tidak merasakan sakit"


Rio bernafas lega,


Beberapa hari kemudian, hari ini tepat hari kelima Kay dirawat.


Ia sudah mulai pulih walaupun belum sepenuhnya.


"Kau mau kemana?" Tanya Rio melihat Istrinya hendak turun dari ranjang rumah sakit.


"Aku ingin ke Kamar mandi"


"Ayo aku antar" Rio memegang pergelangan tangan wanita itu.


"Tidak usah, aku bisa sendiri"


"Kau malu?"


Kay mengangguk


"Aku masih bisa berjalan sendiri"


"Rio, besok kau berangkat kerja?"


"Tidak, aku akan menemanimu disini sampai kembali pulih"


"Tidak usah, aku sudah pulih. Sebaiknya kau kembali bekerja saja. Pasti pekerjaanmu sudah menumpuk"


"Tidak apa apa, lebih baik aku disini. Lagipula aku tidak akan tenang meninggalkanmu sendirian disini"


"Sungguh, aku tidak apa apa disini sendirian. Lagipula aku ingin memiliki waktu sendirian" ucap Kay membuat Rio terdiam.


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganjal dipikiranmu? Katakan saja padaku. Aku akan mencoba membantumu"

__ADS_1


"Tidak ada, aku hanya butuh waktu sendiri"


"Baiklah, besok aku akan pergi bekerja"


Keesokan harinya,,


Rio benar benar berangkat kerja sesuai permintaan istrinya.


"Nanti jam makan siang aku akan kesini. Kalau ada apa apa telpon aku. Dan satu lagi, jangan keluar dari ruangan ini dengan alasan apapun. Okey?"


"Iyaa bawell" decak Kay.


"Kalau aku tidak bawel kau akan melanggar ucapanku"


"Iya iya"


Sepeninggal Rio, Kay segera bersiap hendak pergi ke suatu tempat.


Ia bahkan mencopot selang infus yang tertancap ditangannya.


Ia rindu dengan seseorang membuatnya berani berbuat nekat dan melanggar ucapan suaminya.


Beberapa saat kemudian Kay sudah sampai disebuah tempat pemakaman. Ia mencari makan putrinya yang baru satu minggu yang lalu dimakamkan.


Ia meletakan sebuket bunga diatas nisan itu dan juga sebuah boneka kecil yang tadi ia beli saat perjalanan menuju makam.


"Ara, mama datang. Mama bawain boneka buat Ara biar Ara bisa main dan nggak kesepian" ucapan Kay terjeda suara nya tercekat menahan tangis.


"Mama beruntung punya anak seperti kamu yang mampu bertahan diperut mama sampai selama itu. Setelah ini kamu tidak akan merasa sakit lagi jika harus berada diperut mama dan merasakan obat yang mama minum"


"Papamu sangat menyayangimu, dia bahkan menangis saat melihatmu terlahir tanpa tangis. Mama sering melihatnya termenung sendirian. Mungkin papamu ingin melampiaskan kesalnya dengan mama yang ceroboh. Tapi mungkin papamu bingung bagaimana caranya. Mama berharap kau bahagia disana. Mama akan terus mendoakanmu dari sini, kau tetaplah anak kesayangan mama. Kau memiliki tempat tersendiri dihati mama"


Tangisan Kay terdengar semakin pilu padahal matahari sudah tepat diatas kepalanya.


"Sayang, kamu kenapa disini" suara seseorang membuat Kay menoleh.


Ya, suara itu adalah suara Rio, suaminya.


"Jangan rapuh seperti ini. Anak kita pasti tidak suka melihat mamanya bersedih"


Rio tadi sempat panik saat mendengar kabar dari seseorang yang ditugaskan menjaga Kay bahwa wanita itu keluar dari rumah sakit.


Rio menatap pilu istrinya yang menangis memandangi makam itu.


Ia tau istrinya pasti merasa bersalah atas apa yang terjadi pada anak mereka.


"Sayang, ayo berdiri" Rio membantu Kay berdiri.


"Rio, aku.." suara Kay tercekat.

__ADS_1


Ia tak sanggup melanjutkan jata katanya dan lebih memilih memeluk suaminya.


Rio hanya diam mengusap punggung istrinya.


"Sampai kapan kau akan terpuruk seperti ini? Masih banyak jalan kebahagian yang bisa kita lalui. Jangan seperti ini, aku yakin kita bisa melewati semuanya bersama"


Kay masih dengan tangisnya


"Ayo kita kembali kerumah sakit" ajak Rio.


Kay menurut, Rio menuntun istrinya yang masih terlihat lemas itu.


Dirumah sakit,


"Rio, aku tidak mau dirumah sakit lagi. Aku bosan"


"Sayang, kau belum terlalu sembuh. Lebih baik disini dulu sampai kau benar benar pulih" Kay hanya menghela napasnya.


Yang seharusnya sisa 2 hari Kay dirawat nyatanya harus bertambah menjadi 5 hari hingga total Kay menginap dirumah sakit selama 12 hari karna kondisi Kay yang sempat kembali drop.


Hari ini hari kepulangan Kay ke rumah Rio.


1 bulan telah berlalu,


Kesehatan Kay mulai membaik namun Rio masih melarang istrinya untuk beraktivitas berlebih terutama bekerja.


Setiap hari Kay hanya menyiapkan keperluan Rio dan menyambut kepulangan pria itu.


Dokter sudah mewanti wanti agar Kay tak hamil dulu selama minimal 1 tahun karna luka bekas operasi yang belum sepenuhnya kering dan juga tubuhnya yang perlu adaptasi dengan organ baru.


Di dalam kamar,


Nampak Rio baru saja pulang dari kantor dengan wajah lesunya.


"Tumben pulang malam seperti ini?" Tanya Kay membantu melepas dasi suaminya sedangkan tangan Rio bergerak membuka sabuk celananya.


"Hmm pekerjaanku menumpuk"


"Maaf"


"Kenapa minta maaf?" Tanya Rio heran.


"Pekerjaanmu menumpuk pasti karna kau menungguiku dirumah sakit sebulan lalu"


"Bukan, memang sedang banyak saja laporan yang harus diperiksa" Rio menenangkan istrinya.


"Rio, apa kau tidak berniat mencerikanku?" Tanya Kay hati hati sambil membuka kancing kemeja Rio.


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Aku ingin kita bercerai saja dan menjalani hidup masing masing"


__ADS_2