Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Terbongkar


__ADS_3

"Kau mau melihatku seperti ini sampai aku mati nanti? Bukankah kau lebih baik mencari pekerjaan yang tidak membuang wajtumu"


"Bos jangan berkata seperti itu"


"Kau membuang waktumu sia sia dengan merawat manusia sekarat sepertiku"


"Tidak bos, kau pasti sembuh. Aku yakin"


"Bagaimana kau bisa yakin sedangkan aku sendiri tidak yakin?" Al tersenyum getir.


"Pergilah, kau pantas mendapatkan pekerjaan yang tidak membuang waktumu"


"Tidak bos, aku tidak mau" tolak asisten itu mentah mentah.


Rio adalah sahabat sekaligus asisten Al.


Mereka berdua tumbuh bersama sejak kecil.


"Al, jangan seperti ini. Mana semangatmu yang membara itu. Apa kau rela meninggalkan semua orang disini? Kau rela membuat orang orang menangisi kepergianmu?"


"Dan itu tugasmu, pastikan tidak ada seorangpun yang menangisi kepergianku kelak termasuk ibuku sendiri"


Heningg


Arghhh


Al merasakan kepalanya berdenyut hebat. Rasa sakit ditubuhnya seolah dikumpulkan menjadi satu.


Seketika pria itu tak sadarkan diri lagi.


Asisten Rio langsung menelpon ambulan untuk bosnya.


Sedangkan ditanah air,


Zifa menangis tepat saat papa Bryan datang kerumahnya.


"Anak papa kenapa menangis?" Papa Bryan merengkuh putrinya.


Zifa menyerahkan berkas ditangannya pada sang papa dengan air mata yang mengalir.


Papa Bryan menghela napasnya. Ia sudah menduga sebelumnya. Hal ini pasti terjadi.


"Kau ingin meminta penjelasan Al?" Tanya papa Bryan.


Zifa menggeleng


"Aku tidak memerlukan penjelasannya lagi"


"kenapa kau tak mau mendengar penjelasannya? kau takut dengan kenyataan bahwa kau istri yang egois?"


"papa.."


"kenapa? papa tau semuanya. kau kembali dekat dengan mantanmu itu. apa papa perlu membunuh nya agar kau melupakannya hah?!"


"papa, Bayu tidak bersalah"


"lalu siapa yang bersalah disini? kau mau menyalahkan Al atas semua yang terjadi? coba tanyakan pada hatimu sendiri" papa Bryan menunjuk tepat dimana letak hati Zifa.


"Katakan pada papa bahwa kau mencintainya" tegas papa Bryan.


"Papa.." Zifa enggan menjawab.


"Katakan, maka papa akan memberi tahu semuanya"


"Apa yang papa ketahui?" Zifa bingung.

__ADS_1


"Semua yang tak kau ketahui tentang suamimu"


"Papa mau mengatakan Al selingkuh? Zifa sudah tahu" tebak Zifa.


"kau salah paham dengannya"


"salah paham apa pa? dia sendiri yang mengatakan padaku. apa itu bisa disebut salah paham?!" nada bicara Zifa meninggi.


Amarah papa Bryan memuncak


Plakkk


Satu tamparan mendarat dipipi putrinya.


Ini adalah tamparan pertama kali yang diberikan papa Bryan selama merawat putrinya hingga sekarang sudah memiliki cucu.


"Papa.." Zifa nampak tak mampu lagi berkata kata.


"kenapa? kau mau marah dan memaki papa?!" bentak papa Bryan.


"papa tega padaku, hanya karna pria brenssek itu papa rela menamparku!!"


"Laki laki brensekk mana yang kau katakan. bukankah lebih brenssek Bayu itu yang sudah tau kau memiliki suami tapi masih nekat mendekatimu. dan bodohnya lagi kau meresponnya dengan baik. gunakan otakmu untuk berfikir. papa menyekolahkanmu sampai perguruan tinggi, tapi tidakkah kau pakai otakmu hah?!!" emosi papa Bryan tak tertahankan lagi.


Zifa hanya diam tak menjawab ucapan papa nya.


"Suamimu sekarat"ucap papa Bryan singkat.


"Maksud papa?"


"Kau tidak mendengarnya? Alfin Danendra sedang sekarat" tegas papa Bryan.


"Tapi kenapa pa? Dia kecelakaan?" Tebak Zifa.


Belum sempat papa Bryan mengatakan kebenaran nya namun handphonenya berdering.


Nampak nama pemanggil adalah asisten Al.


"Halo Rio, ada apa? Apa ada masalah?" Papa Bryan nampak panik.


"Maaf tuan, saat ini tuan Al kritis. Kondisinya semakin menurun. Dokter sudah angkat tangan jika sampai tak ada pendonor" ucap Rio diseberang.


"Ba bagimana bisa?" Suara papa Bryan bergetar.


"Akhir akhir ini tuan Al memang sudah memburuk dan ini adalah kondisi terburuknya. Detak jantungnya dan nafasnya tidak stabil karna penyakitnya" papa Bryan menjatuhkan ponselnya.


"Papa, apa yang terjadi?" Zifa menggoyangkan badan sang papa.


"Kita harus kenegara X sekarang"


"Bukankah itu tempat Al berada? Tidak! Aku tidak mau" tolak Zifa.


"Leukimia stadium akhir" sebut papa Bryan membuat Zifa lemas seketika.


"Ma maksud papa?.."


"Rio baru saja memberi kabar suamimu benar benar sekarat. Dokter sundah angkat tangan"


Zifa terduduk dilantai, ia tak menyangka suaminya mengalami hal seberat ini dan bahkan ia tak tahu sama sekali.


"tidak tidak mungkin, Al baik baik saja. tadi baru saja aku menelponnya. tidak mungkin" Zifa menggelengkan kepalanya.


"Kau puas kan sekarang? Al akan mati, kau bisa pergi dengan pria brensek pilihanmu itu"


"Pa, Zifa..." Zifa tak mampu meneruskan kata katanya.

__ADS_1


"Aku mau menemuinya pa"


"Tidak perlu, biar papa yang kesana menjemput jenazah nya" ucap papa Bryan tajam membuat Zifa lemas tak berdaya.


"Pa, Al tidak mungkin ma.."


"Mungkin, semua sangat mungkin. Dia tidak mendapat donor sum sum tulang belakang. Seharusnya dia melakukan pengobatan namun dia sibuk dengan sikap egoismu. Dan sekarang dia sudah sekarat. Mungkin beberapa menit lagi Rio akan mengabarkan Al sudah mati"


Drtt


Ponsel Zifa berdering panggilan dari asisten Rio karna handphone papa Bryan sudah rusak.


"Halo nona, apa tuan Bryan bersama anda?" Asisten tampan itu berusaha bersikap tenang.


"A ada" Zifa gemetar menyerahkan handphonenya pada sang papa.


"Tu tuan, jantung bos berhenti berdetak. Dokter masih mengupayakannya" ucap Rio bergetar menahan tangisnya.


"Aku akan segera kesana" ucap papa Bryan.


Tutt


Panggilan diakhiri


"Papa, apa yang terjadi dengan Al" Zifa memegang lengan papanya dengan berurai air mata.


"Papa akan kesana untuk menjemputnya pulang"


"Pa? Kenapa pulang? Biarkan dia berobat disana sampai sembuh"


"Dia sudah sembuh, dia sudah tidak sakit lagi" papa Bryan nampak lemas. Air matanya mengucur deras.


Ia merasa berdosa tidak bisa membantu Al dalam kesulitan seperti ini.


"Maksud papa?" Zifa mencoba menepis segala pemikiran negative nya.


"Jantung Al berhenti berdetak. Dan kau pasti tau artinya"


"Papa, biarkan Zifa ikut" pinta Zifa.


"kenapa? kau mau merayakannya? kenapa harus susah sudah kesana? rayakan saja dengan pria brensekk pilihanmu itu" ejek papa Bryan.


"papa, jangan seperti ini. Zifa mohon, Zifa ingin bertemu Al"


"Baiklah, jangan buat masalah lagi. cukup diam, karna kau turut andil dengan masalah ini" ucapan papa Bryan begitu tajam.


"Sebentar aku akan mengambil Dev dari kamarnya dulu"


Cepat cepat Zifa mengambil gendongan lalu segera menggendong putranya yang sedang tidur itu.


Didalam pesawat pribadi milik tuan Bryan,


Zifa tak henti hentinya menangis, ia menyesal dengan segalanya.


Rasanya ia ingin membalikan waktu.


Ia berharap suaminya masih hidup. Ia berharap semua yang didengarnya hari ini hanyalah mimpi.


2 jam penerbangan,,


Sesampainya dinegara X, mereka langsung menuju rumah sakit tempat Al dirawat.


Asisten Rio nampak emosi melihat kedatangan istri bosnya itu.


jangan lupa like dan komen sebanyak banyak nya biar author tambah semangat

__ADS_1


__ADS_2