
"Papa juga bingung ma, pasti nanti Kay marah kalau kita kasih tau Rio nya. Tapi bagaimana pun ini juga hal penting" papa Roni pusing sendiri.
"Emangnya Rio pulang kapan pa?"
"Belum tau ma, Rio juga nggak bilang apa apa sama papa"
Sedangkan pria yang sedang dibicarakan itu baru saja menginjakkan kakinya di bandara tanah air.
Pria itu berjalan tegap dengan kacamata hitam bertengger dihidungnya.
Setelah mendengar keluhan istrinya semalam, Rio langsung packing dan secepatnya kembali ke tanah air.
Hatinya mengatakan ada yang sedang tidak baik baik saja disini hingga pria itu memutuskan pulang.
Rio menghembuskan nafasnya kasar karna lelah setelah melakukan lebih dari 7 jam penerbangan.
Rio langsung dijemput oleh sopir pribadi mansion nya.
"Ini kita kemana dulu tuan?" Tanya sopir itu bingung harus ke mansion utama, mansion pribadi milik Rio atau justru rumah sakit karna setaunya nyonya nya dibawa kerumah sakit.
"Ke mansionku saja pak" jawab Rio halus.
Pria itu mencoba menelpon istrinya namun tak kunjung diangkat.
"Ck dia kemana? Tak mungkin jam segini belum bangun. Ini sudah hampir siang" Rio menatap jam tangannya menunjukan pukul 9 pagi.
Sesampainya dimansion, Rio langsung berjalan ke kamarnya.
Ceklekk
Hening,,
Rio melihat tempat tidur yang masih berantakan dan juga handphone Kay yang berada diatas nakas bahkan jendela kamar belum dibuka.
"Sayang.." panggil Rio halus.
Tak ada jawaban
Pria itu berjalan ke walk in closet karna jelas pintu kamar mandi terbuka menandakan tak ada orang.
"Loh, dia kemana? Tumben?" Gumam Rio.
Pria itu meletakan kopernya lalu kembali ke lantai bawah.
"Mbak, istriku mana? Kok nggak ada dikamar?"
"Loh, apa tuan tidak tau?" Maid itu malah bingung karna tuannya tak mengetahui jika istrinya berada dirumah sakit.
"Tau apa emangnya?"
"Nyonya Kayla dibawa kerumah sakit oleh nyonya besar karna tadi mengeluh kepalanya sakit" jelas maid itu membuat Rio kaget.
"Loh, kok nggak ada yang ngasih tau aku sih"
"Saya kira malah tuan sudah diberi tahu nyonya besar karna nyonya Kayla memang melarang memberi tahu"
__ADS_1
"Melarang? Memangnya sudah sering terjadi?" Rio mencoba menggali informasi.
Pelayan itu mengangguk
"Nyonya Kay memang sering pingsan dan dibawa kerumah sakit"
"Biasanya dirumah sakit mana mbak?"
"Setau saya dirumah sakut X tuan"
Rio kembali ke kamar untuk mebgambil dompet dan juga kunci mobil.
Ia segera melaju kerumah sakit X karna mama Tasya yang tak kunjung mengangkat telponnya.
Dirumah sakit,
"Sus, pasien atas nama Kayla Andini diruang mana ya sus?" Tanya Rio pada petugas rumah sakit itu.
"Nyonya Kayla baru saja dipindahkan keruang rawat VIP"
"Terimakasih"
Rio berjalan menuju ruang yang ditunjukan,
"Mama, papa" sapanya pada kedua orang tuanya yang baru saja keluar dari ruang rawat itu.
"Loh Rio, kamu pulang?" Tanya mama Tasya kaget.
"Mama gimana sih, liat anaknya pulang harusnya seneng. Malah kaget gini" cibir Rio.
"Baik ma" Rio memeluk sejenak mama kesayangannya itu.
"Papa sama mama gimana sih, masak istri Rio masuk rumah sakit tapi nggak ada yang ngasih tau Rio" kekesalan pria itu keluar juga.
"Nanti mama jelaskan, lebih baik kamu masuk kedalam. Kay baru saja sadar"ucap mama Tasya membuat Rio mengangguk.
Pria itu memasuki ruang rawat Kay
"Huhhh" Rio mendesahkan napasnya kasar melihat badan Kay lebih kurus daripada sebelum ia tinggal.
"Ri Rio, ka kau pulang?" Kay kaget dengan kedatangan suaminya.
"Kau kaget hmm?" Rio duduk dikursi dekat ranjang itu.
"Kenapa? Karna kau menyembunyikan semuanya dariku?"
"Ri Rio aku tidak ber maksud.."
"Mau menjekaskan apa? Jelas jelas kau menutupi semuanya dariku. Apa ini? Badanmu kurus kering seperti ini. Apa bibik dirumah tidak melayanimu dengan baik?"
Rio memegang pergelangan tangan Kay.
"Ti tidak kok, dia melakukan tugasnya dengan baik"
"Apa yang kau rasakan? Mana yang sakit? Dokter bilang apa?"
__ADS_1
"Tidak apa apa, darahku hanya drop saja"
"Bagaimana bisa? Apa kau tidak kontrol kesehatan rutin?"
"Aku selalu rutin ke dokter. Kalau tidak percaya lihat saja buku pemeriksaannya" kilah Kay jujur.
"Ya ya ya, biar nanti aku bicara dengan dokter"
Kay hanya mengangguk lemah
"Sejak aku pergi kau tidak olehraga ya?" Tebak Rio karna sebelumnya Kay rajin olahraga setiap week end.
"I iya" Kay tersenyum malu.
"Ck, baru aku tinggal satu bulan kau sudah seperti busung lapar seperti ini" decak Rio kesal melihat kondisi istrinya yang memprihatinkan.
"Apa katamu?! Busung lapar?!" Kay kesal dengan ucapan suaminya.
"Lalu apa? Badanmu kurus tapi perutmu buncit seperti orang hamil saja" cetus Rio.
"Siapa bilang kau meninggalkanku sebulan. Kau sudah pergi hampir dua bulan" sewot Kay kesal.
"Iya iya, hampir dua bulan"
"Lagipula aku bukan busung lapar, tapi aku memang hamil" ketus Kay lagi merasa kesal.
Momen yang ditunggunya akan memberi Rio kejutan nyatanya hancur sudah karna wanita hamil itu terlanjur kesal.
"Oh, hamil" Rio manggut manggut mengerti.
"Kau itu benar benar manusia berhati batu" sindir Kay karna tak melihat raut bahagia diwajah suaminya.
"Bagaimana bisa....." Ucapan Rio terhenti saat sadar dengan apa yang istrinya katakan.
"Apa katamu? Kau hamil?!"
"Jangan berteriak, aku tidak tuli"
"Cepat katakan, kau beneran hamil?!" Rio berdiri dan mendekatkan wajahnya pada istrinya.
"I iya" Kay mulai gugup.
"Oh ya tuhan, terimakasih" Rio memeluk tubuh kurus itu dan mencium kepala Kay berulang kali.
"Kenapa baru memberitahuku?"
"Karna kau sibuk dengan pekerjaanmu" ketus Kay lagi masih kesal dengan suaminya.
"Maaf maafkan aku, aku berjanji akan lebih baik lagi dalam membagi waktuku"
Rio mengusap perut yang mulai membuncit itu.
"Sudah berapa minggu?"
"17 minggu"
__ADS_1