
"Kok lama sih dok, temen saya aja 2 hari bisa pulang" protes Kay.
"Dalam kasus anda ada pendarahan dan riwayat preeklampsia. Jadi harus benar benar di perhatikan"
"Baiklah kalau gitu" Kay pasrah.
Tak terasa 5 hari berlalu,
Rio dan Kay memutuskan untuk kembali ke mansion pribadi mereka.
Kay sudah mulai bisa beraktivitas karna Rio meminta agar diberi obat terbaik agar istrinya tak terlalu lama merasakan sakit.
"Ini catatannya. Kamu beli gih" Kay menyerahkan catatan belanja pada suaminya.
"Nyuruh pembantu aja ya, aku males ke mall"
"Oh, jadi kamu males belanja buat anak kamu sendiri?"
"E eh, enggak kok. Enggak jadi, ya udah biar aku aja yang beli" Rio mengambil catatan itu lalu membacanya sekilas.
"Tidak beli keranjang tidur bayi?"
"Tidak usah, beli kasur kecil aja buat bayi"
"Terus nantindia tidurnya dimana?"
"Ya diranjang kits lah"
"Lebih baik beli saja. biar kita nyaman, babynya juga nyaman"
"Pemborosan"
"Ck, kau ini" decak Rio kesal.
Pria itupun menuju mall untuk membeli barang yang dituliskan istrinya.
"Astaga, ini ada alat mandi bayi juga?" Rio menggerutu iesal karna setaunya ada banyak merk untuk bayi.
"Ambil ajalah yang paling mahal" Rio mengambik asal beberapa alat mandi dan juga kebutuhan lain.
"Mbak, tempat gendongan bayi sebelah mana?" Tanya Rio pada seorang spg.
"Disebelah sana tuan, mari saya antar"
Spg itu mengantarkan Rio menuju rak gendongan bayi.
"Yang model apa pak?"
"Modelnya banyak ya mnak?" Tanya Rio bingung.
"Banyak pak ada model baby wrap, ring sling, ssc, hipseat....." Rio tambah pusing mendengar ucapan pegawai itu.
"Apa aja deh mbak terserah, yang penting untuk bayi baru lahir yang palimg bagus"
Pegawai itupun mengambil sebuah gendongan yang cocok untuk Rio.
"Untuk brand ini harganya lumayan pricy pak"
__ADS_1
"Nggak papa, saya ambil yang ini"
Rio pun mendorong keranjang belanjaan kesana kemari mengitari mall itu guna memenuhi catatan yang dibuat Kay.
"Astaga, jadi kematin itu juga belum beli stroller bayi" decak Rio kesal melihat catatan belanjaannya.
Pria itu langsung ke bagian stroller bayi juga keranjang tidur.
Tanpa pikir panjang Rio menunjuk sebuah stroller dari brand terkenal dan meminta pegawai untuk membungkusnya.
Di kasir,
"Buat keponakannya ya mas?" Tanya seorang kasir yang tak mengenali Rio karna pria itu mengenakan masker.
"Buat anak saya"
"Oh, udah nikah to"
"Hmm iya"
Rio menatap bingung barang belanjaannya yang membeludak banyak.
"Mas, barang yang besar besar ini nanti dianter aja ya kerumah saya, pake ekspedisi mall aja" titah Rio diangguki pegawai disana.
Alhasil pria itu hanya membawa satu kantong besar berisi kebutuhan bayi.
"Udah selesai? Gimana rasanya?" Sindir Kay melihat suaminya yang langsung duduk disofa.
"Capek lah, barangnya banyak banget"
"Kan ada maid, nanti juga bisa sewa baby sitter"
"La pertanyaannya ini anak kamu atau anaknya maid. Kalo anakmu ya yang beliin harus kamu, ngapain nyuruh nyuruh orang" ketus Kay lagi karna suaminya selalu mengandalkan orang lain.
Rio hanya diam, ia bangun hendak menggendong putranya di ranjang.
"Eitss mau apa?" Kay menghalangi.
"Mau gendong Rean lah"
"Cuci tangan dulu, cuci muka, ganti baju. Baru boleh gendong Rean" titah Kay.
"Kenapa memangnya? Tanganku bersih kok" Rio menunjukan telapak tangannya.
"Kamu habis dari mall. Kamu udah nyentuh banyak barang, takut ada virus. Emang mau kalau anak kamu sakit?"
"Ya udah deh aku bersih bersih dulu" Pria itu pasrah lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Saat Rio keluar dari kamar mandi, ia melihat istrinya sedang menyu sui putranya di sofa.
"Kay memangnya nifas itu berapa lama?" Tanya Rio kepo.
"Kenapa tanya tanya"
"Ya aku pengen cepet cepet anu. Lagipula kan anak kita udah lahir jadi kan bisa lebih leluasa" jawab Rio vulgar.
"40 hari"
__ADS_1
"Hah? Yang bener aja. 40 hari itu lama loh. Satu bulan lebih, mana bisa aku tahan sampai satu bulan lebih"
"Kenapa nggak bisa? Dulu aja pisah 2 bulan biasa aja"
"Ya itu beda. Kan pas itu kepepet sama kerjaan diluar. Nah ini, aku tiap hari disuguhi pemandangan kayak gini. Ya jadi 'pengen lah. Aku kan laki laki normal"
"Kau itu sudah melebihi batas normal. Ada ada saja, baru gini aja udah goyah. Gimana kalo kamu ketemu klienmu yang jauh lebih boh ay"
"Ya itu beda, mereka kan cuma sebatas rekan kerja. Enggak naf su sama sekali aku. Tapi kan kamu istriku, ya jelas pengennya sama kamu lah"
"Ya terserah gimana caranya kamu nahan" cuek Kay.
"Yah kok gitu sih, pake cara lain ya?" Pinta Rio.
"Enggak!"
"Pliss, masak nolak suami sih"
"Sekali enggak tetep enggak" tolak Kay karna jika menggunakan cara itu bisa dipastikan mulut dan tangannya akan kebas karna suaminya itu sangat luar biasa.
"Huhh tega banget mama mu ini, lihatlah dia sangat kejam dengan papa" sindir Rio mengusap pipi putranya.
"Jangan pegang pegang!" Sungut Kay karna tangan Rio bukan hanya mengusap pipi putranya namun juga memegang asetnya.
"Masak gini aja nggak boleh" Rio merremmas salah satu aset istrinya yang tidak digunakan untuk minum.
"Rio!" Kesal Kay.
"Ughhh oeeee" baby Rean yang kaget pun langsung menangis.
"Tuh kan jadi nangis, kamu sih!"
"Loh kok aku, kan yang ngagetin kamu Kay"
"Arghh terserah lah. Pusing aku" Kay frustasi menghadapi dua pria di depannya.
Yang satu hanya bisa menangis sedangkan satunya malah meminta hal hal aneh.
Malam hari,
Kay berbaring lelah diranjang disusul suaminya yang ikut merebahkan diri.
"Ahh Rio risih" kesal Kay karna suaminya memeluknya.
"Kenapa risih? Anak kita aja udah jadi, masak pake acara risih segala"
"Kamu kalau bicara disaring dikit"
"Anak kita juga belum paham sama gituan"
"Terserah kamu lah" Kay pasrah.
Wanita itu tambah kesal kala tangan nakal suaminya memasuki piyama miliknya.
"Rio, tanganmu itu lo" kesal Kay lagi.
"Kenapa kan cuma pegang doang" Rio berkilah padahal pria itu lebih dari sekedar memegang.
__ADS_1