
"Tidak ada apa apa ma" Rio menenangkan ibunya itu.
Mama Tasya tak mau ikut campur masalah rumah tangga putranya itu.
Dikamar,
"Rio, pliss jangan ambil keputusan apapun. Biar aku sendiri yang memutuskan hidupku" pinta Kay memohon.
"Kay, kau harus ingat. Keselamatan mu jauh lebih penting. Apa artinya seorang anak lahir tanpa seorang ibu. Itu sama saja, jangan membuat aku merasa bersalah seumur hidupku" Rio memegang pundak Kay.
"Rio, aku berjanji setelah anak ini lahir aku akan melakukan pengobatan sungguh sungguh. Aku yakin aku akan sembuh. Percayalah" Kay meyakinkan.
"Atas dasar apa aku harus percaya padamu jika dokter saja mengatakan tidak mungkin"
"Rio, aku mohon jangan egois" air mata Kay bercucuran.
"Kau juga egois Kay. Dengan mengorbankan dirimu untuk anak kita bukankah itu juga egois? Kay tatap aku.." Rio menangkup pipi istrinya.
"Anak itu rezeki, jika kemungkinan terburuknya dia tak bisa bertahan mau tidak mau kita harus ikhlas. Masih banyak kesempatan untuk kita memiliki anak lagi nantinya. Pliss dengarkan aku"
"Rio, aku tetap tidak mau. Apa kau tidak ingat aku memperjuangkannya sendirian selama ini. Dan tiba tiba kau datang hanya untuk mengatakan agar aku mengorbankannya" teriak Kay frustasi.
__ADS_1
Ucapan Kay masuk sempurna ke relung hati Rio. Ia sadar bukanlah lelaki yang baik. rasa sesal hinggap dihatinya.
"Kay, aku sadar bukan laki laki baik. Bahkan aku sadar aku adalah laki laki pengecut. Tak bisakah kau menebus semua kesalahanku dengan tetap mempertahankanmu" Rio mencoba membujuk Kay yang keras kepala.
"Tidak aku tidak mau" Kay menggelengkan kepalanya.
Rio hanya mampu menghela napasnya berat
"Begini saja, aku akan tetap mempertahankannya sekuat yang aku bisa. Jika memang nanti aku sudah merasa kesakitan aku akan menuruti semua ucapanmu dengan melahirkan anak ini"
"Tidak! Kau kira aku tidak tahu. Pasti kau akan menutupi rasa sakitmu nantinya" tolak Rio.
"Tidak, aku berjanji tidak akan menutupi semuanya darimu. Setidaknya biarkan aku mencobanya lebih dulu"
"Rio, aku mohon. Biarkan aku bertahan semampuku. Aku janji tidak akan menutupi apapun darimu" ucapan Kay terlihat meyakinkan.
"Kau berjanji tidak akan menutupi apapun dariku?"
"Iya aku berjanji" Kay mengangguk semangat.
Akhirnya mau tidak mau Rio mengalah. Tapi ia tak akan diam begitu saja. Ia akan segera mencari pendonor ginjal untuk istrinya agar semuanya segera terselesaikan.
__ADS_1
Ke esokan harinya diruang makan
"Rio, Kay, apa kalian tidak berniat mengadakan acara tujuh bulanan?" Tanya mama Tasya.
"Kenapa memangnya ma?"
"Itu bagian dari tradisi kita. Selain itu juga ajang untuk berbagi"
"Bagaimana? Kau mau?" Tawar Rio.
"Tidak tahu, aku ngikut aja"
"Baiklah, aku mau ma. Tapi yang sederhana saja. Aku tidak mau mengundang banyak orang hanya keluarga saja ma"
"Iya mama juga setuju"
Kay tersenyum ia bahagia mendapat mertua yang lebut seperti mama Tasya.
"Kay, kau harus banyak makan. Mama lihat badanmu semakin kurus" ucapan mama Tasya sedikit menyinggung Kay.
"Maaf, mama tidak bermaksud apa apa. Hanya saja mama ingin kau dan anakmu sehat" ralat mama Tasya melihat wajah menantunya berubah.
__ADS_1
"Tidak apa apa ma, mulai sekarang Kay akan mencoba menjaga makan Kay agar tidak kurus seperti ini" jawab Kay tersenyum.