
"Zifa sudah kenalan belum sama Sarah? Mama lupa mengenalkanmu padanya. Dia ini sepupu Al yang tinggal disingapura" terang mama Sofi.
"Sarah" Sarah menyodorkan tangannya
"Zifa"
"Maaf tidak bisa menghadiri pernikahan kalian karna saat itu aku sedang sidang proses perceraian" sesal Sarah.
"Tidak apa apa"
"Oh ya, tadi kau memanggil tante memangnya ada apa?" Tanya mama Sofi.
"Tidak ada ma, tadi Sarah hanya ingin memberimu kejutan" Al memotong pembicaraan agar istrinya tidak malu jika sang mama tau kejadian yang sebenarnya.
"Oh begitu" mama Sofi manggut manggut mengerti.
"Ma, Al punya kabar gembira" ucap Al membuat mama mama Sofi kembali berbinar.
"Kabar gembira apa?" Tanyanya tidak sabar.
"Zifa hamil ma" ucap Al mengusap perut istrinya itu.
"Hah? Benarkah? Ouhhh selamat" mama Sofi langsung memeluk Zifa.
"Sudah berapa bulan kok udah keliatan buncit gini?" Tanya mama Sofi memegang perut Zifa.
"Dua belas minggu ma" jawab Zifa.
"Sejak kapan kau tau? Kenapa tidak memberi tahu mama?"
"Zifa tahu nya juga baru kemarin ma"
"Huh bisa bisanya hamil 12 minggu baru sadar" ledek mama Sofi diiringi tawa Zifa.
"Zifa juga nggak nyangka bakalan dikasih cepet gini" ucap Zifa mengusap perutnya.
__ADS_1
"Bagus dong, biar mama cepet dapet cucu" mama Sofi kembali mengusap perut menantunya.
"Ya udah kamu istirahat sana gih ke kamar, hamil muda tu nggak boleh capek capek. Nanti biar mama telpon mama dan papamu biar nanti malam kita makan malam bareng"
"Iya ma" jawab Zifa tak mau membantah ucapan mertuanya.
"Kamu nggak berangkat kerja Al?" Tanya mama Sofi.
"Enggak ma, Al mau ngerjain tugas kantor dirumah aja"
Mama Sofi mengangguk mengerti
"Sayang, ayo ke kamar yuk" ajak Al menarik lengan sang istri.
Zifa pun menurut
Sesampainya dikamar Al menuntun istrinya agar duduk diatas ranjang.
"Dia benar benar sudah 12 minggu?" Tanya Al.
"Pantas saja, perutmu memang sudah terlihat seperti orang hamil pada umumnya" jawab Al tersenyum sambil kembali mengusap perut istrinya.
"Baby, maafkan dady yang baru menyadari kehadiranmu" Al mengusap lalu mencium sekilas perut istrinya.
"Sayang, lebih baik kau berhenti bekerja. Lebih baik kau fokus pada kehamilanmu saja" pinta Al.
"Tidak! Aku akan tetap bekerja!" Tolak Zifa.
"Tapi yang"
"Intinya aku akan tetap bekerja sampai aku sendiri yang memutuskan untuk resign" Zifa berucap tegas.
"Baiklah, tapi kau jangan terlalu capek ya"
Zifa hanya diam tak merespon ucapan suaminya.
__ADS_1
Al menarik istrinya kepelukannya dan merebahkannya.
"Al lepas, aku risih" kesal Zifa.
"Tenanglah, aku hanya ingin memelukmu sebentar" Zifa seketika terdiam.
Al tak henti hentinya menciumi puncak kepala istrinya itu.
Beberapa menit kemudian,
Al melepaskan pelukan itu dan beranjak keluar dari kamar.
"Kemana?" Tanya Zifa kepo.
"aku ingin ke super market untuk membelikanmu susu hamil" jawab Al tersenyum.
"Benarkah?" Selidik Zifa tidak percaya.
"Iya, kau mau ikut?" Tawar Al.
"Aku ikut" Zifa langsung bangun dan langsung menggandeng tangan suaminya.
,,
"Kalian mau kemana?" Tanya mama Sofi ketika Al dan Zifa sudah dilantai bawah.
"Kita mau ke supermarket sebentar ma"
"Supermarket?" Seorang bocah menyembul dari balik kaki mama Sofi.
"Iya, El mau ikut?" Tawar Al.
"Heem, El ikut" bocah itu mengangguk.
"Baiklah, ayo uncle gendong" Al mengangkat bocah itu ke gendongannya.
__ADS_1