
"Kay, jangan berbicara seperti itu" air mata Rio tak tertahankan lagi.
"Jangan menangis, kau tidak cocok" ledek Kay lagi menyerahkan selembar tissue.
"Kay, aku mohon jangan ceraikan aku. Aku tidak akan pernah mau"
"Terserah, aku tidak peduli" cuek Kay lalu berjalan memasuki gedung itu.
Hakim mulai melakukan upaya perdamaian pada dua orang itu. Kay tetap kekeh dengan pendiriannya sedangkan Rio berkali kali menolak perpisahan.
Berkali kali Rio menegaskan bahwa pria itu tidak mau berpisah. Ia bahkan sudah tak malu lagi air matanya dilihat para hakim disana.
Rio berjalan mendekat ke arah Kayla lalu bersimpuh dihadapan wanita itu.
"Kayla, aku mohon jangan ceraikan aku. Maafkan aku jika membuatmu kecewa. Bantu aku berubah" Rio memohon.
Mata Kay ikut memanas melihat pemandangan didepannya.
"Maaf, aku tidak bisa" lirih Kay.
"Tidak adakah cinta untukku Kay?" Rio mengiba.
Kay menggeleng
"Maaf.."
Hakim memutuskan untuk mengakhiri mediasi itu dan meminta dua orang itu agar memikirkan lagi keputusan mereka.
Hari itu juga Rio mengikuti Kay pulang ke rumah.
"Kamu mau apa?" Rio mencekal tangan Kay yang sedang memberesi barangnya sendiri.
"Aku sudah lelah, aku ingin keluar dari rumah ini"
__ADS_1
"Tidak, selangkahpun kau tak boleh keluar dari rumah ini" tegas Rio.
"Aku sudah muak denganmu Rio!" Bentak Kay kembali.
Rio terdiam, ia menatap dalam manik kecoklatan istrinya.
"Kau tetap disini, kalau kau memang muak denganku, biar aku yang keluar dari rumah ini" putus Rio karna tak mau istri dan anaknya kesusahan diluar sana.
Ia ingin menjamin Kay dan putranya baik baik saja dibawah pengawasannya.
Kay hanya diam,
Rio langsung keluar dari kamar itu begitu saja.
Kay menatap sendu sebuah mobil yang kekuar dari rumah megah itu. Tangis wanita itu mulai pecah.
Rio yang berada dijalan pun menjadi kalut. Ia mengendarai mobil bagai orang kesetanan.
Air mata Rio terus saja menetes sepanjang perjalanan.
"Kenapa aku harus menyerah hanya karna seperti ini?" Gumamnya lagi.
Tak terasa 2 minggu berlalu,
Setiap hari Rio datang ke mansion untuk menjenguk keadaan istri dan anaknya.
Pria itu masih berusaha membujuk Kay agar mencabut gugatan itu.
Wajah pria itu sudah tak terurus lagi. Mama Tasya sendiri pun tak berani ikut campur dengan masalah ini.
"Kay, tak adakah pertimbangan untukku?" Tanya Rio sendu.
"Tidak!" Tegas Kay kesekian kalinya.
__ADS_1
"Kenapa? Apa aku terlalu buruk untukmu?"
"Kau sudah tau jawabannya" cuek Kay.
"Pertimbangkan aku sekali lagi. Aku mohon cabut gugatan itu" pinta Rio lagi.
Mata pria itu sudah kembali berair.
"Cukup Rio!! Aku sudah muak dengan semuanya! Hentikan drama busukmu itu!" Teriak Kay murka.
"Aku benar benar memohon Kay, jangan seperti ini" Rio mengiba.
"Kenapa?! Kau baru menyesal sekarang? Sudah terlambat. Aku sudah tidak peduli lagi denganmu. Angkat kaki dan pergi dari sini!" Usir Kay menunjuk ke arah pintu.
"Kay aku.."
"Kubilang pergi!! Jangan berani menampakan wajahmu lagi dihadapanku sebelum surat itu jadi!" Usir Kay.
Rio terdiam, ia mengusap kasar air matanya.
"Kenapa? Kau takut berubah pikiran?" Tanya Rio.
"Cih, berubah pikiran?! Tidak akan! Aku sudah muak melihat wajahmu. Tak bisakah kau membiarkanku tenang dan bahagia?!! Cepat pergi, jangan coba coba memperlihatkan wajahmu lagi dihadapanku. Ingat!! Pergi sejauh yang kau bisa! Aku membencimu Rio! Aku membencimu!" Teriak Kay penuh amarah.
Dada Rio bergemuruh, pria itu menatap sendu istrinya.
"Baik, jika itu membuatmu tenang, aku tak akan menampakan wajahku lagi dihadapanmu" Rio berdiri dari simpuhannya.
Pria itu berjalan keluar dari kamar begitu saja lalu mengendarai mobilnya keluar dari pekarangan mansion.
Sudah cukup bagi pria itu berusaha mempertahankan semuanya dan hasilnya tetap sama. Kay tetap tak mau mencabut gugatan itu.
Yang pertama Rio tuju adalah rumah orang tuanya. Pria itu mengadukan semua kesedihannya pada sang mama dengan suara terisak.
__ADS_1
"Mama, aku gagal" tangis Rio terdengar pilu.
"Aku hancur dan Kay sudah tak mau melihatku lagi. Aku harus apa ma?" Pria itu bersimpuh menangis didepan ibunya.