
"Wahhh terimakasih Al"
Zifa langsung membuka paperbag itu, nampak sebuah tas cantik yang sangat dikehauinya harganya mencapai ratusan juta
"Al, ini berlebihan"
"Tidak ada kata beelebihan untukmu sayang"
Zifa membuka satu paperbag lagi
Zifa kaget dengan isi paperbag itu berupa kalung berlian langka yang juga memiliki harga fantastis.
"Al, ini beneran buat aku?" Zifa masih tidak percaya.
"Beneran dong sayang"
"Mau aku pasangkan?" Tawar Al membuat Zifa mengangguk antusias.
Al pun memakaikan kalung itu dileher mulus istrinya.
"Cantik, seperti yang memakai" puji Al.
"Terimakasih Al" Zifa memeluk tubuh suaminya itu.
"Ada satu lagi"
Zifa masih terheran
Al menunjukan surat kepemilikan beberapa aset besarnya atas nama istrinya itu.
"Semua untukmu dan anak kita"
"All," suara Zifa tercekat bingung ingin mengatakan apa.
"Ini terlalu berlebihan untukku"
"Tidak ada yang berlebihan sayang. Ini semua tidak sebanding dengan kebahagiaanku"
"Tapi Al, aku masih belum bisa mencintaimu"
Al tersenyum lembut
"Tidak apa apa, semua ini sudah cukup untukku" Al memeluk tubuh istrinya itu dengan erat.
Ada kekecewaan dihatinya karna ucapan sang istri.
"Perjanjian kita masih berlaku. Kau boleh meraih kebebasanmu mulai sekarang" Al mengusap lembut pipi istrinya itu.
"Al, aku.."
"Sttt, jangan terlalu dipikirkan. Kebahagiaan mu segalanya untukku" Al mengusap surai hitam istrinya itu.
Zifa meneteskan air matanya begitu juga Al.
Semuanya nampak menyakitkan bagi pria itu. Namun ia berusaha meyakinkan semuanya pasti akan baik baik saja.
"Kau cantik, kau masih muda. Banyak pria di luaran sana yang menginginkanmu. Bahkan mungkin mereka bisa mencintaimu melebihi aku. Aku hanya ingin kau bahagia dengan pilihanmu" lanjutnya.
"Al, jangan katakan itu" Zifa menggeleng.
"kenapa? aku tau kau masih berharap pada seseorang. aku juga tau kalian sering bertemu diluar sana. bukankah itu lebih dari cukup untuk sekedar menjadi alasanku melepasmu. kau berhak bahagia. dan bahagiamu itu tanpa aku" Al menunjuk pada dada istrinya.
"Al aku dan Bayu hanya berteman. kita hanya bertemu sebagai teman tidak lebih" elak Zifa enggan disalahkan.
__ADS_1
"Sudah, jangan menangis lagi. Nanti jika kau sudah menemukan pria impianmu walaupun bukan Bayu, katakan padaku. Aku pasti akan menyeleksinya apakah dia pantas untukmu atau tidak. Memiliki anak denganmu adalah impian terbesarku dan kini sudah terwujud dengan kelahiran baby Dev. Aku cukup bahagia" Al berucap dengan air mata berurai.
"Al, aku juga berharap kau menemukan seseorang yang labih baik dariku"
Al tersenyum
"Tidak akan ada yang lebih baik setelah aku menemukan yang terbaik. Dan kaulah yang terbaik yang tak akan tergantikan oleh orang lain"
Al berusaha menguatkan hatinya,
Ucapan Zifa menandakan bahwa istrinya itu memang ingin kebebasan.
"Aku ingin kita bicara baik baik saja mengenai ini semua"
"Maksudmu?"
Al menarik napasnya berusaha mengumpulkan mental untuk mengucapkan kata katanya.
"Maaf, aku menyerah. Memang terlihat bodoh, tapi aku hanya ingin kebahagiaanmu. Dan kurasa tanpaku aku yakin kau akan bahagia" Al tersenyum dengan air mata yang mengalir dimatanya.
"Al, jangan seperti ini. Semua masih bisa dibicarakan dengan baik baik" Zifa terlihat sedih dan kecewa dengan ungkapan suaminya.
Disatu sisi ia lega suaminya membebaskannya dari hubungan rumit ini, tapi disisi lain ia enggan kehilangan Al dari hidupnya.
"Aku sudah memikirkan semuanya dengan matang, kurasa ini yang paling tepat untuk kita berdua"
"apa kau akan bahagia setelah berpisah dariki Al?"
"bahagiamu adalah bahagiaku juga. kamu bahagia jika tanpaku, dan pasti aku akan lega. aku terlalu kejam dengan membelenggumu dihubungan rumit ini. kau berhak bahagia, dan ini adalah waktu yang tepat untuk memulainya"
"Tapi bagaimana dengan Dev" bibir Zifa bergetar mengingat putra kecilnya yang baru berusia satu tahun 2 bulan itu.
"Maaf jika aku egois, bolehkan aku memilikinya? Bolehkah aku yang merawat sepenuhnya sampai nanti aku sudah tidak mampu merawatnya lagi?"
"Kumohon, beri aku kesempatan itu. Aku sudah kehilangan ibunya, apakah kau tega membuatku kehilangannya juga?"
Zifa menggeleng
"Aku tidak bisa, dia putraku. Aku yang melahirkannya" Zifa enggan memberikan putranya.
Al tersenyum miris
"Kalau begitu tidak apa apa, aku percayakan anak kita padamu. Aku yakin kau bisa merawatnya dengan baik"
Zifa mengangguk
"Nanti, semua berkasnya biar aku yang urus" ucap Al.
"Kau belum mendengarkan pendapatku"
"Katakan apa yang kau inginkan"
"Al, kumohon jangan menceraikanku sebelum aku menemukan seseorang yang baik"
"Apa kau yakin?"
"Kita bisa hidung masing masing tanpa perceraian kan?"
"Baiklah jika itu maumu, sekarang istirahatlah. Kau pasti kecapekan setelah menjaga putra kita"
Zifa mengangguk,
Ia langsung merebahkan badannya dan menutup diri dengan selimut sedangkan Al langsung keluar dari kamar.
__ADS_1
Ia ingin menangkan dirinya ditaman rumahnya.
Al duduk dikursi taman itu
Tatapannya kosong mengisyaratkan sebauh luka yang besar.
Bibirnya menyunggingkan senyum miris
"Aku kalah" rancaunya.
Ia ingat kata dokter beberapa minggu lalu yang mengatakan kesehatan Al semakin memburuk.
Beberapa kali Al pingsan tanpa Zifa ketahui.
Al merasakan rasa sakit disekujur tubuhnya.
"Tuhan, aku hanya ingin pergi dari kenyataan ini" lirih Al menatap langit.
Sedangkan Zifa, ia juga ikut menangis meratapi nasib rumah tangganya akibat ke egoisannya sendiri.
Ia menatap wajah teduh putranya yang sedang tertidur pulas itu.
"Maafkan momy" gumamnya.
Ia berdiri dibalkon, menatap suaminya yang duduk dikursi taman.
Zifa tau suaminya sedang menangis disana. Namun nyatanya ia tak bisa melakukan apa apa. Hubungan mereka sudah tak bisa diselamatkan lagi.
Pagi hari,
"Zifa, lusa aku akan keluar negeri untuk waktu lumayan lama. Kau tidak apa apa kan? Apa perlu kuantar kerumah papa dan mama?"
Zifa terdiam
Panggilan yang suaminya sematkan untuknya tak lagi sama.
Tak lagi ada kata 'sayang' dari mulut suaminya itu.
"Tidak apa apa, aku disini saja"
Beberapa minggu yang lalu dokter mengatakan bahwa Al harus melakukan pengobatannya diluar negeri karna diluar sana teknologinya lebih mumpuni.
Flashback
"Dok apa harapanku masih besar?" Tanya Al hati hati.
"Masih ada, walaupun tidak besar. Satu satunya cara hanya operasi. Namun nyatanya sampai sekarang belum ada pendonor"
"Tidak apa apa, aku tidak butuh lagi pendonor"
"Maksudnya tuan? Seharusnya anda melakukan pengobatan diluar negeri"
"Aku akan melakukannya dok, tapi bukan untuk tlansplatasi sumsum yulang belakang. Aku hanya ingin menghabiskan sisa umurku disana"
"Tuan, jangan menyerah seperti ini. Masih banyak harapan untuk kesembuhan anda"
"Aku sudah tak ingin lagi untuk sembuh, semua keinginaku sudah terwujud. Jadi untuk apa kesembuhanku?"
Dokter itu terdiam
Flashback off
..
__ADS_1
Hari ini Al memantapkan dirinya untuk datang kerumah papa Bryan dan mengatakn semua tentang hubungannya dengan Zifa pada mertuanya itu.