Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Kecerobohan Al dan Zifa


__ADS_3

"Emm aku ada urusan kak" hanya itu yang keluar dari mulut Zifa karna ia bingung harus menjawab apa.


"Zio, tenanglah. Adikmu hanya sedang memproses cucu untuk papa" papa Bryan menepuk pundak putranya.


"Maksud papa?" Tanya Zifa bingung.


Beberapa saat kemudian asisten Devan membawakan kaca beserta foundation yang biasa digunakan papa Bryan.


"Pakai ini dulu" ucap papa Bryan sembari menahan tawanya.


Mata Zifa melebar sempurna saat melihat banyak sekali tanda merah dileher serta bagian dadanya.


Wajahnya mendadak merona


"Astaga, bagaimana aku bisa lupa" Zifa merutuki kebodohannya.


"Cepat pakai itu sebelum banyak yang lihat" titah Zio pada adiknya.


"Kalau begitu papa tinggal dulu" Bryan meninggalkan ruangan meeting itu.


"Apa Al menyakitimu?" Tanya Zio saat ruang meeting itu hanya ada dirinya dan sang adik.


Zifa hanya diam tak merespon ucapan kakaknya.


"Kenzifa Hendrawan?" Zio menekankan kata katanya.


"Tidak, dia tidak menyakitiku"


"Apa yang ada dipikiranmu sampai kau mau disentuh olehnya? Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kau membencinya?"


"A aku..."

__ADS_1


"Apa kau sudah berfikir panjang? Bagaimana jika ada anak diantara kalian sedangkan kau sendiri belum bisa menerima ayah dari anakmu?"


"Kak, aku..."


"Jangan pernah berfikir untuk bercerai darinya Zif, sekali kau terikat dengannya maka selamanya kau akan bersamanya"


"Tapi kak ..."


"Kau harus belajar mencintainya mulai dari sekarang" ucap Zio lalu keluar dari ruangan itu.


Zifa terduduk lesu dikursi ruangan itu.


"Huh, kenapa malah jadi serumit ini?" Gumam nya.


"Bagaimana jika dia hadir dalam waktu dekat ini?" Zifa mengusap perut ratanya.


Sore harinya,


Tujuan utamanya kini ruangan sang papa mertua.


Ceklek


"Maaf pa, apa istriku ada disini?"


"Ada, dia tadi masih diruangannya"


"Okey, kalau gitu Al keruangan Zifa dulu"


"Alfin Danendra"


Baru saja Al akan keluar dari ruangan sang mertua namun panggilan mertuanya membuatnya menghentikan langkah.

__ADS_1


"Iya pa?" Al membalikan badannya.


"Kau dan putriku boleh saja sepakat memiliki anak dalam hubungan kalian. Tapi dua hal yang perlu kau ingat, pertama kau tidak boleh menyakitinya sedikitpun dan yang kedua, kau sudah menyentuhnya lagi dan itu berarti selamanya kau akan terikat dengan putriku"


"Iya pa, Al tau konsekuensinya. Justru Al melakukan itu agar selamanya Zifa terikat denganku"


"Hmm aku percaya padamu"


Al hendak kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


" Dan satu lagi" ucap papa Bryan membuat Al menghentikan langkahnya lagi.


"Waktu kalian membuat 'anak kalian masih banyak. Jadi jangan terlalu terburu buru apalagi sampai kalian lalai pada waktu seperti hari ini" papa Bryan mengingatkan membuat wajah Al tiba tiba merona.


"Bagaimana papa bisa..."


"Aku tau, bukankah kau sadar telah membuat banyak tanda dileher dan dada istrimu?" Potong papa Bryan sambil menahan tawanya.


"Maaf pa, lain kali Al tidak akan lebih memperhatikan semuanya"


"Hmm bagus, cepatlah pulang dan istirahat. Pasti istrimu masih kelelahan"


"Iya pa, permisi"


Al keluar dari ruangan sang mertua dan menuju keruang meeting.


Ceklek


"Sayang," panggil Al saat melihat istrinya masih sibuk dengan laptopnya.


"Sayang, kau masih mengerjakam tugas kantor? Inikan sudah jam pulang kerja" Al mengacak rambut sang istri lalu menciumnya sekilas.

__ADS_1


__ADS_2