
Hanya sampai depan gerbang saja. Rio tak memiliki keberanian sebesar itu untuk sekedar memasuki gerbang utama.
"Kau yakin tak mau masuk?" Tanya mama Tasya memastikan.
"Tidak usah ma, Rio tidak ingin membuat keributan" Rio meyakinkan mamanya bahwa ia baik baik saja.
"Papa" bocah itu merengek enggan masuk rumah tanpa Rio.
"Rean masuk rumah dulu ya sama oma. Papa mau kerja" Rio memberi pengertian putranya.
"Papa kelja?"
"Iya papa kerja, nanti kalau papa sudah selesai bekerja papa akan pulang"
"Benelan pa?"
"Iya" Rio membujuk bocah itu hingga khirnya mau masuk ke dalam rumah.
Rio menghela napasnya lalu melajukan mobilnya pergi dari mansion besar itu.
Drttt
Drtt
"Iya, halo?"
"Kau dimana?" Tanya Al diseberang
"Aku lagi dijalan"
"Kau mengendrai mobil?"
"Iya, kenapa memangnya?"
"Kau ini sangat sulit kuberitahu. Tubuhmu belum pulih. Jangan kemana mana dulu" Al mengomel dari seberang.
"Ck, kau bahkan lebih cerewet dari mamaku" decak Rio.
__ADS_1
"Nanti malam aku mengadakan acara anivku dengan Zifa. Jika badanmu fit aku mohon datang biar nanti supirku menjemput. Tapi jika tidak fit tidak usah datang" ujar Al dari seberang.
"Iya, aku usahakan"
"Nanti kabari aku"
"Oke"
Malam harinya Rio bersiap datang. Pria itu sudah dijemput oleh sopir pribadi Al.
Rio hanya menggunakan kemeja dan juga celana oendek karna hanya sekedar pesta biasa.
Pria itu berjalan gagah diantara para tamu membuat sepasang bola mata menatap sendu pria didepannya.
"Rio.." panggil seorang wanita lirih membuat Rio menoleh.
"Kay, kau datang juga?" Suara Rio nampak biasa saja.
Senyum tipis terbit diwajah pria tampan itu.
"Untuk sidangnya.."
Kay mengangguk paham
"Ya sudah aku kesana dulu" pamit Rio menghindar dari tatapan wanita itu.
"Papa" seorang bocah mengurungkan langkah Rio.
"Sini papa gendong" Rio menggendong putranya lalu membawanya ke sebuah meja makan.
"Rean mau es krim?" Tawar papa muda itu membuat bocah laki laki itu tersenyum semangat.
"Mau"
Dengan telaten Rio menyuapi anaknya. Matanya mulai berkaca kaca mengingat nasib anaknya yang akan menjadi yatim sebentar lagi.
"Rean sayang papa?"
__ADS_1
Bocah itu mengangguk
"Ayang papa"
"Kalau sayang papa, Rean jangan nyusahin mama ya? Kan Rean anak pinter" bocah itu mengangguk ngangguk seolah mengerti.
Rio mengusap air mata disudut matanya.
"Ah papa jadi terharu" senyum Rio mengembang melihat putranya yang tumbuh sehat.
"Rio" Kay duduk dikursi samping Rio.
"Kenapa? Ada masalah?"
"Tidak ada, maafkan aku. Perkataanku sedikit menyakitimu beberapa minggu lalu"
"Tidak apa apa, itu wajar jika orang sedang emosi" Rio menenangkan calon mantan istrinya itu.
"Aku mencabut gugatan itu" suara Kay membuat Rio menoleh.
"Kenapa?"
"Kau tidak senang?"
"Bukan seoerti itu, jika memang dengan perpisahan ini kita bisa menjadi lebih baik kenapa tidak?" Perkataan Rio seolah menjadi tamparan keras untuk Kay.
"Aku masih ingin mempertahankan semuanya"
"Kenapa? Kita masih bisa merawat anak kita bersama kan? Jangan terlalu terburu buru. Aku akan memberimu waktu untuk berfikir lagi" Rio menatap dalam manik mata Kay.
"Aku akan mempeetimbangkannya lagi" Kay mengangguk setuju.
"Kau kurusan" tegur Kay melihat tubuh suaminya.
"Tidak, mungkin perasaanmu saja. Berat badanku tidak turun kok" ujar Rio padahal berat badannya turun drastis.
"Oh iya mungkin hanya perasaanku" Kay mengangguk ngangguk paham.
__ADS_1
Kedua manusia itu terdiam seolah saling asing.
Halo gaesss.. hari ini author ultaj lohh ucapin dongg🥰🤣