Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
I'M Fine


__ADS_3

"Kau yidak kasihan dengan Rean. Bagaimana dia harus menanggung beban berat nantinya tanpa ada papanya" Zifa menyemangati.


"Dia tak akan menanggung beban apapun. Aku sudah menyerahkan semua aset yang kumiliki untuknya. Dengan ataupun tidak beierja pun dia akan tetap hidup tenang" jawab Rio enteng.


"Kau ini memang sesuka hatimu. Bagaimana jika Kay dan anakmu menolak"


"Aku sudah mengirimkan surat kuasa hartanya. Dan Kay juga sudah menerima surat itu"


Zifa tertegun, sedikit kaget karna Kay menerima harta itu begitu saja.


"Kau yakin ingin berpisah?"


"Aku yakin, hari ini hari sidang mediasi yang kedua. Tapi aku tidak bisa hadir"


"Oh begitu" Zifa manggut manggut mengerti.


Rio mendesahkan napasnya berat


"Kenapa? Cerita saja. Sahabatmu bukan hanya Al. Aku juga bisa kau anggap adik"


Rio tersenyum kecut


"Kau tidak marah padaku? Dulu aku pernah memakimu"


"Aku tau, itu kan memang untuk menyadarkan kebodohanku. Mana bisa aku marah dengan orang yang berjasa padaku"


Rio terdiam


"Mulai besok perawatan ke rumah sakit saja" usul Zifa.


"Aku tidak mau"


"Kenapa?"


"Tidak apa apa, aku tidak suka"


"Kalau kau tidak mau aku akan memberitahukannya pada Kay" ancam Zifa membuat Rio tersenyum kecut.

__ADS_1


"Tidak ada gunanya juga, apalagi ini sudah akan sidang. Aku dan dia tak akan ada hubungan lagi"


"Kalau begitu aku beritahu tante Tasya" ancam Zifa lagi.


"Kau mau membuat mamaku mati jantungan?" Ejek Rio karna tau Zifa tak akan seberani itu.


Malam harinya, mama Tasya datang berkunjung ke apartemen Rio bersama Rean dan juga papa Roni.


"Rio.." panggil mama Tasya membuat Rio beranjak dari ranjangnya.


Rio melangkah gontai karna badannya berlum sehat sempurna. pria itu membasuh wajahnya agar lebih fresh dan tidak pucat.


"Ayo kita masuk ke kamar papa aja" ajak mama Tasya pada cucunya itu.


Bocah itu berjalan gontai mengikuti langkah omanya.


"Papa papa" panggil bocah itu.


Rio tersenyum, ia datang lalu membawa putranya kepangkuannya.


"Wahh anak papa datang?" Rio menciumi pipi pria kecil itu.


"Papa juga kangen sama Rean. Rean udah makan?" Tanya Rio membuat bocah itu menggeleng.


"Papa masakin ya?" Tawar Rio membuat bocah itu mengangguk semangat.


Mama Tasya menatap wajah putranya yang terlihat pucat.


"Rio, kau sakit lagi?"


"Enggak ma"


"Kok wajahmu pucet gini?" Mama Tasya mengusap wajah putra semata wayabgnya itu.


"Perasaan mama aja kalik. Enggak ah, Rio sehat sehat aja"


"Kamu masih kepikiran sama proses itu?" Selidik mama Tasya.

__ADS_1


"Enggak ma, Rio udah ikhlas. Makannya tadi siang Rio nggak dateng" jelas Rio padahal pagi tadi pria itu terkapar tak berdaya.


"Kenapa badanmu jadi kurus seperti ini? Apa kau tidak pernah makan?"


"Mama ada ada saja, mungkin karna mama terlalu rindu jadi lebay seperti ini" Rio mengeluarkan tawanya.


"Udah ma tenang aja, Rio baik baik aja kok" Rio mengusap pundak mamanya.


"Mama udah makan?"


"Belum" jujur mama Tasya.


"Biar Rio buatin makanan ya ma"


Mama Tasya mengangguk setuju


Tak berselang lama makanan sudah terhidang.


Rio memyuapi putranya dengan sayur sup kesukaan bocah itu.


"Enak?"


"Enyak" jawab baby Rean semangat.


"Mama udah bilang sama Kay kalo malem ini Rean tidur sama kamu"


"Terus dia gimana ma?"


"Ya dia nggak masalah"


Senyum Rio mengembang sempurna


"Yeayy nanti malem tidur bareng papa ya" Rio mencium pipi putranya itu.


Mama Tasya tersenyum masih dengan memperhatikan wajah pucat putranya dan tubuh Rio yang kurus.


"Tidak, aku tidak salah lihat. Memang Rio terlihat lebih kurus. Sebenarnya apa yang disembunyikan anak ini" batinnya meyakinkan lagi.

__ADS_1


Ke esokan harinya, Rio mengantarkan sang mama dan putranya ke mansion besar itu.


__ADS_2