
"Loh, kamu gimana sih. Ya mama berangkat berdua sama papa"
"Dari tadi siang Kayla makan siang ke bawah terus enggak balik ke kamar sampai ini. Aku tanya maid juga nggak ada yang tahu"
"Mama nggak mau tau, cari Kayla sekarang! Sampai ketemu! Kalau belum, nggak usah pulang sekalian kamu!" Omel mama Tasya.
Tutt
Panggilan pun diakhiri
"Kenapa ma?" Tanya papa Roni.
"Katanya Kayla dari siang ke lantai bawah tapi sampai sore nggak balik ke kamar. Udah dicari katanya nggak ada dirumah"
"Berantem sama Rio?"
"Enggak tau juga pa"
"Ya udah kita pulang sekarang aja" ajaknpapa Roni yang juga merasa cemas dengan menantunya.
Dikamar,
Rio berdecak kesal ketika melihat nomor asing tadi kembali menghubunginya.
Klikk
"Halo"
"Halo, Rio ini aku" suara Kay diseberang membuat Rio membeliakkan matanya.
"Kamu kemana saja? Kenapa tidak memberi tauuku? Hpmu juga tidak kau bawa" omel Rio diseberang.
"Jangan marah marah dulu, dengarkan aku"
"Cepat katakan kamu dimana? Aku jemput sekarang"
__ADS_1
"Rio, aku dirumah sakit. Tadi siang aku sudah kontraksi dan sudah ada pembukaan. Jadi 2 jam lagi aku harus cepat cepat operasi"
"Apa katamu! Kenapa tidak mengabariku dari tadi" Rio mulai geram.
"Jangan marah marah, cepat kesini. 2 jam lagi operasi dimulai"
Klik
Panggilan diakhiri
Hati Rio mendadak cemas dengan keadaan istrinya.
"Tidak, tidak akan terjadi apa apa" Rio menggelengkan kepalanya menghalau pikiran buruk yang hinggap di otaknya.
Pria itu mengemasi beberapa baju Kay dan keperluan lain lalu menyambar dompet dan kunci mobilnya.
45 menit perjalanan, Rio baru mencapai separuh jalannya karna jalanan sangat macet bahkan mobilnya tak bisa bergerak.
"Sial! Bisa bisa aku terlambat"
Rio mengabari mama dan papanya agar langsung menyusul ke rumah sakit.
Pria itu berjalan tergesa gesa menuju ruang rawat istrinya.
Sayup sayup pria itu mendengar obrolan Kay bersama dokter.
"Lakukan saja dok, aku mau nekat saja. Aku tidak mau mengambil resiko untuk anakku"
"Tapi nyonya, ini beresiko dengan anda"
"Tapi aku juga tidak mau anakku kenapa napa"
"Coba dipikirkan baik baik"
"Tidak akan, ayo cepat lakukan operasi saja sekarang. Jangan banyak menundanya"
__ADS_1
"Saya memerlukan tanda tangan keluarga dulu, terutama suami anda"
"Tidak usah, sini biar aku sendiri yang tanda tangan" Kay mencoba merebut dokumen itu.
"Ada apa ini?" Suara barinton Rio mgalihlan pandangan Kay.
Rio masuk bersama seorang perempuan membawa kamera yang Kay tebak adalah videografer yang seharusnya mereka pesan untuk minggu depan.
"Rio, kau datang?" Tanya Kay polos.
"Bodoh, aku pasti datang. Disini ada anak dan istriku" kesal Rio.
"Aku sudah menunggumu tapi kau tidak datang datang juga, jadi aku mengiramu tidak datang"
"Ck, jangan berfikir macam macam. Tadi jalanannya macet parah" walaupun ucapannya terdengar ketus tapi tangan pria itu mengusap dahi istrinya lembut.
"Bagaimana dok?"
"Nyonya Kayla sudah puasa makanan dari 4 jam yang lalu. Dan 30 menit lagi akan langsung dilakukan tindakan. Namun ternyata tekanan darah nyonya Kay tidak mendukung. Jika dipaksakan akan berbahaya bagi nyonya Kayla. Namun bila di biarkan maka juga berbahaya bagi bayinya karna nyonya Kayla sudah memasuki pembukaan 7"
"Lakukan yang terbaik dok, yang penting istriku baik baik saja"
"Rio, kenapa seperti itu. Harusnya anak kita yang harus baik baik saja" kesal Kay.
"Tidak, keselamatanmu jauh lebih penting"
"Tidak! Tidak akan terjadi apapun denganku. Yakinlah, tanda tangani saja surat itu. Yang penting anak kita selamat dulu"
"Tidak, sekali tidak tetaplah tidak"
"Apa untungnya kau memilihku. Lebih baik anak kita, prioritaskan dia. Yang penting dia selamat dan sehat. Aku tidak mau terjadi hal buruk padanya"
Rio semakin iba melihat wajah pucat Kay.
"Kalau dipercepat resikonya apa dok?"
__ADS_1
"Resiko utamanya pendarahan hebat tuan. Karna tekanan darah yang tinggi dan juga riwayat preekslampsia. Setidaknya tunggu sampai tekanan darahnya kembali stabil. Mungkin 3 sampai 4 jam lagi"
"Tidak! Aku tidak mau jika anakku kenapa napa. Rio katakan padanya aku harus cepat melakukan operasi. Air ketubanku sudah keruh, bagaimana jika nanti anak kita keracunan ketuban" Kay menangis.