
Setelah 1 jam berlalu, Rio dan Kay masuk ke ruang operasi bersama. Pria itu nekat menemani istrinya walaupun dari tadi Kay menolak.
Tekanan darah Kay belum stabil, namun setidaknya lebih aman daripada yang sebelumnya.
Operasi berjalan dalam keadaan Kay masih tersadar.
"Kenapa menangis?" Suara serak Kay menatap wajah suaminya yang sudah dibanjiri air mata.
"Tidak apa apa, aku hanya ingat saat dulu kita menikah"
"Kau menyesal ya?" Canda Kay.
"Siapa bilang aku menyesal? Aku bersyukur bisa memiliki istri sepertimu"
"Tapi aku kesal memiliki suami cuek sepertimu" kesal Kay.
Rio tersenyum
"Setelah ini semua tergantung pilihanmu. Aku tidak akan memaksa lagi. Jika kau ingin kita berpisah, aku akan menerimanya. Tapi jika kau ingin kita terus bersama, aku akan berusaha memperjuangkan rumah tangga kita" ucapan Rio didengar oleh dokter yang ada disana.
"Hmm, itu dipikirkan nanti. Aku hanya takut jika setelah operasi ini aku tidak bangun selamanya" ceplos Kay.
"Hus, jangan berbicara sembarangan. Sebentar lagi kita resmi menjadi orang tua. Kita berdua akan merawatnya bersama"
Kay hanya diam
"Dokter, kenapa kepalaku pusing sekali?" Keluh Kay membuat perawat langsung mengecek tekanan darah wanita itu.
"Apa hal lain yang dirasakan?"
"Nafasku tiba tiba rasanya sesak" ucap Kay terengah engah.
"Tenanglah, dokter akan melakukan yang terbaik" Rio menciumi dahi istrinya.
"Ahh syukurlah" dokter tersenyum lega setelah mengeluarkan bayi dari perut Kay.
"Kok nggak nangis dok?" Tanya Rio panik.
Dokter langsung membalikan badan bayi itu dan melakukan tindakan.
Tak berselang lama bayi itu menangis kencang.
Oeeee
"Hahh syukurlah" Rio bernafas lega melihat anaknya terlahir selamat.
Kay tersenyum tipis dengan nafas masih terengah engah. wanita itu sudah dipasangkan alat bantu pernafasan.
"Laki laki pak, sehat. Berat badannya 3,3 kilo" ucap dokter itu membuat Rio kembali menciumi wajah istrinya.
"Dok, istri saya masih sesak nafas"
3 dokter diruangan itu bekerja sama,
Satu dokter menangani Kay yang sedang sesak nafas, dokter satunya menangani bayi baru lahir itu dan yang satunya menutup luka bekas operasi Kay.
"Dok, dok ini kok malah jadi pendarahan gini" lapor perawat membuat kegita dokter itu mengarahkan pandanganya.
Bayi yang tadinya digendong dokter kini sudah digantikan seorang bidan.
__ADS_1
Kay hanya diam masih dengan nafas terengahnya.
"Ri rio, pe peluk aku" ucap Kay oirih terbata bata hampir tak terdengar.
Rio memeluk istrinya itu. Ia bahkan menciumi wajah Kay bertubi tubi hingga tak sadar istrinya sudah pingsan.
"Loh dok, istri saya kok pingsan?" Tanya Rio panik.
"Anda yang tenang dulu pak"
Suasana semakin gaduh karna Kay kejang kejang.
"Dok, istriku dok"
Selang beberapa menit kejang yang dialami Kay berhenti.
"Siapkan kantong darah, pasien membutuhkan banyak darah"
Rio menangis masih dengan posisi berdiri.
Sejenak ia melipakan putranya.
"Tuhan, selamatkan istriku" batin Rio.
"Panggil dokter ahli organ dalam. Ginjal pasien bermasalah" titah dokter pada seorang perawat.
Perawat itupun keluar dan memanggilkan dokter yang diminta.
Tittttt
Suara monitor detak jantung berbunyi
"Bagaimana bisa!"
Kerusuhan di ruangan itu bertambah ketika dokter ahli organ dalam mulai memasuki ruangan itu.
"Ayo cepat hentikan pendarahannya sebelum terjadi komplikasi lanjutan"
"Kayla, kau harus berjuang untukku" lirih Rio.
Setelah pendarahan berhenti, dokter kembali melanjutkan penanganannya.
"Bagaimana dok?" Tanya Rio tak sabaran.
"Sudah membaik tuan, darahnya muali stabil kembali. Namun setelah ini jangan diperbolehkan hamil selama 2 tahun kedepan"
Rio mengangguk paham, ia tak akan kecolongan lagi seperti kemarin.
Operasi yang harusnya 45 menit kini berubah menjadi 4 jam dengan segala drama kepiluan.
Setelah operasi selesai, Kay yang belum sadar pun dibawa keruang rawat.
Sejenak Rio melupakan anaknya yang baru saja terlahir. Pria itu bahkan tak menanyakan keberadaan sang putra.
"Berapa lama lagi istriku sadar dok?"
"Mungkin tidak sampai 15 menit lagi tuan Rio"
Rio mengangguk paham
__ADS_1
"Anaknya mau langsung ditaroh sini atau diruang bayi dulu pak?" Pertanyaan suster menyadarkan Rio.
"Disini aja sus sekalian mau saya adzani dulu"
Suster itu mengangguk, ia mengambil bayi yang baru lahir ke ruangan bayi.
Baru saja suster keluar, Kay mengerjapkan matanya pelan.
"Rio" lirih Kay pelan.
Rio langsung mendekat
"Syukurlah, kau baik baik saja" Rio mencium seluruh wajah Kay.
"Anak ku" lirih Kay lagi masih dengan mata sayu nya.
"Suster sedang mengambilnya diruangan bayi" jawaban Rio membuat nafas Kay lega.
"Mana yang sakit?"
Kay menggeleng lemah
"Kakiku mati rasa" keluh Kay.
"Biusnya belum sepenuhnya hilang. Jadi masih belum bisa bergerak. Mungkin sekitar 2 jam lagi sudah bisa bergerak. Kata dokter, besok pagi harus mulai belajar duduk dan berjalan" Rio mengusap lembut pipi wanita itu.
Beberapa saat kemudian suster datang sambil mendorong inkubator berisi anak Rio dan Kayla.
"Kenapa didalam inkubator sus?"
"Memang seperti ini prosedurnya pak, apalagi bayi tampan ini lahir dari proses caesar. Supaya bisa beradaptasi dengan suhu ruangan dahulu"
"Tidak prematur kan sus?"
"Tidak pak, bayinya sehat dan lengkap. Usianya memang sudah cukup untuk lahir"
"Oh gitu" Rio manggut manggut mengerti.
"Mau menggendongnya pak?"
"Saya belum bisa sus, takut nanti kalau kenapa napa" jawab Rio tersenyum kaku.
"Belajar pak, saya ajari. Ibunya juga, sekalian agar mendapat asi pertama"
Rio mengangguk saya walaupun sebenarnya masih takut menggendong bayi kecil itu.
Suster itu membuka inkubator dan mengangkat bayi itu dan menyerahkannya ke Rio.
"Lemesin aja pak, jangan kaku. Biar baby nya nyaman" ucap perawat itu mengarahkan tangan Rio agar lebih lemas.
Senyum Rio mengembang sempurna kala merasakan tubuh kenyal putranya.
"Di adzani sekalian pak"
"Loh belum di adzani?" Tanya Kay bingung.
"Hehe, belum" Rio tersenyum kaku.
"Pak Rio dari tadi heboh sendiri liat nyonya operasi. Sampe lupa sama anaknya, mungkin tadi kalau nggak saya tanya pak Rio pasti juga lupa kalau sudah punya baby" canda perawat itu.
__ADS_1
mata Kay melirik sebal ke arah suaminya itu.