Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Bertanggung Jawab


__ADS_3

"Memangnya keputusan apa ma?" Tanya Zifa kepo.


"Nanti kau akan tau"


Cup


Mama Mia mengecup sekilas dahi sang putri.


,,


"Nyonya, ada tamu" ucap kepala pelayan.


"Suruh masuk kesini aja bik" ucap Mia yang sudah tau siapa tamunya kali ini.


"Permisi"


Papa Bryan dan mama Mia menyalami tamunya.


Zio dan Zifa mendongak melihat tamu yang datang.


Mata Zifa terbelalak melihat tamunya adalah orang yang tak asing baginya. Yaitu Al dan kedua orang tuanya.


Ia langsung bangun dari pangkuan sang kakak. Ia langsung memeluk erat lengan kakaknya.


"Kak," cicitnya takut.

__ADS_1


"Tidak apa apa, ada papa dan kakak disini" Zio mengusap kepala sang adik.


Pemandangan itu tak luput dari kedua orang tua Al yang sangat tau Zio sangat menyayangi bahkan cenderung posesif pada sang adik.


"Silahkan duduk" papa Bryan mempersilahkan.


"Jadi begini tuan Bryan. Kedatangan kami kemari untuk meminta maaf atas kejadian tidak mengenakan beberapa hari yang lalu. Sebagai bentuk tanggung jawab kami akan melakukan apapun yang tuan minta" papa Farhan membuka suara.


"Bisa kau ceritakan kronologinya Al?" Papa Bryan mengangkat suaranya.


"Malam itu aku juga berada dibar yang sama tempat Zifa berada. Aku melihat Zifa meminum minuman beralkohol. Saat itu aku berinisiatif membawa Zifa ke mansion utama namun Zifa malah menolak mentah mentah dan malah memberontak. Akhirnya aku membawanya kehotel. Sepanjang perjalanan Zifa terus saja menggodaku hingga sampai dikamar hotel aku sudah tidak mampu menahannya dan kami melakukannya" Al menjelaskan.


"Tidak, tidak. Aku tidak mungkin menggodanya!" Sanggah Zifa.


"Tapi memang seperti itu kejadiannya Zif"


"Sudah sudah, sekarang mau tidak mau kau harus menikahi putriku sebagai bentuk tanggung jawabmu!" Tegas papa Bryan.


"Papa, Zifa nggak mau nikah sama dia pa!" Zifa menolak keras.


"Zifa, bukankah kau sudah berjanji pada kakak untuk mempercayakan segala keputusan pada kakak dan papa" Zio mencoba memberikan pengertian pada sang adik.


"Tapi bukan berarti aku harus menikah dengannya kak, aku tidak mau"


"Zifa, ayo ikut kakak kedalam sebentar" Zio menarik tangan adik perempuannya.

__ADS_1


Zifa menurut


"Dengarkan kakak baik baik" Zio menangkup pipi sang adik yang sudah berderaian air mata.


"Bukankah kau sendiri yang mengatakan kau takut hamil? Lalu bagaimana juga jika kau menikah dengan orang lain lalu orang itu tau bahwa kau sudah tidak gadis lagi? Kakak dan papa sudah mengupayakan yang terbaik untukmu. Al sangat mencintaimu, dia pasti akan menyayangimu seperti kakak dan papa menyayangimu selama ini" Zio memberikan adiknya pengertian.


"Tapi Zifa tidak mau menikah dengannya kak, dia itu sudah pernah melanggar kepercayaan Zifa"


"Tenanglah, ada papa dan kakak disisimu. Papa dan kakak tidak akan membiarkannya untuk menyakitimu kedua kalinya okey?"


"Tapi kak.."


"Pliss, ini demi papa, kakak dan juga dirimu sendiri"


"Baiklah, Zifa mau" cicit gadis itu menunduk.


"ayo kita kembali keruang tengah" ajak Zio yang diangguki sang adik.


"Bagaimana, apa kau bersedia menikah denganku Kenzifa Hendrawan?" Kini Al yang angkat bicara.


"A aku mau" cicitnya pelan tanpa menatap Al.


"Syukurlah" mama Sofi dan papa Farhan lega mendengar jawaban Zifa.


"Lalu kapan sebaiknya pernikahan mereka berlangsung?" Papa Farhan angkat bicara.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan Like dan Komen sebanyak banyaknya biar author semangat up bab nya😘


__ADS_2