Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Kejujuran Rio


__ADS_3

Setelah lama berbincang akhirnya dua manusia itu mematikan sambungan teleponnya.


Ke esokan harinya,


Tak dirasa hari sudah sore,


Rio menyambut kedatangan kedua orang tuanya.


"Mama kenapa sih?" Rio heran mamanya terus saja menangis dari tadi padahal ia belum mengatakan apa apa.


"Kau kurus sekali. Sebenarnya ada apa? Wajahmu juga pucat begini"


"Rio mau jujur tapi mama janji nggak boleh nangis lagi, okey?" Mama Tasya mengangguk yakin.


"Rio disini menjalani pengobatan ma"


"Pengobatan apa?"


"Hanya pengobatan kecil. Tapi Rio membutuhkan donor hati"


"Donor hati? Untuk apa?"


"Hati Rio sedikit bermasalah. Tapi dokter bilang tidak apa apa, hanya butuh operasi kecil saja"


"Kau bialng donor hati operasi kecil? Kau kira mamamu ini bodoh atau bagaimana" tangis mama Tasya pecah.


"Mama jangan menangis, Rio tidak apa apa. Rio pasti akan segera sehat"


"Cepat katakan, penyakit apa?"


Rio terdiam, pria itu bingung harus menjawab apa.

__ADS_1


"kenapa diam? cepat jawab!" paksa mama Tasya.


"Jangan menangis dulu" Rio mengusap air mata wanita itu.


"Kanker hati" penyataan Rio membuat tangis mama Tasya dan juga papa Roni pecah.


"sudah kubilang jangan menangis. kenapa malah semua menangis" Rio memeluk kedua orang tuanya itu walau dia sendiri juga menangis.


"Bagaimana bisa kau baru memberitahu sekarang? Sejak kapan?"


"Rio baru mengetahuinya 3 tahun yang lalu ma. Bersamaan dengan kabar Kayla keguguran"


"Stadium berapa?"


"Tidak parah ma"


"Ayo jujur pada mama" paksa Mama Tasya.


Mama Tasya pasrah melihat anaknya yang tak mau jujur sepenuhnya.


"Mama jangan dekat dekat, Rio bisa muntah kapan saja"


"Muntah darah?"


Rio mengangguk


Mama Tasya memeluk putra semata wayangnya itu.


Tangisnya pecah dipelukan sang putra


"Mama Rio tidak apa apa" Rio mengusap punggung mamanya.

__ADS_1


"Cepat katakan pada mama yang sejujurnya"


Rio menghela napasnya


"Jika dalam waktu 3 bulan lagi Rio tak mendapat donor hati, mama jangan sedih. Rio akan pulang"


"Pulang? Maksudnya pulang apa?"


"Ya intinya pulang, pokoknya mama nggak boleh sedih. Mama juga nggak boleh nangis lagi, okey?" Rio mengusap air mata mamanya.


"Berjuang ya nak, demi mama" ucapan mama tasya membuat Rio tersenyum


"Pasti ma, mama tenang aja"


"Kayla udah tau?"


"Belum, jangan diberitahu. Aku dan Kayla memutuskan untuk melanjutkan prises perceraian. Semuanya akan diurus oleh Kayla. Jadi nanti aku terima beres saja" Rio menenangkan sang mama.


"Kenapa dia belun tahu? Padahal kau sudah mengidapnya sejak 3 tahun lalu"


"Justru karna itulan Rio kurang perhatian dengan Kayla. Rio sibuk dengan pengobatan Rio sendiri sampai seringkali pulang malam. Tapi ternyata semuanya sia sia"


"Jadi ini semua hanya salah paham?"


Rio mengangguk


"Tidak apa apa ma, justru aku lebih tidak tega jika Kayla harus kesusahan mengurusku. Aku masih bisa sendiri"


"Kau yakin bisa bahagia dengan berpisah dengannya?"


"Kalau Kay bisa bahagia kenapa aku tidak ma? Kebahagiaannya kebahagiaanku juga. Aku sudah memendam perasaan padanya sejak lama. Setelah ia keguguran aku baru sadar bahwa aku mencintainya. Tapi karna aku tau aku bukan pria sempurna makannya aku tidak berani mengatakan perasaanku. Aku takut membuatnya berharap jika nanti akhirnya akan buruk. Ya seperti ini, aku bersyukur dia kebih dulu menggugatku hingga taka akan merasakan susahnya merawat pria penyakitan sepertiku"

__ADS_1


"Hus jangan berbicara seperti itu. Jika itu memang pilihan kalian berdua mama akan mendukung keputusan kalian. Yang penting kalian sama sama bahagia"


__ADS_2