
Zifa mengerjapkan matanya. Ia sempat kaget melihat tangan Al melingkar diperutnya. Ia langsung menyingkirkan tangan itu lalu beranjak menuju kamar mandi untuk mengeluarkan makanan dari perutnya.
"Huekk"
Kepala Zifa mulai berdenyut nyeri saat merasakan sudah tak ada lagi yang bisa ia keluarkan.
Ia terduduk di lantai kamar mandi itu sambil masih mengumpulkan tenaga untuk sekedar berdiri.
"Sayang, kamu kenapa?" Teriak Al dari luar kamar mandi.
Al terbangun saat mendengar istrinya muntah.
Ceklek
Al membuka pintu kamar mandi yang tak dikunci itu.
"Ya ampun sayang" Al kaget melihat istrinya terduduk dilantai dengan wajah pucatnya.
Ia langsung mengangkat tubuh istrinya dan membaringkannya ke ranjang.
"Ini minum dulu" Al menyodorkan segelas air putih.
Zifa tak menolaknya karna memang ia merasa lemas. Bahkan badannya bergetar dan terasa panas dingin.
"Kamu tidak apa apa? Aku panggil dokter ya?" Tanya Al khawatir.
"Tidak usah sok perhatian" ketus Zifa masih merasa kesal.
"Sayang, jangan seoerti ini. Aku sangat menyayangimu dan calon anak kita. Kemarin aku hanya terkejut saja. Percayalah, aku sangat bahagia mendengar kabar kehamilanmu lagi"
"Bohong" air mata Zifa mulai kembali menetes.
"Sayang, jangan marah seperti ini. Percayalah aku menyayangi kalian berdua"
__ADS_1
Al menghela napasnya melihat istrinya yang hanya diam dengan air mata yang masih mengalir.
"Momy momy" suara tangisan anak laki laki dari luar kamar menbuat Zifa langsung menghapus air matanya.
Al langsung beranjak membuka pintu kamarnya dan nampak wajah sembam sang putra sambil menenteng guling kesayangan bocah itu.
"Dev kenapa menangis?" Al meraih tubuh anaknya kedalam gendongannya.
"Momy" panggilnya pada sang momy.
Zifa mendekat hendak meraih tubuh putranya dari gendongan Al.
"Jangan, kau sedang hamil. Jangan menggendong Dev dulu" tolak Al.
"Ayo kita duduk diranjang saja" Al menarik kembut lengan istrinya.
Al mendudukan putranya yang masih menangis itu.
"Cup cup cup, anak momy kenapa menangis. Kan udah ada momy" Zifa memeluk putranya hingga tangisan bocah itu reda.
"Dev kan sudah besar, minumnya pakai botol bukan lewat momy lagi" terang Zifa pada putranya yang kadang masih ingin meminum lewat dada Zifa. padahal usianya sudah 2 tahun.
"Dev, apa dev tidak malu? Dev udah mau jadi kakak loh" jelas Al meraih tangan putranya dan mengusapkannya diperut Zifa.
"Kakak?" Dev bingung.
"Iya, ada adik bayi diperut momy"
"Adik bayi?" Tanya Dev antusias entah tau atau tidak maksud kata 'adik bayi
"Iya, udah ada diperut momy. Jadi Dev juga udah nggak boleh lagi minta gendong sama momy nanti adik bayinya sakit" ucapan Al membuat raut wajah bocah itu berubah.
"Momy tidak sayang sama Dev lagi ya?" Tanya bocah 2 tahun itu lirih.
__ADS_1
Hati Zifa serasa diremas mendengar pertanyaan putra bungsunya itu.
"Bukan sperti itu Dev, kamu tetep anak kesayangan momy. Nanti kalau ada adik Dev bisa ada temen main sama ngobrol biar Dev nggak kesepian" jelas Zifa.
Wajah bocah itu tetap masam.
"Dady, tulunin Dev" pintanya pada sang dady membuat Al menurunkan putranya dari ranjang.
Bocah itu berjalan keluar dari kamar orang tuanya karna pintu kamar itu belum ditutup.
"Dev, kamu kenapa? Sini gendong sama dady" Al hendak meraih tubuh putranya namun bocah itu menolak.
"Dev tidak mau" tolak Dev lalu kembali berjalan masuk menuju kamarnya.
Al masih mengikuti langkah mungil putranya itu.
"Kamu mau apa?" Tanya Al heran melihat putranya kembali naik ke ranjang.
"Padahal kan sudah pukul 6" pikirnya
Al menghela napasnya berat melihat putranya kembali memeluk guling dan tidur tanpa memperdulikannya.
Ia tau putranya pasti kecewa dan cemburu mendengar akan ada adik bayi.
Al ikut merebahkan tubuhnya dan memeluk tubuh mungil itu.
"Maafkan dady" bisiknya tak membuat bocah itu terusik.
Setelah itu, Al kembali ke kamarnya untuk memastikan keadaan istrinya.
Dan benar saja, terlihat Zifa menangis melihat sikap putranya yang terlihat tidak suka dengan kehadiran sang adik.
"Sayang, kenapa menangis? Jangan menangis, kasian anak kita nanti ikut sedih" Al mengusap lembut perut istrinya itu.
__ADS_1
"A apa aku salah dengan menghadirkannya Al?" Tanya Zifa lirih.
"Tidak sayang, kamu tidak salah. Mungkin Dev hanya butuh waktu untuk mengerti" kelas Al karna tak mungkin mengatakan bahwa Dev cemburu karena hal itu pasti akan membuat Zifa kembali kepikiran.