Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Kalian yang Egois


__ADS_3

"Dev, doain dady biar bisa sehat kayak dulu biar kita bisa kumpul sama sama lagi"


Beberapa jam kemudian, akhirnya Zifa dan putranya sudah tiba ditanah air.


Zifa melangkah lemas menuju kamarnya.


Ia segera menelpon mertuanya


"Halo ma"


"Iya nak, gimana kabarmu?"


"Zifa baik ma, mama gimana?"


"Mama baik juga"


"Gimana keadaan suamiku ma?" Tanya Zifa dengan suara sedikit bergetar.


"Al baru aja ditangani dokter, dia pasti bakal baik baik aja. Percaya deh"


"Zifa pengen kesana nyusulin Al ma"


"Nak, lebih baik kamu dirumah aja. Kasian Dev masih kecil. Lagipula Al pasti tidak mau melihatmu sedih. Jadi lebih baik kamu di indo saja menjaga Dev"


"Tapi Zifa nggak tenang ma kalo nggak lihat kondisi Al langsung"


"Percayalah, Al akan cepet kembali secepatnya. Kamu cukup doain aja ya. Mama sama papa bakal kasih semua yang terbaik buat Al"


Obrolan pun berlanjut,


Satu minggu kemudian, Zifa mendapat kabar bahwa kondisi Al sedikit memburuk.


Ia segera mempacking barangnya dan putranya kedalam koper kecil.


Ia juga sudah mengganti pakaian putranya.


Setelah semuanya siap, Zifa mendudukan putranya ke stroler dan juga menyeret kopernya.


"Zif, mau kemana?" Tanya mama Mia melihat anaknya sudah rapi sambil menyeret koper.


"Zifa mau nyusul Al ma, Al kritis lagi"


"Tidak, kamu jangan gegabah. Anakmu masih kecil. Rentan untuk perjalanan jauh, kau tidak boleh egois Zif" mama Mia mengingatkan.


"Ma, tapi Zifa tidak bisa seperti ini terus"


"Sebentar kalau gitu"


Mama Mia menelpon papa Bryan yang masih dikantor.


"Halo ma, ada apa?"


"Pa, ini anakmu nekat mau nyusul Al. Mama bingung harus gimana" lapor mama Mia.


"Tunggu papa dulu, papa pulang sekarang"


Panggilan pun berakhir


"Tunggu papa, dia sudah bersiap pulang"


"Enggak ma, nanti pasti papa nglarang Zifa. Aku nggak mau"


"Ada apa ini?" Seorang laki laki baru saja memasuki mansion besar itu.


"Zio, ini adikmu mau nyusul Al" adu mama Mia.


"Kak, Al kritis. Aku nggak bisa diem aja disiini"


"Kamu baru sadar setelah dia kritis?" Sindir Zio.


"Kak.."

__ADS_1


"Kau mau kesana naik apa?"


"Aku sudah memesan tiket pesawat"


"Kau mau naik peswat sendiri?" Tanya Zio lagi meyakinkan.


Zifa mengangguk yakin


"Tidak, aku tidak mengizinkanmu" tukas Zio.


"Terserah kalian mengizinkanku atau tidak. Yang jelas aku akan tetap kesana" kekeh Zifa hendak mendorong stroler.


"Pergilah, tapi jangan bawa Dev" ucap papa Bryan yang baru saja memasuki mansion.


"Tidak bisa, dia putraku. Kenapa kalian malah mengatur hidupku" kesal Zifa.


"Ini semua demi kebaikanmu"


"Kebaikan apa yang kalian maksud? Dengan melihat suamiku pulang dalam keadaan sudah tidak bernyawa hahh?!" Amarah Zifa memuncak karna merasa terkekang.


"Kau jangan egois.."


"Kalian yang egois! Jika kalian diposisiku bukanlah akan melakukan hal yang sama hahh?!" Potong Zifa.


Semua diam tak menjawab ucapan Zifa yang memang benar adanya.


"Aku yang akan mengantarmu kesana" putus Zio.


"Tidak, aku tidak mau membuat kalian repot. Urus saja pekerjaan kalian yang paling penting itu" sinis Zifa melangkahkan kakinya beranjak pergi.


"Jangan berani keluar dari mansion satu langkahpun jika kau masih mau dianggap anakku!" Suara papa Bryan menghentikan langkah Zifa.


"Cihh bukankah sudah terlihat siapa yang paling egois? Baik, aku akan memilih pergi" sinis Zifa melanjutkan langkahnya.


Dengan penuh emosi Zifa keluar dari mansion megah itu.


Baru sampai halaman depan, langkahnya terhenti saat tangannya dicekal.


"bagaimana dengan istrimu kak?"


"Nanti aku akan menjelaskan padanya"


Merekapun melanjutkan langkahnya menuju mobil Zio.


Mobil melaju menuju landasan penerbangan pribadi keluarga hendrawan.


"momy, kita kemana?" tanya bocah itu bingung karna menggunakan pesawat.


"kita ketemu dady"


"dady?" wajah Dev langsung tersenyum sumringah.


"dady sudah tidak kerja momy?" tanya nya.


"iya, dady sudah tidak bekerja"


Setelah menempuh perjalanan belasan jam akhirnya mereka sampai dinegara A.


Zio lebih dulu memesan hotel terdekat dari rumah sakit tempat Al dirawat.


"Lebih baik kita istirahat dulu" usul Zio.


"Enggak kak, tolong jaga Dev sebentar. Aku akan kerumah sakit sekarang" kekeh Zifa.


"Kau jangan gegabah, istirahatlah dulu" titah Zio tak terbantah.


"Tapi kak.."


"Kenzifa Hendrawan!"


Zifa terdiam,,

__ADS_1


Keesokan harinya, akhirnya Zifa datang kerumah sakit bersama putranya tak lupa dengan Zio yang terus mendampingi sang adik.


Zifa melihat mertuanya duduk diluar ruang rawat suaminya itu.


"Mama, papa"


"Ya ampun nak, kamu kesini?"


Zifa mengangguk


"Gimana keadaan Al ma?"


"Al sudah kembali stabil. Tapi masih belum sadar" terang mama Tasya.


"Apa Zifa boleh masuk?"


"Masuk saja"


Zifa pun memasuki ruang rawat itu. Wajahnya berubah sendu melihat suaminya terbaring lemah dengan wajah pucatnya itu.


"Dev, ini Dady. Lihatlah, dia tidak mau menyapamu" Zifa mengarahkan tangan putranya agar menyentuh pipi Al.


Melihat putranya yang malah menepuk nepuk pipi Al membuat Zifa menjauhkan putranya itu.


"Jangan ditepuk, dady pasti kesakitan"


"Dady?"


"Heem, dady" Zifa mengangguk


Seharian sudah Zifa habiskan untuk mengobrol dengan putranya didepan Al yang masih terbaring dengan mata terpejam.


"Nak, ini udah mulai petang. Sebaiknya kamu kembali ke apartemen" saran mama Sofi.


"Enggak ma, Zifa mau disini nemenin Al"


"Nak, tapi.."


"Biarkan saja Zifa disini. Siapa tau semangat hidup Al bertambah melihat istrinya" usul papa Farhan.


Pagi hari,


Dev sudah segar setelah dimandikan oleh momynya. Sebelum mandi tadi pun bocah itu sudah memakan sarapannya.


"Dady" tunjuk Dev pada Al yang masih setia memejamkan matanya.


"Iya, dady masih tidur. Dev main berdua aja sama momy" ucap Zifa.


Bocah itupun memainkan mainannya yang baru saja dibelikan oleh Zio.


Setelah 1 jam bermain, bocah itu tiba tiba berjalan mendekati sang momy dan menunjuk nunjuk dada Zifa.


"Anak momy haus ya? Uluh uluh, sini minum cucu dulu" Zifa merengkuh putranya itu kedalam pangkuannya.


Ia segera membuka kancing bajunya dan mulai menyusui putranya itu.


Ia menatap wajah teduh bocah itu. Tiba tiba setetes air mata meluncur melewati pipi wanita cantik itu.


"Bagaimana jika nanti anakku tumbuh tanpa seorang dady?" Batinnya.


"Sa yang" suara lirih dan lemas memanggil Zifa.


"Ya ampun Al, kamj udah sadar" Zifa reflek berdiri membuat putranya itu menangis dan kaget hingga sumber minum bocah itu terlepas dari mulutnya.


"Cup cup cup, maafin momy" Zifa kembali menenangkan putranya.


Ia menggendong putranya itu dengan posisi Dev masih menyusu pada Zifa.


"Syukurlah kamu udah sadar, mana yang sakit Al?"


Al hanya menggeleng lemas. Pandangannya terus saja mengarah pada putranya itu.

__ADS_1


"Dev, udah ya minumnya. Ini cium dady dulu" Zifa melepaskan lembut mulut Dev dari dadanya.


__ADS_2