Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Rio, Tolong!!


__ADS_3

"Tidak sayang, kamu tidak salah. Mungkin Dev hanya butuh waktu untuk mengerti" kelas Al karna tak mungkin mengatakan bahwa Dev cemburu karna hal itu pasti akan membuat Zifa kembali kepikiran.


"Berapa usianya?" Tanya nya mengusap perut sang istri.


"6 minggu" jawab Zifa membuat Al tersenyum.


"Anak dady sehat sehat ya disana. Jangan buat momy susah. Dady menunggumu lahir dengan sehat" ucap Al berbicara pada perut sang istri.


"Cepatlah mandi, kita sarapan bareng" pinta Al membuat Zifa mengangguk patuh.


Kekesalannya semalam menguap begitu saja.


Al keluar dari kamar untuk melihat putranya.


Dan terlihat putranya itu sedang menggambar di buku. Bisa dipastikan berarti tadi putranya hanya menghindarinya.


"Dev, ayo mandi dulu nak. Habis itu sarapan"


Dev mendongak


"Iya dad" bocah itu berjalan menuju kamar mandi.


"Ayo dady bantu" ucap Al ikut masuk ke kamar mandi. Padahal biasanya yang memandikannya adalah sang momy.


"Dev sudah besal dad" protes bocah itu.


"Siapa bilang Dev sudah besar? Dev masih kecil buat dady. Dev kan anak kesayangan dady" hibur Al pada putranya membuat senyum Dev kembali terbit.


"Dev mau mandi sama dady aja" ucap bocah itu antusias.


Al segera memandikan putranya itu lallu memakaikan pakaian untuk Dev.


"Ayo kita ke meja makan" Al menggendong tubuh putranya dan membawanya ke lantai bawah.


Zifa memandang sendu pada putranya yang tengah berada digendongan Al sambil berbicara pada dady nya sepanjang kaki Al menuruni tangga.


"Sini, biar momy yang suapi Dev" Zifa mendekat menyodorkan sendok berisi nasi.


Bocah itu menggeleng

__ADS_1


"Dev mau makan sendili" tolak bocah itu membuat Zifa kembali menatap sendu putranya.


"Kenapa tidak mau disuapi momy? Hmm?" Tanya lembut.


"Dev sudah besal"


"Dady, Dev mau sama opa" pintanya.


"Opa siapa? Opa Bryan apa opa Farhan"


"Opa falan" ucap bocah itu cedal.


"Iya nanti dady anter ke rumah opa farhan"


Zifa semakin sedih melihat putranya yang enggan berada didekatnya.


"Dev tidak mau mengajak momy?" Tanya Zifa sendu.


"Momy mau?"


Zifa mengangguk


"Tentu saja momy mau"


Usia kandungan Kayla baru menginjak 32 minggu.


Hari ini Rio tidak masuk kerja. Entah mengapa perasaannya tidak enak dari tadi.


"Rio kenapa tidak berangkat kerja?" Tanya Kayla heran.


"Entahlah, aku sedang malas ke kantor. Aku mau mengerjakan pekerjaanku di rumah saja"


Kay mengangguk mengerti


"Ayo kita sarapan dulu"


"Kamu duluan, aku mau cek email dulu sebentar. Dan ingat, lewat lift jangan lewat tangga"


"Iya iya suamiku yang bawel" decak Kay.

__ADS_1


Di meja makan, mama Tasya memandangi menantunya yang berjalan menuju meja makan.


"Nak, jangan pakai sendal itu. Pakai yang bahan karet saja. Itu licin" mama Tasya memperingatkan.


"Iya ma, nanti Kay ganti"


Makan malam pun dimulai,


"Sayang, kamu mau kemana?" Tanya Rio melihat istrinya beranjak.


"Ke kamar mandi, mataku terkena percikan cabai" Kay buru buru berjalan menuju kamar mandi.


"Sayang, hati hati"


Beberapa menit kemudian,


"Arghhh Rioo tolongg" teriak Kay membuat Rio langsung menyusul istrinya ke kamar mandi dekat dapur.


Rio kaget melihat istrinya sudah duduk dengan darah mengalir diarea pahanya.


"Rio, tolong sakit" lirih Kay dengan air mata yang sudah mengalir.


Rio mwmbopong istrinya menuju depan mansion.


"Pak, siapkan mobil cepat!" Titah Rio pada supir.


Sepanjang perjalanan Kay terus menangis. Wajahnya mulai pucat mungkin efek talut dan kekurangan pasokan darah.


Dirumah sakit,


Dokter langsung menangani Kay


"Suami nyonya Kayla" panggim dokter itu.


"Iya saya dok"


"Ayo ikut masuk kedalam ruangan"


Rio memasuki ruang rawat Kay yabg menampakan istrinya masih menutup matanya.

__ADS_1


Dokter itu menghela napasnya berat membuat Rio cemas.


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya dok?" Tanya Rio sembari mengusap dahi istrinya.


__ADS_2