Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Kekhawatiran Kay


__ADS_3

"Baiklah"


"Istirahatlah, sudah malam"


Kay segera berbaring lalu memejamkan matanya.


Ke esokan harinya,


Tepat pukul 11 siang Kay berangkat menuju dokter kandungan langganannya.


Ia sendirian, terkadang mama Tasya menemaninya. Tapi kali ini mama Tasya sedang ada acara jadi Kay sendirian ke dokter.


Baru Kay masuk ke lobi rumah sakit, handphone nya bergetar.


"Rio?" Gumamnya menatap nama kontak penelpon.


"Kau dimana?"


"Ini baru masuk rumah sakit?"


"Sama mama?"


"Enggak"


"Terus sama siapa?"


"Sendiri"


"Tunggu aku 10 menit lagi sampai. Aku sedang diperjalanan" pesan Rio.


"Iya, aku menunggumu"


Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Rio datang.


"Ayo" ajak Rio menarik lengan istrinya lembut.


Kay mengikuti langkah suaminya itu.


"Gimana dok?" Tanya Kay penasaran dengan kondisi anaknya.


"Cukup baik, kontrol kali ini tekanan darah anda stabil. Tapi tetap saja masih belum aman karna bulan ini anda sudah 4 kali masuk rumah sakit. Jangan terlalu memikirkan hal hal tertentu nyonya. Anda harus merileks kan pikiran anda agar tidak stress"


"Baik dok"


"Jenis kelaminnya apa dok?" Tanya Rio penasaran.


"Jangan diberi tahu dok" sela Kay.


"Loh kenapa?" Rio bertanya tanya.


"Tidak apa apa, aku mau ini jadi surprize untuk kita berdua"


Rio mengangguk paham


"Ya udah nggak papa"


"Oh ya dok, apakah bisa melahirkan normal?"


"Begini nyonya, anda memiliki riwayat caesar satu tahun yang lalu. Ditambah lagi preekslampsia anda lumayan parah dan utamanya baru satu tahun lalu anda melakukan transplatasi ginjal. Jadi sangat beresiko. Resiko utamanya pendarahan hebat"


"Terus kalau caecar gimana dok? Kan baru kemarin caesar. Darahku juga sering nggak stabil?" Ke khawatiran Kay muncul.


"Nanti kami tim dokter pasti akan memberi jalan terbaik. Untuk sekarang anda hanya perlu menjaga mood anda agar tekanan darahnya stabil. Nanti jika sudah mendekati waktunya, saya akan buatkan jadwal operasinya agar anda lebih siaga"


Kay mengangguk paham


"Oh ya dok, kami kan rencana mau ngadain acara tujuh bulanan lagi dok. Menurut dokter gimana?" Tanya Rio meminta saran.


"Kapan?"


"Mungkin 2 mingguan lagi dok"

__ADS_1


"Tidak apa apa asalkan jangan terlalu kelelahan"


"Kalau mau babymoon gimana dok?" Tanya Rio lagi.


"Perjalanan jauh?"


"Saya sih pengennya keluar negeri dok"


"Maaf tuan, kalau keluar negeri belum boleh. Kondisi nyonya Kayla tidak menentu jadi sangat tidak dianjurkan. Maksimal luar kota saja agar tidak terlalu beresiko"


"Ohh baik dok"


Setelah selesai konsultasi, Kay dan Rio keluar dari ruangan itu.


"Kamu mau balik ke kantor kan?"


"Kenapa emamg?"


"Aku mau pesen taksi online. Soalnya tadi aku udah suruh pak supir pulang"


"Aku anter aja"


"Yakin?"


Rio mengangguk


Kay menurut karna menurutnya memang paling aman bersama suaminya.


Di mobil,


"Mau makan siang sekalian nggak?"


"Boleh"


"Makan apa?"


"Aku mau makan di mall aja" pinta Kay.


"Aku mau beli buah buahan dulu"


Rio memandangi istrinya yang sedang berjalan didepannya itu.


tatapannya berubah sendu saat mengingat ucapan dokter tadi yangs eolah menampar harga dirinya sebagai seorang suami yang tak becus menjaga istrinya.


apalagi ia menyesal semua ini terjadi diluar kendalinya.


tatapannya berubah nanar kala melihat tubuh istrinya itu. memang sudah tak sekurus dulu. namun tetap saja, tubuh Kay masih tergolong kecil untuk ukuran ibu hamil.


walaupun justru banyak orang diluaran sana yang memuji badan Kay yang tetap terjaga meski sedang hamil, namun Rio tak bisa menutup mata begitu saja jika ini semua berdampak buruk pada istrinya itu.


"apa suatu hari nanti aku harus mengorbankan salah satu dari mereka?" pertanyaan yang selalu terbayang bayang diotak Rio.


jujur saja ia takut kehilangan keduanya, baik istri maupun anaknya.


Setelah makan siang selesai, Rio mengantarkan istrinya pulang.


Dua minggu kemudian,


Hari ini hari perayaan tujuh bulanan untuk Kay. Seperti 2 tahun sebelumnya, hanya ada keluarga yang hadir diacara itu.


"Kau senang?" Tanya Rio.


"Ya aku sangat senang. Tapi badanku lelah sekali" keluh Kay dengan wajah yang sudah pucat.


"Ya sudah kita langsung ke kamar aja" Rio merengkuh pundak istrinya.


Baru sampai didepan pintu kamar, handphone Rio yang ada di sakunya berdering.


Rio melepaskan rengkuhannya, ia berfikir istrinya pasti bisa berjalan jika hanya tinggal masuk ke dalam kamar.


Namun dugaannya salah,

__ADS_1


Justru Kay malah merosot ke tanah karna tubuhnya yang tiba tiba melemas.


"Ya ampun Kay, kamu kenapa?" Rio kembali mengantoki handphonenya dan beralih mengangkat sang istri dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Aku panggil dokter ya?" Tawar Rio membuat Kay mengangguk.


"Rio, aku mau muntah" pinta Kay berusaha bangun.


Dengan sigap pria itu membantu Kay ke kamar mandi untuk memuntahkan makanannya.


"Keluar saja" pinta Kay dengan satu tangan menutup mulut sedangkan tangan satunya berpegangan pada pinggiran wastafel itu.


"Tidak, aku akan tetap disini" tegas Rio.


Bagaimana ia bisa tega meninggalkan istrinya jika hanya berdiri saja Kay masih mengandalkan tangan Rio yang merengkuh pinggangnya.


Huekk


Kay memuntahkan makanannya hingga kepalanya berdenyut nyeri.


"Sudah?" Tanya Rio membuat wanita hamil itu mengangguk.


Pria itu kembali membawa istrinya ke atas ranjang lalu segera menelpon dokter.


Setelah 30 menit menunggu akhirnya dokter datang.


Dokter itu langsung memeriksa Kay yang sudah terbaring lemah diranjang.


"Tuan Rio, sebaiknya nyonya Kayla di infus dirumah sakit karna saya tidak membawa perlengkapannya" saran dokter itu.


Rio mengangguk setuju,


Pria itu membopong istrinya menuju mobil membuat para keluarga yang belum pulang heboh. Mama Tasya menenangkan para kerabatnya dan mengatakan bahwa pasti Kay akan baik baik saja.


Sesampainya dirumah sakit, Kay langsung di infus.


"Makan ya? Aku pesenin makanan dulu"


Kay mengangguk karna memang ia merasa lapar.


"Mau makan apa?"


"Apa aja yang penting sayur"


Rio mengangguk paham,


Pria itu menelpon chef rumahnya agar mengantarkan makanan sesuai permintaan Kay.


Beberapa saat kemudian ada satu maid datang membawakan makanan pesanan Rio.


"Makan dulu ya?"


Kay mengangguk


Rio menyuapi istrinya yang masih terbaring lemah.


"Kenapa kamu selalu membuat mamamu kesusahan?" Rio mengusap perut buncit istrinya.


"Sakit nggak?" Tanya Rio karna anaknya terus bergerak.


"Enggak "


"Anak papa sehat sehat terus ya, jangan nyusahin mama. Papa tunggu kamu lahir di dunia"


Hati Kay berdesir mendengar ucapan Rio.


"Apa aku boleh pulang setelah ini?"


"Belum boleh, dokter bilang lusa kau baru boleh pulang. darahmu drop parah, anak kita juga sedikit bermasalah. jadi dokter menyarankan rawat inap"


Kay menghela napasnya

__ADS_1


"Kenapa memangnya?" Tanya Rio heran.


__ADS_2