
"Good night my wife" gumamnya membuat Zifa menggeliat membuka mata.
"Kau sudah pulang?"
"Iya, kembalilah tidur. Aku juga akan tidur" Al mengusap lembut pipi istrinya.
Siapapun yang diperlakukan seperti itu oleh seorang pria tampan dan mapan seperti Al pasti akan langsung terbang ke nirwana. Namun hal itu tak berlaku bagi Zifa.
Zifa pun kembali memejamkan matanya sedangkan Al langsung berbaring disofa.
Pagi hari,,
Al lebih dulu bangun dan segera membersihkan dirinya.
Bibirnya menyunggingkan senyum saat melihat sang istri belum bangun padahal ia sudah bersih dan wangi.
"Sayang bangun" Al mengecupi pipi wanitanya itu.
"Hmm" Zifa menggeliat dan membuka matanya.
Cupp
Satu kecupan Al berikan dibibir wanita cantik yang menyandang status sebagai istrinya itu.
"Morning kiss"
Zifa duduk dari pembaringannya
"Cepat pakai bajumu sana!" Usir Zifa saat melihat suaminya hanya memakai handuk sebatas pinggang.
"Sayang, apa kau tidak ingat ini hari apa?"
Zifa terdiam sesaat
"Sabtu"
"Jadi? Apa yang kau ingat tentang hari sabtu?" Pancing Al lagi.
"Laporan keuangan perusahaan"
__ADS_1
"Bukan yang, ini jadwalku memproses anak kita" goda Al.
"Ish, minggirlah dulu" usir Zifa lagi.
"Bagaimana kalau aku bilang tidak?"
Belum sempat menjawab Zifa lebih dulu dicium oleh suaminya.
Al melepas ciuman itu saat merasa istrinya mulai kehabisan stok oksigen.
Ia langsung menindih tubuh istrinya dan mulai melancarkan aksinya.
"Al, sakit Al" rintih Zifa karna baru kedua kalinya suaminya menyentuhnya.
"Maaf sudah menyakitimu" Al menciumi wajah wanitanya itu.
"Sudah mendingan kan?" Tanya Al membuat Zifa mengangguk.
Merekapun melanjutkan kegiatannya
Tepat pukul 10 pagi
Zifa mencoba melepas tangan pria itu yang ada di pinggangnya.
"Kau sudah bangun?" Tanya Al sambil menciumi puncak kepala istrinya.
"Lebih baik kau izin tidak masuk kerja saja, lagian ini sudah pukul 10"
"Tidak bisa, aku ada meeting penting pukul setengah dua siang nanti"
"Hmm baiklah" Al kembali mengeratkan pelukannya itu.
"Al lepaskan aku mau mandi" rengek Zifa lagi.
"Baiklah kita mandi bersama" Al menggendong tubuh polos istrinya dan meletakannya di bathup.
"Kau mau apa?" Pekik Zifa saat melihat suaminya ikut masuk ke vath up itu.
"Mandi bersama lah, apalagi?"
__ADS_1
"Tapi..."
"Sttt, ikuti saja" jawab Al lalu segera mencium bibir istrinya lagi.
Tangannya sudah meraba tak terkendali.
"Sayang, sekali lagi ya" pinta Al.
"Tidak aku nanti ada meeting penting" tolak Zifa.
"Masih pukul setengah dua siang kan" kilah Al.
"Tapi.."
"Sekali lagi ya, pliss" pinta Al sungguh sungguh hingga akhirnya Zifa mengangguk mengiyakan.
Setelah selesai, Al merebahkan istrinya yang masih terkulai lemas itu diatas ranjang.
Ia mengambilkan pakaian sang istri.
"Pakai ini dulu"
Zifa pun segera memakai pakaian itu. Ia berjalan dengan langkah gontai menuju depan meja rias.
Al memeluk istrinya dari belakang dan kembali mencium puncak kepala istfjnya.
"Dokter bilang hari ini adalah masa suburmu. Semoga saja dia cepat tumbuh diperutmu" Al mengusap perut istrinya itu
"Minggir sana, aku risih" kesal Zifa dengan suaminya.
"Oke oke aku minggir"
Beberapa saat kemudian,
"Ayo kita makan siang dulu, aku tau kau pasti lapar"
"Itu kau tau" sewot Zifa.
"Maafkan aku sudah membuatmu melupakan sarapan pagi kita" Al merengkuh pinggang wanita itu.
__ADS_1